Aku sudah memoles bibir dengan tipis lipcream The Balm shades Charming, dengan shades ini make up ku terlihat natural. Dress yang aku gunakan kali ini adalah black midi dress diskon dari Valentino yang aku beli dengan menabung dan tambahan hasil bekerja di Coffee Shop. Rambut yang sudah memanjang sampai ke punggung aku styling dengan curly hanya dibagian bawah.
"Cakep bener." Ini komen Gya.
Hari ini aku melaksanakan wisuda. Empat semester sudah aku lewati. Program studiku bisa diselesaikan dalam waktu satu tahun dengan kurang lebih tiga bulan dalam satu semesternya. Ngebut. Baru kemarin materi hanya beberapa minggu langsung ujian. Begitu saja seterusnya sampai aku sudah tersenyum di depan cermin sekarang.
"Bagus gak dress nya? Gak kelihatan kan ini dress diskon?" tanyaku ke Gya.
"Banget. Lo cocok pakai ini," jawab Gya.
"Peduli banget udah mau out of season yang penting bagus, nyaman, murah udah titik," kataku memberi penjelasan.
"Udahlah, cocok bagus ini. Gak usah peduliin anggapan orang kalau ada yg sadar ini mau out of season," ucap Gya.
Gya memang sengaja datang ke Sydney karena aku memang mengabarkan akan wisuda di hari ini. Tiket pesawat Jakarta-Sydney tidak masalah bagi Gya. Bahkan dia akan disini selama seminggu penuh sekalian liburan katanya.
Tante Diana dan Om Rio juga datang hari ini menggantikan Mami. Mami sedang hamil besar tidak bisa hadir untuk acara graduation. Tante Diana juga sekalian menghadiri acara wisuda Danu dua minggu yang lalu. Beruntungnya aku, tahun kelulusanku bersamaan dengan selesainya studi Danu. Kalau tidak, mungkin hanya Gya yang bisa hadir.
Aku menghadiri acara ceremony lalu setelah usai acara pasti tidak ketinggalan mengabadikan moment ini dengan berfoto. Aku sangat bahagia hari ini, tetapi ada satu ruang dihatiku yang kosong. Aku rindu orang tuaku. Andai saja Mami bisa hadir, bisa jadi dress ku hari sudah di komen oleh Mami atau saja riasan wajahku hari ini sudah di rombak oleh Mami dan pasti hari ini aku bisa menerima pelukan dari Mami.
Atau andai saja hari ini Papi masih ada apakah beliau akan bangga karena aku bisa lulus ditempat yang sama olehnya. Kadang kalau lagi datang mellownya aku berpikir apa ya yang dilakukan Papi saat dulu jadi mahasiswa disini. Apa dulu Papi termasuk mahasiswa yang suka eksplorasi atau yang fokus belajar? Tapi sepertinya jawabannya yang sering fokus belajar.
Sebenatnya aku hanya punya sedikit kenangan tentang Papi. Ini sangat menyedihkan sih. Aku selalu berusaha agar kenanganku dan Papi yang cuma sedikit ini tidak hilang karena kepergian Papi yang mendadak diusiaku yang sangat masih kecil.
Aku ingat Papi pernah menunjukan fotonya yang sedang berdiri di depan opera house di Sydney. Dimana foto yang terpajang di rumah kami, aku bawa dan kuletalan di nakas samping tempat tidurku disini.
(Flashback)
"Pi ini dimana Pi, kok ini mirip sama cangkang kerang?"
Papi tertawa," ini namanya opera house Dinar, bukan cangkang kerang"
"Ini bangunan untuk pertunjukan dan adanya di Sydney,"
"Aku mau kesana. Kesana yuk Pi,"
"Opera house ini jauh, gak dekat dari rumah kita. Harus naik pesawat Papi sama Mami harus nabung dulu kalau kita mau kesana."
"Deket rumah Eyang? Atau Oma? Kok naik pesawat?"
"Ini lebih jauh dari rumah Eyang dan Oma."
"Benar ya Pi, nanti kita bisa main kesini aku mau foto kayak Papi gini."
"Iya benar, nanti ya kalau Papi ada rejeki dan waktunya kita bisa kesini."
"Nanti Dinar bantu nabung ya Pi, kalau Eyang sama Oma ke Jakarta kan Dinar dapat uang,"
"Papi aja yang nabung, kamu belajar aja yang rajin. Papi juga akan nabung biar kamu bisa sekolah disini seperti Papi."
Percakapan kami hari itu nyatanya terjadi. Aku bisa kesini dan sekolah disini. Bagian yang tidak terjadi adalah Papi dan Mami yang tidak bisa berada disini. Tabungan Papi cukup tetapi Papi tidak bisa melihatku disini yang sedang memperhatikan hiruk pikuk sekitarku.
"Loh kok kamu nangis? Udah lulus loh ini. Gak perlu begadang lagi. Kenapa nangis?" tanya Tante Diana dengan lembutnya.
"Nggak apa-apa Tante, aku kangen deh sama Papi."
Tante Diana langsung memelukku erat untuk memberikan dukungannya. "Jangan sedih ya, Papi kamu pasti bangga kamu bisa lulus disini."
Kami semua pun banyak berfoto. Begitu juga aku dan beberapa temanku. Banyak mahasiswa Indonesia yang aku kenal dari himpunan pelajar juga hadir memberikanku ucapan selamat. Harusnya hari ini aku bahagia tidak perlu ada air mata.
Selesai semua acara, aku dan Gya ikut makan malam yang sudah disiapkan Tante untuk merayakan ini semua. Fine Dining di Aria. Kalau bukan Tante yang membayar, mungkin aku tidak pernah masuk kesini karena mahal.
"Padahal Mami kamu udah berharap banget kamu bisa pulang sama Tante."
"Aku mau coba kerja disini dulu Tante. Post Study Work Visaku lagi diurus. Seharusnya sih gak lama ya prosesnya."
"Di Jakarta kan banyak perusahaan Nar. Kamu sama Danu kenapa sih ikutin Tasya sama Vino untuk kerja disini. Tante tuh sepi tahu dirumah."
"Ya kan nyoba Tante. Ada kesempatan yang dikasih pemerintah buat mahasiswa yang lulus university bisa coba peruntungan kerja disini, kenapa gak diambil."
"Tau Ma, doain ajalah kali aja kita pulang ke Jakarta kaya raya."
"Ih, kalian mah gitu. Kesel deh," Tante Diana terlihat merajuk.
Aku memang sudah mengatur untuk mencoba bekerja disini. Begitu juga dengan Setya dan Mikha. Kami mau coba peruntungan bekerja disini. Pemerintah disini memang meberikan kesempatan untuk mahasiswa internasional yang lulus bisa bekerja di sini.
Acara makan malam selesai. Aku yang sangat lelah sudah membaringkan tubuh disamping Gya. Padahal tempat tidur ini kecil tetapi terpaksa untuk dimuatkan.
"Nih ada hadiah dari Adit. Buka dong Nar, penasaran gue. Dia bawel nih nanya udah dikasih atau belum," ucap Gya sambil memeberikan kotak kecil kepadaku. Aku pun membuka sebuah kotak berwarna hitam pemberian Adit.
"Wih... tumben itu si Kunyuk kasih barang mahal. Coba Nar, pas nggak?"
Aku memasangkan jam tangan Fendi yang Adit berikan. Aku juga terkejut karena tahu jam tangan yang sedang kupegang ini tidak dijual dengan harga yang murah.
"Bagus Nar, suka nggak?" tanya Gya dengan pandangan menggoda.
"Kalau gue tolak gimana Gy?" godaku ke Gys.
"Please deh Nar. Terima ajalah. Coba lo resapi ya di hati dan pikiran. Ada angin apa Adit mau keluar uang segini banyaknya buat jam tangan doang," hasut Gya.
"Ini kalau gue B-U bisa gue jual ya Gy," ucapku melempar candaan ke Gya.
"Nah, itu!!!"
"Lumayan kan bisa beli iphone, kalau lo jual."
"Iya gue suka deh, tolong bilang makasih ya Gy."
"Ih males lah, lo bilang sendiri dong masa harus pakai perantara."
Aku menatap Gya malas.
"Gak boleh gitu loh Nar. Adit udah kasih hadiah terus juga dia udah pasti nabung buat ini. Lo tau kan dia gimana. Masa ucapam makasih aja gak dapet."
"Nanti gue kasih sticky notes. Lo bawa ya sampai ke Jakarta."
"Ih, pusing deh gue jadi kurir kalian berdua. Mana mahal lagi biaya anternya," gerutu Gya.
___***___
*) B-U : Butuh Uang
Alurnya ceritanya aku cepetin ya hehehe
Biar Dinar lebih cepet happynya
Happy tanggal merah!!!😂
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
