Part.36 Problematic

1.8K 168 21
                                        

Dengan setelan jas lengkap sesuai jurusan, dan tangan yang sibuk mengotak-atik mesin, serta mulut yang dipenuhi permen rasa strawberry, muka di tekuk lalu melirik sinis ke arah seseorang yang kini sibuk berbincang dengan guru praktek nya, Pak Fajar. Bara tak henti-hentinya mengumpat serapah hewan di kebun binatang dari A sampai Z untuk Rachel tanpa henti, Altan yang melihatnya saja heran.

"Bara, kamu bicara dengan siapa? jangan berisik." Pak Fajar menegur, yang mana malah membuat Bara mendengus malas.

Mendekatkan tubuhnya ke Altan, "bukanya dia yang berisik, ngobrol sama Rachel nggak ada ujungnya."

Altan hanya mengangguk, ikut melirik Pak Fajar dan Rachel yang tengah berbincang entah mengenai apa.

"Lagi ngomongin lo kali," tebaknya

"Lo pikir muka gue cocok buat di  gibahin?"

Johan yang mendengarnya menoleh, membersihkan tangannya sebentar dari debu, lalu mengambil handphone nya di saku jas, membuka kamera lalu di tempatnya ke depan wajah Bara.

"Let me check in the mirror," Johan berujar dengan nada sound yang ia ingat di tik tok.

Bara menggeleng, menyingkirkan handphone Johan dari hadapannya.

"Nggak sih, ganteng gini." Bara narsis, Altan memutar bola matanya, sedangkan Johan sudah siap-siap muntah gara-gara denger ke-narsisan sahabatnya itu.

"Jangan bercanda, kerjakan itu dengan benar." Rachel tiba-tiba datang, memisahkan mereka bertiga agar kembali pada aktivitas masing-masing.

di tempat praktek ini mesin sudah di sediakan untuk satu orang satu mesin, sedangkan Bara kebagian mesin di pojok dekat meja Pak Fajar, didepannya ada Johan sedangkan Altan berada di sebelah, mungkin jaraknya hanya 1 meter setiap mesin.

Bara mendengus, menarik pergelangan tangan Rachel untuk lebih mendekat ke sampingnya, "Pak Fajar ngajakin lo ngobrol mulu kalau ada jam praktek kelas, ngomongin gue ya?"

Rachel hanya memutar bola matanya singkat, setelahnya ikut Bara yang tengah mengotak-atik mesin didepannya, "lo bisa bantu gue?"

"Dalam hal apa?" Sebenarnya Rachel tahu apa yang akan dikatakan Bara, hanya saja dia ingin menunggu cowok itu mengatakannya, apa yang harus ia lakukan.

Sebelum Bara mengeluarkan sepatah kata, Altan tiba-tiba muncul dengan membawa satu buah palu, "oy, bantuin gue bentar dong."

Bara melirik Rachel sekilas lalu mengangguk pada Altan dan pergi menuju mesin Altan sambil menghela nafas, "ganggu aja lo." sedikit menyenggol lengan Altan.

"Loh, perasaan lo sama Rachel nggak lagi ngapa-ngapain, " Bara yang mendengar ucapan Altan barusan langsung melirik sinis manusia di sebelahnya.

"Lo nya aja yang nggak peka, bego."

Altan nggak mau balas, kayaknya dia paham, mungkin tadi Bara lagi mau menjalankan aksi flirting nya pada Rachel, dasar modus.

"Modusnya juga tau tempat dong, nggak lagi di jam praktek juga,"

"Bodoamat."

Bara menumpukan kedua tangannya pada mesin yang tengah di gunakan Altan, "minta bantuan apaan lo, gue juga belum selesai otak-otik mesin, keburu Pak Fajar nengok ke kita, ntar diomelin."

Altan diam sejenak, mulai memikirkan kata yang pas untuk ia ucapan, "gue lagi sedikit ada masalah tentang nyokap, gue butuh bantuan lo."

Bara yang paham mengangguk lalu memandang Altan seperti berujar, "udah gitu doang?" Altan yang mengerti hanya mengangguk singkat lalu ber-decih.

Bara memang sedikit mengetahui jika keluarga Altan memang Problematic, lebih tepatnya kalau tidak salah ibu dari cowok itu, padahal setahunya waktu itu keluarga Altan harmonis. Mungkin, walaupun mereka berdua dekat hal-hal semacam ini memang sangat privasi, Bara tidak akan menanyakan masalah apapun yang menyangkut keluarga kecuali Altan atau Johan sendiri yang menceritakannya.

Iya tahu batasan dan tidak mau masuk teritori privasi orang walaupun sedekat apapun mereka.

®©

Lorong sekolah kali ini benar-benar tampak sepi, mungkin siswa siswi tengah sibuk dikelas memperhatikan pembelajaran yang tengah berlangsung, Rachel berjalan dengan pandangan lurus ke depan, setelah sampai pada ujung kelas, dia langsung membelokkan langkahnya menuju ruang musik yang berada di lantai 2.

Langkahnya tanpa ragu langsung membuka pintu ruang musik yang sedikit terbuka itu, sedikit menoleh kanan kiri, cewek itu perlahan masuk dan menutup pelan pintu itu.

Menelisik ruangan musik yang kosong, hanya diisi alat-alat musik seperti bass, piano dan alat musik lainnya, pandangan nya jatuh pada seorang yang kini duduk dengan memangku gitar akustik, "lo udah jamin disini nggak ada cctv? siapa tahu lo mau ngajak gue adu jotos gitu," tanyanya

Seorang itu mengangguk mantap, mereka berdua berpandangan dengan pandangan sama-sama tak takut satu sama lain, "walaupun lo cewek, gue nggak peduli. Gender bukan suatu alasan gue bisa mundur gitu aja." Katanya tanpa keraguan.

"Terus? lo pikir gue takut cuma karena lo cowok?" Rachel menatap sinis sambil menggelengkan kepalanya pelan tidak habis pikir.

"Gue salut aja sama lo, tahu cepet kalo gue mau jalanin aksi gue tadi pagi, dan lo dengan sigap bawa Bara pergi, kenapa, takut lo?" Cowok itu menyeringai tipis, sedikit memetik gitar akustik yang masih di pangkuannya.

Rachel tertawa pelan, kemudian duduk di sofa yang di sediakan, menyandarkan punggungnya sambil menyilang kan kaki serta kedua tangannya ikut di silangkan depan dada, Rachel berujar, "harusnya lo kalo punya otak itu dipake, jangan cuma buat pajangan aja. Ini sekolah, bukan punya bapak lo."

Cowok itu terlihat mengepal kan kedua tangannya"gue cerdas kalo lo mau tahu."

"Nggak ada orang cerdas yang bilang dirinya cerdas."

"Lo ngajakin gue kesini cuma buat adu mulut, buang waktu gue aja lo."

"Bara cowok kesayangan lo itu sebenarnya pinter, cuma bisa aja gue begoin."

"Lo bahkan nggak lebih bego dari Bara, lo tahu itu, Rengga?" Rachel menyeringai, bangkit berdiri meninggalkan Rengga yang terlihat melemparkan gitar di pangkuannya ke lantai.

Tidak peduli gitar itu pecah, Rengga tersenyum lebar, "dia bahkan lebih pinter dari yang gue kira, harusnya emang dari awal gue minta bantuan sama tuh bocah."

"Argh, sial!"

®©

Hii guys:) maaf ya udah ngilang lamaaaa banget, disini aku ga bisa jelasin satu-satu kenapa, pokoknya mulai dari sekarang aku bakal update biar nggak nge-gantung kalian.

pendek? iya emang, mungkin chapter² kedepannya juga bakal pendek-pendek, maaf aja soalnya ga bisa bikin kata-kata yang panjang dan pas.

i miss you all<3

makasih yang masih baca, komen dan dukungan kalian

lanjut dong, besok langsung update.

Bodyguard For BaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang