"Bar, lo harus tahu kalau Ra-" ucapan Reyhan terhenti ketika pintu ruangan Bara terbuka, menampilkan sosok Rachel yang baru saja Bara tanyakan.
Altan melirik Reyhan sekilas, "Bar, kita susul Johan ke kantin, takut kelamaan," lalu siluet Altan dan Reyhan langsung pergi keluar begitu saja.
"Lama banget, gue tungguin dari tadi," halah.
"Saya ada urusan,"
"Urusan apa yang lebih penting dari gue?" Kata Bara, pengin banget diperhatiin, hng.
"Banyak, sampai nggak bisa dihitung." Rachel duduk di kursi sebelah brankar yang ditempati Bara.
Bara bangun, lalu duduk menyila di atas brankar," gue bantu hitung."
"Urusan pertama lo, gue, kedua gue, ketiga pribadi, keempat keluarga, kelima temen, keenam, balik lagi nomer satu sampai nomer due,"
Rachel terkekeh, "gue-nya banyak banget,"
"Biarin," Bara mengambil bingkisan kresek yang dibawa Rachel lalu membukanya.
"Bawa cake? sama milk tea, green tea?" Tanya Bara.
Rachel mengangguk, "saya hafal nya cuma itu,"
"Emang gue sukanya cuma itu,"
"Kalau gitu, saya pamit." Rachel berdiri hendak pergi, tidak jadi ketika Bara menahan tangannya.
"Lo nggak mau temenin gue disini?"
"Sebentar lagi Altan dan yang lainnya datang," ujar Rachel.
"Terus lo nggak mau jagain gue, kalau mereka belum balik-balik?"
Rachel menggeleng,"saya sudah dipecat, kalau kamu ingin tahu."
"Yang pecat lo bokap gue, bukan gue." Bara melepas tangannya yang mencekal pergelangan tangan Rachel.
"Terima segala keputusan beliau, dan nikmati kehidupanmu tanpa saya."
"Nggak! gue nggak mau, udah dipecat ataupun belum lo harus selalu sama gue!" Bara pemaksa, Rachel tahu itu, mirip sekali dengan Gara.
"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Rachel, dia hanya ingin tahu reaksi Bara setelah dia dipecat.
Rachel rasanya pengin ketawa aja sekarang karena seruan Bara barusan, boleh peluk orangnya ga sih?
®©
"Jadi?"
"Maksud kedatangan saya kesini, mungkin anda sudah tahu," kata Rachel.
"Bayaran, benar begitu?" Tuan Barta mengambil kertas kontrak di mejanya dan mendekatkan ke Rachel.
"Tanda tangani berakhirnya kontrak ini terlebih dahulu," Rachel mengangguk, langsung tanda tangan pada kertas kontrak yang baginya tak penting itu.
"Bisa jelaskan, saya hanya punya waktu 30 menit, sebelum pertemuan kolega." Tuan Barta mengecek jam dipergelangan tangannya, waktu adalah emas.
Rachel terkekeh kecil,"tentu, saya khawatir jam itu akan mengejek anda karena menyia-nyiakan waktu."
"Cerdas sekali kamu." Tuan Barta tahu, maksudnya setiap dentingan jarum sama saja bunyi ejekan yang mungkin akan semakin cepat jika ia menyia-nyiakan nya.
"Saya tidak masalah dipecat, selagi anda masih bisa mengizinkan saya untuk mengawasi serta menemui Bara."
Tuan Barta mengernyitkan dahinya, "apa karena, Gara?" Jelas, dia tahu siapa Rachel, dan seluk beluk kehidupannya.
"Apakah izin itu sungguh penting?" Tanya beliau lagi, dia tahu Rachel memang sangat profesional, remaja itu bahkan harus repot-repot ke kantor hanya demi sebuah kata izin.
"Tentu saja." Rachel hanya ingin itu, tidak lebih.
"Jadi, bayaran yang kamu minta hanyalah sebuah "izin"?" Tuan Barta terkekeh, bayaran macam apa itu?
"Kalau dikasih lebih, saya nggak nolak." Kalau kata Johan sih, dih ngelunjak!
"Buktikan kalau kamu mampu jagain Bara sesuai keinginan Gara, anak saya."
"Satu lagi, pastikan Bara tidak tahu kalau dulu kamu dekat dengan Gara."
"Saya yakin, pasti dia akan membenci kamu,"
®©
Ga panjang, gapapa yang penting aku double update✨
🤩
Bunuh orang boleh ga sih! pengin banget bunuh abang gue yang kaya Dajjal! Anjing!
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bodyguard For Bara
Fiksi RemajaMungkin bagi kebanyakan anak SMA masa-masa SMK jauh dari kata baik, padahal jika dibandingkan masa SMK jauh lebih menantang dan mengasikan. Seperti halnya kehidupan seorang Rachel Clandistiane, gadis berparas cantik dengan tatapan elangnya mengabdi...
