5. Monday-Crush

8.9K 835 16
                                        

Oke Senin!!!

Setelah menjadi seorang pekerja ada satu hal yang baru aku sadari dan sangat menjengkelkan. Hari Senin! Kenapa Weekend sangat dekat dengan hari Senin dan kenapa Senin sangat jauh dengan Weekend? Hilih!

Dulu saat menjadi mahasiswa, momok hari Senin tidak semengerikan sekarang saat aku punya tanggung jawab untuk pergi bekerja. Bahkan dibeberapa semester aku sengaja mengatur jadwal biar tidak ada matakuliah dihari Senin.

Ada apa dengan hari Senin? Aku sudah hafal sih. Aku bisa merasakan jika para pejuang ibukota termasuk diriku akan berubah menjadi manusia super di hari Senin. Pertama aku harus bangun sedikit lebih pagi, karena tidak perlu diprediksi dihari Senin akan lebih macet dari hari lainnya. Entah kenapa aku yang pengguna setia Transjakarta merasa kalau kendaraan akan lebih penuh dari biasanya jadi kekuatan menyempil diperlukan agar bisa tetap masuk bus dan tidak terlambat sampai kantor.

Aku jadi teringat, pernah saking penuhnya kakiku memar karena berdesakan dan tulang kakiku mentok dan terhimpit di kursi. Belum lagi harus ekstra sabar berhimpitan dengan sesama pejuang Ibukota yang kalau tidak beruntung kesenggol sedikit saja akan diberi tatapan sinis. Bahkan percaya tidak percaya kadang untuk pesan ojek online saja perlu waktu kalau permintaan sedang tinggi.

Setelah melewatkan kejadian tadi, tentunya sekarang aku sudah sampai di kantor. Walaupun sebenarnya jam kerjaku fleksibel. Tetapi kepala divisiku selalu meminta meeting disetiap hari Senin. Menyebalkan!

"Nar bahan meeting lo udah beres?" tanya Anggi teman satu divisiku.

"Santuy dong aman," jawabku mantap.

Kami yang sedang menyelesaikan pekerjaan di meja panjang sesekali mengobrol. Lebih tepatnya Anggi yang berghibah dan aku yang mendengarkan. Karena bekerja di Startup kami tidak memiliki meja kerja tersendiri. Semua karyawan bebas mau bekerja dimana saja tidak diatur.

"Mau minum gue, haus." Kataku menguntrupsi Anggi yang sedang membicarakan selebgram.

"Gue yang ngomong lo yang haus Nar. Mau ya nitip," katanya.

Aku pun pergi mengambil minum untuk kami. Mendatangi vending machine berisi aneka minuman seperti di minimarket.

Tiba-tiba dunia terasa berhenti beberapa detik. Aduh ini siapa ya? Kok ada Lucas Bravo disini? Aku berusaha untuk tetap tenang walaupun pandanganku terkesima.

Mengambil minuman di vending machine, aku meliriknya. Aduh mata kenapa kamu tidak bisa menjaga pandangan? Ternyata dia juga melirikku saat itu. Daripada salting lebih baik aku secepatnya kembali ke meja dan bertanya ke Anggi.

"Gue tadi lihat cowok baru di pantry," tanyaku sembari menyodorkan minuman ke Anggi.

"Siapa Nar?"

"Orang nya tinggi, berotot gitu deh, ganteng lah pokoknya," ucapku memancingnya.

"Please lo jangan langsung nengok, lima detik lagi dia bisa lo lirik ke kiri," perintah Anggi memberi aba-aba ternyata Si Mas Crush berjalan dari arah belakangku untuk ke space  yang bersebrangan dengan kami.

"Bener! Dia maksud gue," sahutku yakin.

"Namanya Zamzami bisa di panggil Zami. Lead UI Designer yang baru."

Aku ber oh-ria meresponnya.

"Kapan masuknya? Kok gue baru liat ya?"

"Minggu lalu beb, kayaknya dia masuk pas lo lagi remote working deh," jelas Anggi.

Pantas saja. Kalau kami tidak bertemu tadi. Mungkin saja aku baru menyadari kehadirannya lebih lama lagi.

"Kenapa Nar? Potensial ya?" goda Anggi kepadaku.

My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang