6. Magic Word Ala Mami

7.7K 803 20
                                        

Ini berbeda dari ekspektasiku. Bergabung dengan Jakarta Achery Club di dua kali pertemuan membuatku mengurungkan tujuan. Aku dan Gya yang memilih kelas reguler dengan pertimbangan sengaja agar pesertanya lebih banyak. Ternyata pesertanya berisikan Bapak-bapak cenderung om genit dengan perut buncit. Lalu dua anak muda laki-laki yang tergolong sangat muda untukku, iya karena mereka berdua masih duduk di bangku sekolah. Selebihnya perempuan termasuk aku dan Gya. Padahal kami sudah memilih instruktur laki-laki juga untuk menambah kandidat namun hasilnya nihil.

"Kamu kenapa Dinar?" tanya Mami.

"Tanganku sakit Mi," kataku sambil memegang lengan atas.

"Hmm, sakit. Sakit sih sakit Dinar. Ya baringnya yang benar dong. Masa kamu kayang begini sih!" Hardik Mami kesal.

"Kepala Mami sakit liat kamu yang selebor gini."

Aku memang sedang berbaring didepan sofa. Menggelesor dibawah dengan kaki berada di sofa dan kepala beralaskan bantal di lantai. Entah apa nama posisi ini, menurut Mami ini kayang yang jelas ini sangat nyaman untukku. Padahal sofa dirumah sangat bisa digunakan untuk berbaring dengan posisi yang benar.

"Kamu memang paling jago ya. Nonton TV terbalik gitu. Nyesel Mami dari kecil nggak komen kalau kamu lagi baring begini. Kebiasaan jadinya," ucap Mami dengan segala komen-nya

"Aku gak nonton, lagi main ponsel nih." Kataku lalu menunjukan ponsel. Televisi memang menyala agar suasana tidak sepi saja.

"Yaudah, Mami panggil Mbak Sum ya biar dipijet," saran Mami memanggil tukang pijat langgannanya.

"Gak mau ah Mi. Nanti tambah sakit," rajukku. Pengalaman yang sudah-sudah setelah dipijet yang ada tambah sakit.

"Mami bingung loh Dinar sama kamu. Kenapa random banget sih ikut Panahan segala."

Mungkin Mami pikir aku ikut olahraga Panahan untuk kebugaran, tidak mungkin aku ceritakan tujuan utamaku.

"Kamu bisa ikut Mami ke Fit Studio. Atau ya ikut kelas bareng Mami ajalah paling gampang. Gratis deh, Mami tanggung. Uangnya bisa kamu gunain buat beli cemilah sehat."

Aku memandang Mami malas. Ikut Mami yoga dirumah saja rasanya seperti di pukuli orang sekampung. Apalagi ikut ke studio. Oh tidak, terima kasih Tuhan.

"Pokoknya ini Mami maksa ya. Sabtu besok kamu harus ikut. Pola hidup kamu nggak sehat. Kalau kamu mau sehat dan lebih ramping ya olahraga jaga makanan," titah Mami.

"Mau kamu bulat kayak dulu lagi? Mami perhatiin kamu minum Boba terus deh. Gak sehat. Kurangin lah Dinar. Kadar gula Boba tinggi pasti."

"Sehat itu untuk kamu, bukan buat orang lain loh. Kamu masih muda jangan sampai punya penyakit."

Duh Mami jadi merepet seperti ini. Aku ngeri membayangkan ucapan Mami. Aku tidak mau berat badanku kembali seperti Ikan Buntal. Saat ini sudah lebih baik walau tidak seramping tubuh Mami dan tidak sebulat dulu. Tapi aku tidak suka olahraga. Aku tidak suka mengatur makananku. Apalagi clean eating. Apa yang ada dipikiranku adalah apa yang akan aku makan. Tidak perlu banyak pertimbangan.

"Cuma kamu yang Mami punya. Mami gak mau sendirian Dinar."

Hadeeeeeuh ya ampun, dosakah aku kalau bilang ini drama. Kata-kata Mami tersirat kalau aku tidak menjaga pola hidup aku bisa mati muda. Astaga Mami.

"Mami gak mau ya, bayarin kamu ke dokter gizi lagi. Gak ada ya kamu nangis-nangis minta badan kurus. Semuanya sia-sia kalau kamu gak jaga."

"Coba dari terakhir kita stop ke dokter, udah naik berapa kilo?"

"Dua doang, jawabku mantap."

"Gak mungkin,"  sahut Mami lebih mantap.

"He..he. Dua belas maksudnya."

"Astaga Dinar. Kamu makan apa aja?"

Aku makan apa? Entahlah yang jelas 60% dari gajiku pindah ke saldo ojek online untuk memesan makanan.

Dan pada akhirnya kata-kata Mami yang takut menua sendiri membuatku resah juga. Sabtu pagi aku dan Mami sudah berada di Fit studio. Bayangkan pagi-pagi ada disini merupakan suatu kemalasan hakiki. Mami ambil kelas pagi karena siang dan malam pasti sibuk memantau WO nya.

Hari ini kelas yang aku ikuti pound fit.
Kedatangan kami disambut oleh beberapa wanita yang sudah Mami kenal sebelumnya. Mami memperkenalkanku ke semua yang ada disitu sebagai anaknya.

Terlihat seorang wanita dengan tubuh seperti Chloe Ting menatapku dari atas ke bawah heran. Halah pandangan seperti ini sudah biasa sebenarnya tetapi tetap saja membuatku gengges. Lalu belakangan kutahu namanya Cindy. Dia terlihat akrab dengan Mami. Mereka mengobrol seperti teman sepermainan yang sudah lama tak bertemu.

Setelah pound fit selesai, rasanya lebih parah daripada dipukuli orang sekampung. Mami bilang ini bisa membakar 750 kalori. Tetapi aku sudah terpikir untuk membuatnya kembali ke titik ekuilibrium dengan nasi padang yang memiliki 750 kalori. Impas.

"Nah gini dong, yang rutin ya," ucap Mami diperjalanan pulang.

"Nanti sebelum Mami kerja, Mami buatin salad buat ngemil. Dua belas kilo itu banyak. Coba kamu kalkulasiin sama yang udah Mami keluarin buat konsul ke dokter gizi kamu."

"Iya Ampun Mi," sahutku mengalah.

"Kalau begini kan anak Mami sehat tambah cantik lagi. Tuh udah Mami forward jadwal yang harus kamu ikutin di Fit Studio. Inget Dinar konsisten!"

"Hmm," aku yang fokus menyetir hanya bisa bergumam. Sebenarnya lebih ke malas menyahuti obrolan Mami.

Ketika mobil harus berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, aku pun membuka jadwal yang Mami maksud. Astaga membacanya membuatku tercengang. Lima kali dalam seminggu yang benar saja. Ini program sehat atau latihan mau ikut olimpiade?

"Mi, gak salah ini?" tanyaku malas

"Enggak kok, dari lima workout ada dua yang lebih smooth. Tenang aja deh."

"Tapikan gak harus lima kali dalam seminggu Mi. Berat badanku gak sebuntal dulu lah. Dua kali seminggu aja cukup."

"Memang gak separah dulu. Tapi ini lagi on the way kan. Tiga bulan lagi bisa jadi dua puluh kilo naiknya."

Zumba, Strong Nation, Pound Fit, Power Flow dan Yoga. Bagiku semuanya tidak ada yang smooth. Ini sungguh berat.

"Yaudah, ok. Tapi bisa gak aku gak sekelas sama Cindy?" tanyaku.

"Ya gak tau ya Mami. Tadi gak urus tuh jadwalnya Cindy. Cuekin ajalah Dinar. Niat aja buat sehat jangan kendor karena Cindy lah." Kata Mami seperti sudah paham apa alasanku.

"Udahlah semangat. Nanti Mami beliin smartwatch. Biar keliatan kalori kamu sehari udah keluar berapa. Kalau pulang kerja turun aja di depan komplek jalan kaki. Lumayan kan kalorinya."

Ampuuun!!! sungguh aku ingin minta ampun mendengarnya.





My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang