EKSTRA BAB

3.2K 130 29
                                        

Halo!

Apa kabar kalian semua?

Masih ada yang buka BAB ini?

Kalau yang kangen dengan cerita ini ada kah?

Tahu cerita ini dari mana coba?

Sebelum lanjut ke EKSTRA BAB bolehlah mampir ke:

Instagram: @azkaazkiaaa21
Tiktok: @wpkia_

Kalau mau di follow sekalian, wah boleh banget! Follback bisa DM.

Oke, Happy Reading!

-----

Tampak dari kejauhan Gibran dengan setelan jas yang ia kenakan, mendekat ke arah seorang perempuan dengan gaun merah yang melekat di tubuhnya. Tangannya membawa satu buket bunga mawar merah, sementara pandangannya hanya terfokuskan pada perempuan itu yang tak lain adalah Sherin.

Mereka berdua tengah berada di halaman rumah Gibran. Di temani semilir angin malam serta cahaya bulan dan bintang yang saling beradu.

Bukan tanpa alasan Gibran mengajak Sherin ke rumahnya, melainkan ada maksud dan tujuan tertentu. Berhubung Sherin merasa dirinya tidak ada kegiatan, ia mengiyakan ajakan kakak kelasnya itu sore tadi.

Sebenarnya bukan hanya Sherin saja yang diminta ke rumahnya, melainkan Gibran juga mengundang keempat orang terdekatnya. Namun, Gibran meminta mereka untuk datang di jam setengah delapan malam, yang artinya lima puluh menit dari sekarang.

"Katakan sekarang aja, Kak," ujar Sherin seraya menahan sesuatu yang akan keluar dari matanya.

Gibran mengembuskan napasnya. "Mungkin perkataan saya ini akan terkesan mendadak bagi Anda, tetapi memang seperti inilah kenyataannya. Jika saya mencintai Anda apa adanya dan saya tulus mengajak Anda untuk berkomitmen bersama saya."

Perlahan Gibran menyerahkan bunga di tangannya kepada Sherin. "Terima bunga ini jika Anda bersedia menerimanya dan apa pun keputusan Anda, saya terima karena itu hak Anda. Namun, egois kah saya berharap bahwa Anda menerimanya?"

Dengan tangan gemetar, keringat yang mengalir di pelipis. Sherin menerima bunga itu. Ia tersenyum ke arah Gibran, walau sebenarnya hatinya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.

"Selamat buat kalian berdua, kalian memang cocok."

Spontan Gibran dan Sherin menoleh ke arah pintu gerbang, di mana terlihat Arinta yang datang dan menjatuhkan sebuah kotak di tangannya.

"Ta, tapi in—" Perkataan Sherin terhenti kala melihat Arinta yang pergi begitu saja.

"Kak Gibran kenapa masih di sini? Kejar dong! Oh, ya ini bunganya." Sherin mendorong Gibran untuk mengejar Arinta setelah menyerahkan kembali bunga yang sempat ia pegang.

Kepergian Gibran membuat Sherin menumpahkan air matanya yang ditahannya sejak tadi. Tak hanya itu saja, ia juga menjatuhkan tubuhnya merasakan sakit yang sesungguhnya.

Sementara seseorang dengan pakaian serba hitam berada di hadapan Sherin dan membantunya untuk berdiri.

"Kenapa lo nangis? Bukannya lo seneng karena akhirnya Gibran nyatain perasaan dia ke lo?"

Melihat Sherin terdiam, membuat Reyhan dengan paksa menggendong Sherin dan membawanya keluar. Orang tadi memang Reyhan, yang melihat pemandangan menyakitkan di depannya. Tepat saat Gibran menyatakan cintanya pada Sherin.

"Jawab gue!"

"Aku nggak apa-apa kok, Kak Rey. Soal tadi itu cuma bohongan."

Kedua alis Reyhan refleks terangkat. "Bohongan maksud lo?"

"Iya bohongan, Kak. Sebelumnya Kak Gibran minta aku buat jadi percobaan biar dia nggak terlalu nervous."

"Percobaan apa lagi?"

"Hari ini, Kak Gibran mau nyatain perasaannya ke Arinta, sekalian ngajak buat saling berkomitmen." Sherin mengatakan itu sambil menghapus air matanya dan berusaha ikhlas. Memang melepaskan adalah hal yang sulit baginya. Namun, akan lebih menyakitkan jika ia tetap bertahan.

Perjuangan dan penantian yang selama ini Sherin lakukan tak ada artinya dan terbuang sia-sia. Perasaan yang terpendam tak terbalas karena pada akhirnya Gibran menentukan pilihannya sendiri dan itu kepada sahabat dekatnya.

"Dan lo mau?"

Sherin mengangguk sekali.

Reyhan melakukan pergerakan yang membuat Sherin kaget, di mana ia memukul gerbang rumah Gibran dan berujung darah mengalir di sana.

"Kenapa lo mau, hah! Itu sama aja lo nyakitin perasaan lo sendiri, Rin! Gue nggak habis pikir sama lo. Apalagi sama cowok berengsek kayak Gibran! Dia udah mainin perasaan lo, Rin dan gue nggak terima itu!"

Reyhan terlihat sangat emosi, tetapi dengan cepat Sherin meredakannya dengan memeluk erat.

"Aku mohon, Kak Reyhan jangan apa-apain Kak Gibran, ya? Dia berhak nentuin pilihannya sendiri. Aku bahagia kok, asal Kak Gibran juga bahagia."

"Tapi, setidaknya cowok berengsek itu nggak jadiin lo bahan percobaan kayak tadi, hah! Apa dia nggak mikirin perasaan lo? Perjuangan yang lo lakuin selama ini? Bahkan sampai lo koma dan nggak bisa jalan! Apa itu semua nggak ada artinya di ma—"

"Stop, Kak!" bentak Sherin setelahnya menampar Reyhan.

Ini adalah kali pertama Sherin melakukan hal itu, ia lantas memalingkan wajahnya dengan air mata yang masih mengalir.

"Tampar gue lagi, Rin! Gue tetep nggak terima lo diginiin sama cowok berengsek itu!"

Sherin menatap Reyhan lekat. "Maaf, Kak. Nggak seharusnya aku menampar Kak Reyhan tadi, tapi aku mohon berhenti panggil Kak Gibran dengan sebutan yang nggak pantas sama sekali. Kak Gibran bukan orang yang seperti itu, emang akunya aja yang terlalu berharap sampai aku nggak sadar yang aku lakuin selama ini, itu salah besar."

"Nggak salah gue kenal sama lo, Rin."

Kali ini, giliran Reyhan yang memeluk Sherin. Membawa ke dalam dekapannya seraya menjadi tepat Sherin menumpahkan kesedihannya. Sebelum akhirnya dua orang yang juga diundang Gibran datang dan terpaksa pelukan itu berakhir.

"Kalian berdua lagi ngapain?"

.
.

Singkat banget, ya? Hehehehe sengaja.

Tempat menumpahkan kekesalan dan umpatan kalian pada Gibran 👉👉👉

Kalau ada di posisi Sherin kalian bakalan gimana?

Harus ikhlas dong, ya! 😁

Di sini aku mau ucapin terima kasih banyak buat kalian yang udah berkunjung ke cerita ini. Semoga kalian suka, ya! Kalau enggak juga gpp.

Seperti kata Sherin tadi. "Semua orang berhak menentukan pilihannya." Dan kalian juga memiliki hak yang sama.

Ambil yang positif, buang aja yang negatif misal sifat Deni yang playboy atau ibu, ralat almarhum ibunya Arinta yang bahas dendam dan lain-lain.

Terima kasih juga buat KeluargaSupport yang mengajariku banyak hal. Asekkk 💟

Pokoknya terima kasih buat kalian semua!!!

Ekhem! Bentar, mau ada Sequel / spin off (Sherin Reyhan) / nggak usah?

👉👉👉👉👉👉👉👉👉👉👉👉

______________________________

See you guys !!! 🤧

Formal Boy (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang