32. Maksa Menua Bersama

7.5K 862 105
                                        

Bulan berlalu Gya sedang mengandung sekarang. Hubunganku dengan Adit sudah membaik. Satu hal yang menjauh yaitu aku dan Mami. Pernikahan Mami tidak bisa dipungkiri membawa hubungan kami yang mejauh. Tapi aku sudah menduga akan ada dalam situasi seperti ini.

Mungkin memang aku yang belum menerima sepenuhnya. Sudah tidak ada rasa marah, benci atau apapun semacamnya. Aku hanya menyayangkan kenapa semuanya menjadi seperti ini. Padahal Mami selalu berusaha mendekat tapi aku enggan.

Keluarga Mami dari Manado sedang berkumpul di rumah Tante Diana. Ada acara pernikahan kerabat kami kemarin. Jadilah banyak family yang berdatangan dan berkumpul disini.

Kalau sudah berkumpul seperti ini terjadilah perpecahan kelompok. Kelompok pertama diisi oleh para Ibu-ibu. Kelompok kedua adalah perkumpulan Bapak-bapak. Kelompok ketiga diisi oleh para anak muda, termasuk aku, Danu, Tasya dan Vino, Kebetulan Tasya dan Vino sedang pulang kampung. Sedangkan Danu memang kembali bersamaku. Lalu yang terakhir kelompok keempat yang diisi oleh Anak-anak. Bagusnya, rumah Tante Diana luas. Jadi tidak masalah ada perpecahan kelompok seperti ini.

Karena Tasya yang berada disini. Tentu saja Ocean juga hadir. Aku senang ada di dekat Ocean, anaknya Tasya. Begitupun Ocean, dia nyaman jika berada didekatku. Aku selalu menggodanya dan mengajaknya bernyanyi. Ocean adalah fans berat dari Pinkfong. Skidamarink adalah favoritnya.

Kalau sudah kumpul seperti ini biasanya kami yang anak muda biasa saling bercerita, menggoda dan membully. Sepupuku yang lain yaitu anak dari Kakaknya Mami juga ada disini. Tentu saja disini Mami juga hadir tetapi kali ini membawa Zami.

Zami menjaga Clover dan membawanya mendekat dengan Ocean. Dimana Ocean ada ditengah aku dan para sepupu yang sedang berkumpul. Aku berusaha tidak menghiraukan Zami yang duduk didekatku. Fokusku hanya ke Ocean dan maaf Clover, aku pilih kasih. Terlihat wajah tidak suka Zami ketika aku lebih sering mengajak bicara Ocean daripada Clover.

Seketika Clover menangis kejar karena berebut squishy dengan Ocean. Tangisan Clover membuat atensi kami berpaling kearahnya.

"Om, antar ajalah Clover ke Mami. Kasihan nangis gitu," kataku ke Zami. Mendengar perkataanku wajah Zami terlihat kaku. Ini panggilan pertamaku untuknya setelah semua yang telah terjadi. Memangnya aku harus panggil apa? Papa seperti Clover yaampun it's big no.

Tangisan Clover semakin menjadi. Clover tidak tenang hanya dengan usapan Zami di punggung kecilnya. Sedangkan kelompok para Ibu-ibu berada di ruang tamu yang jaraknya beberapa meter ditempat kami duduk.

"Lagian Om, ngapain disini. Ini tempat anak muda. Orang tua disana. Clover kalau mau main ditemanin suster aja. Kan Om sama Tante bawa suster kesini," telak, itu ucapan pengusiran dari Kak Olivia. Kakak sepupuku yang paling tua, dia memang terkenal galak nan penyayang. Wajah Zami menjadi memerah dan dia menggendong Clover pergi tanpa suara.

Setelah Zami yang meluncur pergi aku justru mendengar tawa dari Kak Olivia dan dua adiknya. Usut punya usut ternyata pernikahan Mami dan Zami juga ditentang oleh keluarga Kak Olivia, yang mana Ibunya adalah Kakak tertua dari Mami. Aku justru baru tahu hal ini.

"Gue ngerti banget kok, kalau lo marah Dinar. Setelah dua tahun lebih kita baru ketemu lagi kan, tanpa lo cerita gue tahu perasaan lo."

"Gue juga gak ngerti kenapa Tante Agitha mau-maunya sama berondong."

"Udahlah Kak udah punya anak juga. Semua udah kejadian," jawabku atas perkataan Kak Olivia.

"Lo gak tahu kan drama apa aja sebelum mereka nikah? Kita sekeluarga datang juga dengan wajah yang asem."

"Wah tapi di foto kalian senyum-senyum aja tuh," jawabku meledek.

"Ya itu kan cuma foto kenyataanya mah kita gak happy."

"Biarin aja, kita panggil dia Om. Secara umur gak jauh beda sama gue. Tapi kan yang dia nikahin Tante gue ya. Jadi mohon maaf beda kelompok nih," ini penjelasan Kak Olivia. Kami semua tertawa. Aku menjadi merasa punya supporter.

Aku dan para sepupuku tetap melanjutkan acara pergosipan. Sedangkan Zami sudah tersisih dia berada ditengah kelompok Bapak-bapak sekarang.

Setelah waktu bergulir beberapa saat entah bagaimana Kak Olivia sudah menyiapkan games untuk kami. Games kali ini simple yaitu tebak lirik lagu. Suasananya menjadi sedikit gaduh karena terlalu asik dan seru. Games kali ini hadiahnya uang. Jadi bagaimana tidak membuat gaduh karena hampir semua orang menyukai uang.

Aku melihat wajah Zami yang bosan karena dia hanya bisa menonton. Sedangkan kelompok anak muda aktif dan heboh. Sekarang semua kelompok menonton acara games kami. Biarkan saja dia memang harus sadar dimana posisinya. Mami dan Zami sudah tahu kan bagaimana resiko hubungan mereka. Jadi mereka harus terima.

Tiba disaat giliranku, aku harus melawan Danu. Tambah semakin gaduhlah karena Danu dan aku tidak ada yang mau mengalah dan sangat kompetitif untuk hadiahnya. Setelah pertarungan sengit aku menang satu point.

"Duh, Dinar inget aja lagu ini. Ini kan lagu yang sering di dengerin Shiraha," sorak Danu.

"Ma, Dinar tuh dulu dipepet terus Ma, sama orang Jepang. Tapi sok cantik dia. Pura-pura gak tahu."

"Dih, apasih lo Nu?"

Semuanya bersorak karena kalimat Danu. Sekarang jadi aku yang malu. Padahal Shiraha adalah teman sekelasku. Dia berasal dari Sapporo. Shiraha sering datang ke coffee shop dan Danu sudah memergokinya beberapa kali saat Shiraha sedang ngopi ganteng disana.

Saat Danu memergoki Shiraha di coffee shop, Danu pernah mendengar Shiraha request diputarkan lagu ini. Lalu menurut Danu, kedatangan Shiraha terlalu sering jadilah dia cocoklogi kalau Shiraha ada maksud. Padahal aku tidak merasa seperti itu.

"Pantes ya kamu bilang mau liburan ke Jepang. Ada yang mau disamperin ya ternyata," kata Tante Diana keras. Aku benar-benar digoda seluruh keluarga. Tante Diana menambah bahan godaan.

"Mami, kalau Kak Dinar dibawa ke Jepang gimana? Shiraha tuh keren loh, pintar lagi. Masuk dean list. Udahlah gak ada kureeeng nya," goda Danu lagi sambil bertanya ke Mami. Mami hanya tersenyum tanpa jawaban.

"Enggak lah aku emang mau liburan aja. Lagian kenapa aku yang nyamperin kesana dia lah yang kesini."

Karena jawabanku semua yang mendengar semakin heboh. Aku hanya bergurau. Tidak ada apa-apa antara aku dan Shiraha. Kami murni berteman.

"Seumuran kan Dinar sama Shiraha?" Tanya Tante Odi, ibu dari Kak Olivia diantara kegaduhan ini. Aku yang tak mengerti pertanyaannya memberikan jawaban jujur.

"Ya beda dua tahun. Dia lebih tua."

"Bagus lah. Beda tipis juga. Ya walaupun kedewasaan tidak dilihat dari umur. Seenggaknya kan enak ya. Menua bersama, gak menua lebih dulu atau nggak maksa jadi menua."

Kata-kata Tante Odi sangat frontal. Suasananya menjadi awkward tapi masih ada beberapa orang yang tertawa. Aku tahu Mami pasti malu. Ini pasti menyakiti hatinya.

"Ya benar dong Dinar. Seenggaknya kan bukan bocah yang kamu pacarin. Penting tuh Dinar. Catet!"

"Nggak perlu cari yang ganteng, kalau gak bisa apa-apa ya gak guna."

"Emang aku harus cari yang gimana dong Tante?"

"Cari yang kayak Papi kamu aja cukup."

Tante Odi semakin menjadi. Zami keluar ruangan begitu saja. Suasana menjadi memanas.

___***___

Sabar ya yang emosi sama Mami dan Zami.

Mungkin PoV nya nanti dulu ya pas udah mau ending.

Terima kasih yang udah mau baca 🙂

My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang