21. Who Can Fight Love?

6K 659 57
                                        

"Nar, kamu kenapa sih? Sakit?" tanya Mami. Aku memang absen bekerja hari ini. Makanya Mami khawatir seperti itu.

"Aku nggak apa-apa Mi."

"Kamu bisa cerita sama Mami, kalau ada masalah Nar."

"Aku kenal Zamzami, teman dekat yang Mami maksud." Mami yang tadinya sedang mengusap rambutku sayang menghentikan aksinya.

"Mami pasti tahu kan dia satu kantor sama aku? Atau dia bohong gak cerita kerja dimana?"

Terjeda cukup lama sampai Mami mengeluarkan suara "Iya Mami tahu, kalau kamu sekantor sama dia."

Bagaimana ini, jadi disini siapa saja yang membohongiku kalau begitu.

"Bisa Mami berhenti sampai disini. Tolong jangan dilanjutin lagi Mi. Dia bukan laki-laki yang baik buat Mami," ucapku sambil memohon ke Mami.

"Kenapa Dinar, kenapa kamu minta begitu?"

Aku memang harus menceritakan semuanya walaupun dengan resiko Mami bisa sakit hati. Tapi lebih baik daripada Mami harus hidup bersama Zami.

"Dia ada di dekat Dinar beberapa bulan ini Mi. Dia juga deketin Mami. Laki-laki mana yang seberengsek itu Mi deketin Ibu dan Anak." aku juga tidak enak mengatakan ini Mami tapi harus ku lakukan.

Mami menghela nafas, "Mami memang pernah ceritain kamu ke dia. Karena, Mami pikir kalian ada di lingkungan yang sama. Mami juga pernah minta dia buat berteman sama kamu Dinar."

Apa aku tidak salah dengar, Mami dan Zami punya pernyataan yang berbeda. Semalam Zami bilang kalau Mami tidak tahu perihal kedekatanku dengannya. Sekarang Mami bilang dia meminta Zami untuk berteman denganku.

Oh, atau memang aku saja yang sangat terbawa perasaan. Kalau ajakan Zami untuk berteman memang sebatas hanya untuk membangun kedekatan agar jalannya dengan Mami mulus. Ini sangat menyedihkan. Atau memang Zami saja yang kelewat dalam bersikap kepadaku. Brengsek tetaplah brengsek.

"Mi, apapun alasannya udah gak pantas dia berbuat begitu sama kita."

"Apa dia nggak berpikir gimana hubungan kita nantinya," aku mulai emosi.

"Aku mohon sama Mami, tolong berhenti Mi. Dia gak pantas untuk Mami." Untuk mengatakan ini saja aku sampai meletakan telapak tanganku di dada.

"Dinar, maaf tapi yang tahu pantas atau tidaknya itu Mami."

"Mami nggak mau dengerin pendapatku?"

"Mami dia udah bikin aku sakit hati dan dia berani berbuat begitu, kita itu Ibu dan Anak, Mi" aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana harus menyadarkan Mami. Jatuh cinta memang membuat orang lupa segalanya.

"Dinar, kamu pasti salah paham dengan sikap Zami. Dia pasti gak bermaksud buat kamu sakit hati."

Cukup sudah aku kalah. Bahkan aku sudah memohon kepada Mami untuk meninggalkan Zami. Mami lebih membela Zami daripada aku anaknya sendiri. Dulu jika aku dibuat menangis oleh orang lain, Mami pasti jadi yang terdepan membelaku. Sekarang hal itu tidak berlaku.

"Kenapa dari sekian banyaknya laki-laki harus Zamzami?" tanyaku ke Mami.

"Dinar, kalau kamu tanya begitu Mami juga bingung. Cuma sama dia Mami bisa nyaman. Cuma Zami yang bisa buat hati Mami ngerasa dia orangnya," Mami yang mengatakan ini pun akhirnya menangis.

"Apa Mami nggak sadar, kalau dia lebih muda dari Mami. Usia kalian beda dua belas tahun Mi. Kenapa Mami gak cari yang seusia dengan Mami," suaraku meninggi. Aku tahu ini kasar. Pikirku ini bisa menyadarkan Mami.

"Apa salah Mami kalau dia terlahir lebih muda? Dulu jarak usia Mami sama Papi kamu juga jauh. Itu gak jadi persoalan."

"Dinar, kamu tahukan baru ini Mami serius dekat dengan laki-laki setelah kepergian Papi kamu. Pasti ini semua sudah Mami pertimbangkan."

"Mi, apa Mami yakin dia laki-laki yang baik. Apa Mami gak bisa pertimbangankan ceritaku yang udah nangis-nangis begini di depan Mami?"

"Bagaimana kalau dia gak bisa buat hidup Mami bahagia? Gimana kalau dia hanya mau numpang hidup sama Mami? Dan jangan pernah samain Papi sama Zami. Papi aku jauh lebih baik dari dia." aku tidak perduli sopan santun sekarang.

"Zami, gak seperti itu Dinar. Dia punya penghasilan yang jelas dan bukan laki-laki malas."

"Gimana kalau keluarganya nolak Mami? Mami pasti nanti sedih dan sakit hati Mi."

"Keluarga besarnya sudah kenal Mami. Mereka bisa terima Mami dan gak masalah sama kamu."

"Oh jadi udah sejauh itu ya Mi, hubungan Mami."

"Maaf Dinar, Mami nggak bermaksud kenalin Zami seperti ini ke kamu. Dalam waktu dekat memang Mami mau kenalin ke kamu."

"Apa yang Mami lihat dari Zami?"

"Mami ngerasa Zami bisa jadi partner Mami. Walaupun secara usia dia jauh lebih muda. Tetapi pemikirannya matang. Dia orang yang bisa ada di samping Mami. Pokoknya Mami rasa dia orang yang cocok sama Mami."

"Apa kata orang-orang Mi kalau tahu Mami nikah dengan laki-laki yang lebih muda?"

"Mami akan ambil resikonya Dinar."

"Asal Mami tahu, aku malu kalau Mami nikah sama dia dan aku malu kalau dia jadi pasangan Mami. Aku juga malu jadi anak Mami," ucaoku dengan suara yang keras.

"Silahkan kalau Mami mau hidup sama dia. Mami harus ingat kata-kataku kalau aku pernah mohon ke Mami di hari ini. Jangan pernah sesalin apa pilihan Mami."

"Mami lebih pilih dia. Jangan salahin aku kalau aku benci sama Mami."

Aku tahu kata-kataku sangat menyakiti hati Mami. Itu terbukti dengan isakan Mami yang kudengar setelah mengatakan itu. Tapi memang aku malu jika itu terjadi. Cukup sudah, tidak ada artinya semua kata-kataku. Mami benar-benar sudah jatuh cinta dengan Zami. Mami sudah sampai memikirkan resikonya. Mami lebih memilih Zami daripada mendengarkan pendapatku.

Jujur saja jika laki-laki itu bukan seorang Zamzami pun aku malu jika Mami harus kembali menikah dengan seseorang yang usianya jauh lebih muda. Kenapa Mami tidak memikirkan perasaanku. Apalagi ditambah orang itu adalah Zamzami. Bagaimana jika ada orang yang mengenalku dan Zami tahu kenyataan kalau kami akan menjadi bapak dan anak.

Hubungan mereka nyatanya sudah serius dibelakangku. Siapa yang bisa melawan orang yang sedang jatuh cinta? Mami sedang merasakan puber kedua. Aku tidak pernah menyangka akan bertengkar dengan Mami untuk hal seperti ini.

___***___

Kira-kira gimana guys, apa Tante Agitha tetap lanjutin kisah cinta ala drama korea Still, Marry Me wkwkk?

Atau berhenti nih demi anak semata wayang?

Ya begitulah kalau orang lagi jatuh cinta gak bakal ada lawan.

My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang