Rachel mengotak-atik pistolnya tidak sabaran, dengan perasaan yang sangat kesal, dia melempar pistol dengan harga selangit itu ke tembok, menimbulkan bunyi pecahan yang terdengar sampai keluar ruangan.
"Gila! tahan emosi lo." Arthur masuk, menatap melas pada pistol mahal itu.
"Lo tahu? dia udah kelewatan." Rasanya mati rasa kalau Rachel marah-marah terus, kemudian dia duduk di ujung meja.
Arthur mendekat, "iya tapi, lo buktiin dulu kalau emang dia yang buat kekacauan itu."
Rachel memejamkan matanya sebentar, "Gara yang bilang ke gue dulu, terus buat apa gue jagain Bara kalau bukan karena dia."
"Tapi lo harus ada bukti."
"Iya, gue tahu."
"Kita tunggu aja, rencana apa lagi yang bakal dia lakuin, buat hancurin Bara." Tambah Rachel, berjalan ke sisi lemari koleksi pistolnya.
Arthur mengangguk setuju, "gue tahu lo nggak akan diem aja."
"gue juga tahu, pasti dia nggak akan berhenti sampe disitu buat hancurin Bara."
Rachel menghela nafas, dia memang harus mengawasi Bara kapanpun, tapi, kalau Bara nya bebal sama saja percuma bukan?
Arthur berbalik arah hendak keluar, perkataan Rachel yang menyuruhnya untuk memanggil Ailen dan Jun ia lakukan.
"Apa yang bisa kami lakukan?"
"Tolong awasi seseorang dengan nama Rengga."
"Renggana?" Itu pertanyaan dari Jun, sempat tidak asing dengan namanya tapi dia lupa.
Rachel mengangguk, "bisa dimulai dari sekarang?"
Ailen dan Jun mengangguk patuh, mereka tahu Rachel sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik, cewek itu akan menyuruh siapa saja dan secepat mungkin untuk melakukannya yang akan membuatnya puas.
"Bawa ini bersama kalian, laporkan informasi sekecil apapun pada saya."
Rachel mengambil 2 pistol di lemari yang tadi ia buka lalu melemparkannya pada Ailen dan Jun, mereka berdua keluar diikuti Rachel, tak lupa ia juga mengunci ruangan itu terlebih dahulu dan memberikannya pada Arthur.
"Gue balik, besok masih harus ke sekolah jagain Bara." Rachel mengambil kunci di meja yang tengah digunakan oleh Arthur, Remon dan yang lainnya bermain uno.
"Ati-ati di jalan." Perhatian banget Remon, pikir Rachel, tapi basi, dia lagi bad mood, pengin liat mukanya Bara.
®©
Rachel mempercepat langkah kakinya saat tiba dikelas tapi tidak menemukan Bara, yang ia temui hanya Altan, Johan, dan teman sekelas cowok itu, Johan bilang Bara di UKS sejak tadi pagi.
Dia membuka pintu UKS perlahan, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya saat melihat seorang dokter UKS yang hendak keluar, "mau liat Bara?" tanyanya, Rachel mengangguk lalu di dipersilahkan untuk masuk.
Rachel duduk disalah satu ranjang UKS, kemudian membuka sedikit gorden pembatas yang ditempati Bara.
"Saya tahu dari Johan kamu disini."
"Kenapa? pusing?"
"Jangan ajak gue ngomong." Rachel menaikan satu alisnya, lah kenapa?
Bara membernarkan posisinya duduknya menyender di ranjang UKS dengan dua tangannya sibuk bermain game online di handphone.
"Gue lagi nge-game, diem dulu." Katanya memerintah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bodyguard For Bara
Teen FictionMungkin bagi kebanyakan anak SMA masa-masa SMK jauh dari kata baik, padahal jika dibandingkan masa SMK jauh lebih menantang dan mengasikan. Seperti halnya kehidupan seorang Rachel Clandistiane, gadis berparas cantik dengan tatapan elangnya mengabdi...
