25. It's A Great Day

6.6K 734 40
                                        

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku sudah packing dan sebelumnya ada beberapa barang yang aku kirim terlebih dahulu dengan tujuan alamat Danu. Persiapan sudah seratus persen hanya tinggal berangkat.

Mami ada di kamar. Aku menunggu Tante Diana, Om Rio dan Gya. Mereka mau mengantarku ke Airport. Mami tidak mau mengantar. Tante Diana bilang, Mami takut sedih jika ikut mengantar. Makadari itu, Tante Diana yang menggantikannya.

Tidak perlu waktu lama Tante, Om dan Gya pun sudah berkumpul di rumah.

"Tante mana Nar?" tanya Gya.

"Masih di kamar," jawabku. Sejak tadi pagi Mami tidak keluar kamar. Padahal aku sangat berharap Mami keluar dan ingin sekali memeluk dan pamit ke Mami.

"Kamu harus tetap pamit Dinar. Ketuk saja pintunya. Tante, Om sama Gya tunggu di luar ya. Barang kamu sudah masuk mobil semua."

Aku mengangguk. Mereka memberikan ku waktu untuk berbicara dengan Mami. Aku pum mengetuk pintu kamar Mami.

"Mi...., Dinar mau berangkat ya."

Tidak ada jawaban. Apa mungkin Mami tidur pikirku.

"Mami tidur ya? Mami baik-baik aja kan di dalam?"

"Iya hati-hati." Jawab Mami lirih.

Aku menunggunya beberapa menit. Aku kira Mami akan membuka pintunya. Ternyata tidak.

"Mami jaga kesehatan ya disini. Mami harus sehat. Dinar sayang Mami." Aku menangis karena untuk melihat wajahku saja Mami enggan.

"Kamu juga." Mami menyahut dari dalam.

Sudahlah, yang ada aku semakin bersedih jika seperti ini bisa-bisa juga keadaan ini memancing emosi kami lagi.

"Dinar jalan ya Mi."

Setelah itu aku memeluk Mbok Tati, asisten rumah tangga kami. Mbok Tati menjadi penonton adegan pamitku dengan Mami. Kami berpelukan sambil aku yang memberikan salam pamit. Mbok Tati sudah bekerja dengan Mami sejak aku kecil. Aku sudah menganggapnya seperti keluarga.

"Dinar, selalu doain Mami ya disana. Disini Mbok doain Dinar semoga selalu sehat dan tambah pintar pulang dari sana."

"Aku titip Mami ya Mbok."

Aku pergi tanpa pelukan Mami. Biarlah, Tante Diana menenangkanku dengan mengatakan kalau Mami kamu ikut antar yang ada dia bisa berubah pikiran. Jadilah aku percaya saja kata-kata Tante Diana.

Aku satu mobil dengan Gya, Tante dan Om ada dimobil berbeda berisi koperku.

"Nar, jangan sedih. Ini kan yang lo mau. Pikirin aja yang baik-baik. Pulang dari Sydney lo jadi tambah keren Nar. Udah Master of Design loh nanti."

"Mami nggak mau lihat gue loh Gy."

Aku memeluk Gya untuk kesekian kalinya. Untungnya yang membawa mobil sekarang adalah sopirnya. Kami jadi bisa leluasa berbicara.

"Lo disana jangan lupa sering kabarin gue sesibuk apapun Nar."

"Jangan sok gaul lo disana, awas aja kalau lo jadi suka mabuk, party, atau apalah itu."

"Iyalah Gy, lo kan tahu gue mah cupu."

"Oh iya, ini ada recorder dari Adit si kunyuk. Dia tahu kalau hari ini lo berangkat ke Sydney. Sorry ya Nar, gue ceritain ini ke Adit."

"Terus semalem dia antar ini ke gue. Yailah, pakai recorder segala kan kata gue."

"Dia bilang, dia nggak bisa ikut antar lo hari ini. Terus nitip ini. Dia bingung mau hubungin lo darimana."

"Gue diancam Nar, gak boleh dengerin ini recorder. Gue disumpahin katanya anak gue bakan jelek tujuh turunan kalau nekat ngedengerin ini sebelum lo yang denger," ucap Gya.

"Oh iya, dia bilang lo dengerin ini nanti aja kalau udah sampe di Sydney."

"Dih, alay banget gak sih si Adit kayak gini," kata Gya.

"Gak mau ah, bawa balik aja Gy. Lo bilang aja udah sama gue nih recordernya. Norak banget deh tumben."

"Jangan gitu dong Nar, gue nekat dengerin aja udah disumpahin kayak gitu. Apalagi ini recorder gak sampai ke lo."

Aku pun mengambil recorder kecil yang diberikan Gya. Khawatir anak Gya jelek tujuh turunan. Lalu memasukannya ke dalam tas. Semua akses dengan Adit sudah kututup. Makanya dia pakai cara seperti ini. Sesampainya di Airport sudah ada Setya dan Via yang belakangan kutahu Via ini kekasih Setya yang juga akan lanjut studi di tempat yang sama.

Tidak perlu waktu lama aku langsung melakukan check-in dan berpisah dengan Tante, Om dan Gya. Banyak sekali pesan Tante untukku.

Pesawat kami pun berangkat dari ke Sydney dengan menempuh perjalanan langsung dengan durasi kurang lebih selama tujuh jam. Aku lebih banyak tidur diperjalanan karena aku takut terbang sebenarnya. Jadi caraku untuk menenangkan diri ya tidur.

Sesampainya di Sydney kami dijemput oleh Danu dan seorang temannya yang langsung dikenalkan ke aku, Via dan Setya. Aku dan Via memutuskan untuk sharing apartement. Harga rent tempat tinggal disini sangat tinggi. Kalaupun mau lebih murah bisa tinggal di asrama. Tetapi aku menolak. Karena walaupun lebih murah jika di asrama aku harus berbagi kamar mandi dengan lima belas orang. Aku tidak bisa seperti itu.

Dan untuk Setya, dia sharing bersama temannya yang juga sudah studi lebih dulu disini. Apartemnku dan Danu juga jaraknya tidak jauh. Baguslah, setidaknya masih ada keluarga di dekatku dan ada Danu yang bisa kurepotkan.

Dulu aku bermimpi ingin menginjakan kaki disini. Mimpi itu sempat terhempas karena melihat saldo rekeningku yang selalu berpindah untuk pesan makanan online dan jajan-jajan lainnya.

Sekarang aku bisa menghirup bagaimana segarnya udara Sydney meskipun udara yang aku hirup ini didapatkan dengan sedikit drama.

Danu mengajak kami untuk langsung mengganti kartu provider agar bisa tetap terhubung dengan internet.
Kami makan terlebih dahulu di china Town sebelum kembali ke apartemen untuk membereskan barang. Tentu saja aku sudah mengkunci jadwal Danu untuk membantu berberes ini semua.

Hello Sydney,

The adventure will begin😊.

*) Halo Sydney,
Petualangan akan di mulai.

___***___

Maaf ya after office aku bisa updatenya jam segini. Biasalah cungpret tiap senin udah kayak mau perang.

Part ini santuuuy dulu lah ya, setelah part kemarin aku bacain komennya mostly pada emosi ke Tante Agitha wkwkwk.

Dinar udah sampe nih di Sydney tapi banyak urusan yang dia tinggalin di Jakarta. Belum selesai shaaay.

Ya, kita tunggu aja ya urusan Dinar bisa kelar satu-satu.

Thank you..🙂

My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang