Di kantor sepertinya cuma Anggi yang tahu aku dekat dengan Zami. Pembawaan Zami yang supel membuat sikapnya kepadaku tak terlihat berlebih. Padahal, kalau ditelaah sikapnya yang baik cendereng membuatku baper. Contohnya seperti dalam seminggu bisa tiga kali dia membawakanku bekal. Jadi kami bisa makan menu yang sama saat makan siang. Healthy food. Jadi simple untuk dibuatnya.
Lalu, setiap hari dia akan mengantarku pulang atau ke Fit Studio. Program Mami untukku masih jalan sampai saat ini. Sebelum workout di Fit Studio biasanya kami makan terlebih dahulu. Lumayankan selain irit ongkos, aku juga bisa irit jajan.
Kadang aku berpikir, apa susahnya Zami memberikan hubungan ini kejelasan. Aku perempuan pasti butuh kejelasan. Aku juga berpikir apa dia bertingkah seperti ini ke perempuan lainnya? sepertinya kemungkinannya kecil walaupun ada saja. Karena, hampir sembilan jam di kantor ditambah dua jam pulang bersamaku. Apa dia tidak habis energi jika melakukan hal yang sama ke perempuan lainnya.
Selesai dengan urusan naluriah ditoilet aku bergegas merapihkan diri dan ingin membuka pintu bilik toilet.
"Lo tahu Clarissa Yuzar kan?" tanya seorang wanita diluar yang ku kenali dari suaranya ini milik Resika si Bussiness Analyst.
"Mbak Selebgram?" tanya si wanita kedua yang kutebak ini suara Andini sesama Bussiness Analyst.
"Iya bener. Semalem gue stalk ig nya Clarissa, lo tahu siapa yang gue temukan disitu??"
"Siapa?"tanya Andini.
"Ada Zamzami di halaman ignya. Nih coba lo lihat." Lalu mereka terdiam beberapa saat.
Aku jadi mengurungkan niat untuk membuka bilik toiletnya. Disini ada empat bilik toilet dan posisinya aku ada di bilik ke empat berada di paling pojok. Di depan empat bilik ini ada kaca besar dengan empat wastafel yang melengkapi. Dari suaranya, Resika dan Andini sepertinya sedang bergosip di depan bilikku.
Hal seperti ini sebenarnya biasa. Aku juga sering bergosip di toilet seperti ini bersama Anggi. Bedanya, aku biasa memastikan dulu siapa orang yang berada di keempat bilik toilet ini. Bagaimana jika sedang membicarakan orang, ternyata orangnya ada di dalam bilik dan langsung keluar dengan wajah marah.
"Oh iya bener, ini kan Mas Zami. Kok bisa mereka foto berdua? Mana pelukan begini lagi."
"Tenang..., gue langsung cari info dong di forum gosip underground. Dari info yang gue dapet. Disana ada yang nge-spill kalau Zami ini ternyata mantannya Clarissa."
"Mereka udah pacaran enam tahun. Terus Clarissa diputusin. Padahal Clarissa udah berharap banget dinikahin."
"Bahkan, itu orang nge-spill kalau Clarissa belum move on makanya fotonya dia sama Zami gak dihapus."
"Mereka juga masih saling follow. Dan Clarissa masih sering komen di postingan Zami," jelas Resika.
Hah benarkah? Aku memang tidak pernah sampai segitunya stalking akun media sosial Zami. Takut ke-love makanya aku hindari. Siapa tadi? Clarissa Yuzar? Bahkan aku tidak tahu dia siapa. Selebgram yang aku tahu hanya yang sudah masuk ke akun pergosipan.
Pantas saja jumlah followers Zami banyak. Tidak umum untuk orang biasa. Mungkin dulu fansnya Clarissa ikut memfollow akun Zami.
"Cocok loh mereka. Kenapa deh putus? Kepo gue jadinya" kata Andini.
"Katanya, Zami memang belum mau pernikahan. Bahkan itu akun sempet ngejelekin Zami, katanya cuma numpang famous doanglah. Jahatnya dia juga bilang Clarissa udah banyak keluar uang buat nyenengin dan untuk keperluan si Zami. Abislah Zami dikulitin disitu," ucap Resika heboh.
"Masa sih. Mas Zami royal loh. Itu timnya suka dibeliin kopi. Hampir setiap minggu gitu. Kan lo lihat sendiri." bela Andini.
"Kalau bagian itu gue juga gak percaya. Orang dia sering jajanin timnya gitu. Bukan tipe cowok gak modal lah ya." kata Resika.
Untuk bagian yang itu aku juga tidak setuju. Selama ini Zami tidak pernah minta apapun denganku. Dia selalu berinisiatif dalam melakukan pembayaran yang kadang juga aku tolak. Dia juga bukan orang yang perhitungan. Bukan tipe cowok yang tidak modal dan berharap dengan uang pasangannya. Sepertinya itu memang Clarissa nya saja yang terlalu cinta a.k.a bucin. Sampai mau membiayai keperluan Zami.
Aku membuka bilik toilet dan disambut dengan keterkejutan Resika dan Andini.
"Eh lo, Nar. Kaget gue kirain siapa." kata Resika.
Aku langsung bergerak kedepan wastafel untuk mencuci tangan.
"Nar, amankan ya?" tanya Resika memastikan. Aku tahu maksudnya. Aman berarti gosip yang kudengar tadi jangan sampai keluar dari toilet ini.
Aku hanya memberikan satu jempol untuk jawaban. Padahal hatiku justru tidak karuan setelah mendengar ini semua. Untungnya waktu sudah menunjukan pukul 17.00, menunggu satu jam lagi agar aku bisa segera pulang. Killing time dengan musik menjadi pilihanku. Anggi pun sempat bertanya karena aku terlihat badmood.
Hari ini aku ingin pulang sendiri. Zami sempat bertanya kenapa yang aku jawab dengan alasan jika aku ingin bertemu salah satu temanku. Dia sempat menawarkan untuk mengantar dan tentu saja aku tolak.
Aku pun pulang seperti hari sebelum aku dekat dengan Zami. Disaat seperti ini menikmati suasana jalan pulang sangat membantu menaikan mood. Aku bisa bersandar di kursi Transjakarta dengan memasang earphone dan menikmati ramainya jalanan.
Aku badmood mendengar jika Zami pernah berpacaran selama enam tahun dan gagal. Alasanya juga klise, untuk yang berpacaran lama tidak siap dengan pernikahan itu klise. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Aku bisa menarik kesimpulan Zami menghindari komitmen. Pantas saja hubungan ini tidak ada kejelasan.
Aku coba menghubungi Adit. Berharap Adit bisa dihubungi di jam pulang seperti ini. Padahal kemungkinannya kecil karena Adit menggunaka sepeda motor jika bekerja.
Tiga kali bunyi sambungan lalu....
"Eh kok diangkat?" tanyaku refleks.
"Lah, lo yang telepon. Ya gue angkatlah." sahut Adit kesal.
"Kok bisa, lo bawa motor satu tangan?"
"Dinar, buru deh mau ngomong apa? Kalo gak ada gue tutup nih." tanya Adit.
"Dit, gue tunggu di sate Bang Eman ya. Gue juga lagi di TJ nih. Lagi jalan balik."
"Yaudah oke," jawab Adit singkat dan langsung memutuskan sambungan telepon kami.
Setelah berjibaku dengan ramainya jalanan Jakarta akupun sampai di sate Bang Eman dan sudah melihat satu piring kotor di depan Adit.
"Lo lama banget, gue sampe abis seporsi nih."
Aku tidak menjawab perkataanya dan langsung memesan satu porsi sate ayam plus lontong dan es teh manis sebagai pelengkap.
"Tumben, biasanya lo workout. Gak ada jadwal hari ini?" tanya Adit.
"Ada. Tapi males. Laper."
Adit hanya berdecak mendengar perkataanku. "Kok gak dianter sama sopir lo Nar? Kenapa lagi ribut ya?" tanya Adit kepo.
"Apa yang mau diributin. Dia nurut aja apa mau gue," kataku lesu. Aku juga bingung mau cerita darimana sama Adit. Nanti yang ada, Adit pasti menyuruh lagi untuk berhenti.
Adit tidak memaksa aku bercerita sampai makanan kami datang dan kami menghabiskannya. Iya, Adit habis dengan satu porsi lagi.
"Lo lesu banget. Hari ini gue yang bayar sate lo. Tapi jangan nambah ya."
Tuh kan, walaupun kadang menyebalkan. Mendengarkan celotehnya yang menyebalkan saja moodku membaik. Aku sadar, sekesal apapun dengan Adit atau Gya. Cuma mereka yang bisa menerimaku dan menemaniku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
