Part.31 Skeletons

4.1K 467 46
                                        

Tawa menggema memenuhi selurus isi bengkel, siang ini jadi perkumpulan yang sangat menyenangkan bagi Rengga, walaupun kurang memuaskan tapi tetap saja sedikit membuatnya senang.

"Akting lo bagus, sia-sia kalau nggak ikut casting," bukanya terdengar pujian, itu malah terdengar seperti sindiran.

Rengga tertawa setan, "mau bayar berapa kalau gue ditawar?" tanyanya

"Bayar pake nyawanya Bara kek nya cukup buat lo, iya nggak Fel?"

Felix mengangguk menanggapi pertanyaan Bian, iya-in aja lah. Tangannya yang sibuk mengotak-atik motor yang dipenuhi oli itu sedikit ia lap, lalu melirik Rengga, "puas lo?"

Yang ditanya mengangguk, "puas banget gue, sampe pengin adain night party."

"Tapi sialnya Bara nggak lama di rumah sakit, berasa munafik gue ngomong gini."

Bian terkekeh, "emang lo munafik."

Felix tertawa ngakak, "gitu juga lo mau temenan sama dia anjir." Bian meringis, iya juga.

"Lo juga sayang." Jawab Bian mencibir Felix yang masih sibuk dengan motornya nya, mereka memang sedang di bengkel milik Felix, asli milik cowok itu.

"Najis! sayang-sayangan." Felix bergidik.

"Lix, lo pake motor gue aja yang nggak pernah gue pake, motor lo jangan dipake dulu, Bara udah tahu kalau itu motor lo,"

"Serius?" Dengan muka yang dibuat terkejut, Bian melotot tajam.

"Lo kenal Gara kan? berarti lo juga harus paham Bara, mereka berdua sama-sama pinter, tapi bisa aja nih bocah kibulin," Felix menunjuk Rengga di depannya.

Rengga menaikan satu kakinya ke atas kursi, lalu menyelipkan rokok yang sedari tadi ia selipkan di sela-sela jarinya.

"Nggak sabar gue, mau lancarin rencana baru,"

"Inget Rachel," Felix mengingatkan.

Rengga mengangguk, "Bara bakal masuk rencana gue, kalau lo yang tabrak dia, padahal mah bukan.

Bian tepuk tangan, "licik banget lo sialan."

Felix terkekeh, "bukan temen gue."

®©

Mereka semua tengah berkumpul di apartemen milik Bara yang biasa untuk tongkrongan, pulang sekolah mereka rencananya mau santai-santai, bukanya pada pulang malah mampir di apart Bara, sebenarnya sih maunya Johan, katanya males pulang, nggak tahu kenapa.

"Zal, ambilin gue permen karet," tanpa banyak penolakan, Rizal mengambilkan lalu memberikannya pada Johan yang duduk di sofa.

Bara yang tengah minum Boba di meja pantry bersama dengan Jacob menoleh sekilas ke Johan dan Rizal yang sibuk bermain PlayStation.

"Reyhan sama Altan nggak kelihatan, kemana?"

Jacob yang duduk disebelah Bara menoleh, "Altan katanya pulang dulu gara-gara ada problem sama nyokap nya."

"Kalo Reyhan gue nggak tahu, lo tahu Zal?" Jacob tanya Rizal, karena cowok itu yang sering dengannya.

"Gue chat tadi bilangnya lagi di bengkel, motornya mogok pas mau kesini."

Bara mengangguk, lalu membuka handphone nya yang sedari tadi ia biarkan, nggak berharap, cuma siapa tahu Rachel chat dia, soalnya sehabis di kantin tadi pagi, setelah dia selesai makan di kantin dan kembali ke-kelas cewek itu langsung pergi, katanya ada urusan.

Bodyguard For BaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang