Dengan sangat amat terpaksa Mami mengajakku untuk menemaninya berbelanja bulanan hari ini. Kegiatan ini sudah jarang sekali kami lakukan bersama. Aku yang malas karena lebih baik, aku mengisi waktu luang dengan menonton Netflix ketimbang menjadi kuli angkut seperti ini.
"Abis itu kita ke salon gimana?" ajak Mami.
"Mau ngapain? aku males Mi, kita pulang aja. Tapi makan dulu dong."
"Oke kita makan, habis itu ke salon titik." putus Mami.
Jika Ibu Negara Api sudah bertitah aku bisa apa. Benar saja, setelah sehabis makan Mami mengajakku ke salah satu Salon langgannanya yang berada di lantai dasar Kota Kasablanka.
"Duh cinta, baru datang. Eyke kangen nih," sambut salah satu manusia setengah perempuan atau laki-laki yang aku tebak dia adalah seorang capster kepada Mami.
"Mau hair treatment ya Cyn, sekalian nih Dinar juga. Sekalian deh potong aja itu rambutnya. Ujung rambut kamu kering tuh Dinar. Lebih bagus di potong."
Tuhkan Mami mengatur lagi. Tetapi memang bener sih, ujung rambutku kering dan bercabang. Aku tidak memberikan jawaban sedikit pun tetapi aku tahu Mami mengerti kalau tidak ada penolakan dariku untuk hal ini.
Perwatan pun dimulai, setelah memotong rambutku salah satu pegawai salon melakukan hair spa lalu entahlah treatment apalagi namanya. Fresh rasanya. Kali ini aku menyukai usul Mami. Penampilanku terlihat lebih segar sekarang.
"Tuh kan cantik. Mau dong Cyn, I potong rambut juga kali kaya Dinar, fresh banget anak Mami," puji Mami.
"Anak?" tanya si laki-laki melambai ke Mami.
"Loh iya anak. Cantik kan?" tanya Mami sambil tersenyum.
"You udah nikah lagi Cyn? Sama duda bawa anak ya?"
Si Melambai bertanya seolah aku tidak ada disampingnya.
"Ya belum, ini Dinar anak kandung I," ucap Mami.
"Ciusan ini? Kok beda banget. Eyke kira tadi itu karyawan you sengaja dibawa buat nemenin."
Lah, kurang ajar nih manusia setengah jadi, ucapku dalam hati. Aku hanya menyimak perbincangan ini.
"Enak aja. Anak kesayangan I kok dibilang karyawan."
"He...he...he Sorry ya Tsay, Eyke gak tahu. Abis Mami Yey masih muda banget sih. Pantesan bawa anak kinderjoy ini mah," kata si capster kepadaku dengan memuji Mami.
"Kindergarten Cynta," koreksi Mami yang tidak dihiraukan si manusia setengah jadi.
"Sering-sering kesini Tsay nanti Eyke bantu glow up. Biar Yey gak diragukan begini."
Wah kurang ajar nih orang. Maksudnya apa! Aku yang sudah sangat kesal hanya bisa memasang tampang cemberut. Ingin sekali aku botakin nih manusia setengah jadi, karena sudah berbicara seperti itu kepadaku. Mami dan si manusia setengah jadi terus mengobrol sambil bercanda tidak menghiraukanku.
Notifikasi chat masuk dari Adit berhasil mendistraksi kekesalanku.
Adit :
Nar, keluar rumah dong. Gue di depan nih. Udah bangun belum lo?
Dinar :
Yeeeu, gue gak dirumah. Mau ngapain? bawa makanan gak lo?
Adit :
Iseng gue, netflix bareng lah ayok. Bawa pisang nugget nih.
Lo dimana sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ספרות לנערותPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
