8. Salah Fokus

6.5K 770 19
                                        

Venue yang nyaman, dekorasi nan indah dengan pink rose yang mendominasi, ditambah kebaya yang cantik dan tata rias yang flawless. Semua itu sudah disiapkan Mami dan timnya. Tetapi sungguh disayangkan ini bukan disiapkan untuk acaraku. Ini acara engagement Tasya, adik sepupuku. Anak Tante Diana.

Kulihat wajah Tasya dipenuh dengan kebahagiaan. Begitu juga Vino tunangannya yang menatap Tasya dengan tatapan cinta. Lalu gerakan Vino yang memasangkan cincin dijari manis Tasya. Seperti adegan slow motion yang membuat banyak mata terkesima. Hmm, kapan ya aku bisa ditatap seperti itu oleh seseorang yang dari tatapanya saja sudah menyiratkan banyak hal.

"Tuh, mau gak begitu?" Suara Mami memecah fokusku. Aduh pertanyaan horor nih.

Aku hanya menanggapinya dengan senyum elegan ketimbang memberikan tatapan sebal. Bahkan kakiku sudah ancang- ancang mau kabur saja dari tempat dudukku yang berada di samping Mami.

"Jawab dong. Masa senyum aja," pancing Mami.

"Ya mau dong, Mamiku sayang," jawabku manis.

"Ya kapan dong?"

"Ya nanti dong kalau udah dapet calonnya."

"Mami bisa buat acara kamu lebih indah, lebih keren dan lebih cantik dari ini," ujar Mami semangat.

"Gratis kan tapi?" tanyaku.

"Gratis lah. Kamu tinggal bawa calon aja sesuai yang pernah Mami bilang."

Sudah kuduga pasti itu jawaban Mami. By the way Tasya ini lebih muda satu tahun dariku. Aku tahu Mami pasti panas karena ini. Tasya sebelumnya kuliah dan bekerja di Canberra dan pulang-pulang bawa calon. Mulus sekali ya kehidupan Tasya. Please jangan iri Dinar.

Acara inti selesai, sekarang dua keluarga sedang acara ramah-tamah. Sedangkan aku bersama Danu, adiknya Tasya. Kami sedang sibuk menyantap makanan.

"Wih, kalau Mami yang siapin acara gak kaleng-kaleng ya Kak. Enak banget ini cattering nya," kata Danu

"Parah sih. Udah dua kali nambah ini gue."

"Awas, disiksa Mami lo besok," seloroh Danu.

"Hilih gampang! tinggal pound fit," jawabku asal.

"Kalau acara lo nanti Kak pasti lebih meriah nih dari ini. Beruntung ya lo gak usah banyak keluar duit dan tenaga nanti. Ada Mami make your wedding dream come true," ucap Danu lagi.

Aku hanya berdecak menanggapi Danu. Pasti. Mami pasti bisa membantu my wedding dream come true.

"Sebelum your wedding dream come true. Lo bawa dulu kak calonnya. Udah ke salip Kak Tasya loh ini."

"Gampang ya kalo ngomong. Udah lo jangan banyak bacrit makan aja," tanggapanku ke Danu

Dimsum belum sepenuhnya kutelan. Tante Diana menarikku dan Danu sekaligus. Kami diminta ikut berkumpul bersama yang lainnya. Disela tarikannya Tante berbisik, "Ada sepupunya Vino yang mau Tante kenalin. Kamu gak perlu ragu ini potensial banget. Cocoklah buat keponakan Tante yang manis."

Aku dan Danu pun terpaksa ikut berkumpul. Tante Diana memperkenalkanku ke keluarganya Vino. Lalu ke seorang laki-laki yang tampangnya sudah cukup matang. Kami pun berkenalan namanya Arya. Lalu dari informasi yang kudapat saat itu juga, Arya ini sudah berusia tiga puluh lima tahun. Sudah mapan hanya kurang pasangan saja katanya.

Keluarga Vino langsung bersemangat mau mendekatkan kami secara terang-terangan. Aku tahu Arya pasti canggung, karena aku pun merasa seperti itu. Aku hanya banyak diam saat para keluarga dan kerabat berbincang-bincang.

Aku, Arya, Tasya,Vino dan Danu membuat lingkaran tersendiri. Biasalah anak muda malas berkumpul sama yang lebih tua. Tidak ada obrolan antara aku dan Arya. Kami hanya mendengarkan obrolan Vino dan Tasya yang mencairkan suasana.

Malas sekali kalau begini. Lebih baik aku makan seperti tadi. Kalau duduk begini kan jadi malas bangkit lagi ke stand makanan.

"Kalau yang ini siapa ya? Yang ini belum dikenalin," tanya Arya ke Vino disaat para keluarga terdiam. Pertanyaan Arya membuat semua mata memperhatikannya.

Aku dan Tasya lalu saling tatap yang dimaksud oleh Arya itu Mami. Mami baru muncul lagi, sepertinya tadi sibuk berkordinasi dengan timnya.

"Oh, yang ini Ar?" tanya Vino memastikan.

Arya tidak menjawab pertanyaan Vino, dia langsung mengulurkan tangannya kehadapan Mami. Mami terlihat kebingungan dan menjadi salah tingkah. Apalagi gerak-gerik Arya sedang diperhatikan kami semua.

Mami dan Arya seperti tontonan dalam pertunjukan. Mami pun meraih tangan Arya dan mereka berkenalan dibawah tatapan kami semua.

Kenapa Ar? Kok semangat banget kenalannya? Yang sopan dong. Tanya salah satu kerabat Arya dan Vino yang aku tidak tahu siapa. Mungkin kerabat Vino ini sudah tahu siapa Mami.

"Kalau sama yang ini aja boleh gak Tante?" tanya Arya ke Tante Diana yang langsung direspon Mami dengan pelototan. Tante Diana pun sampai menepuk jidatnya karena pertanyaan Arya.

Vino dan Tasya pun terlihat salah tingkah bahkan Vino sampai berkata, "Duh kok jadi gue yang malu."

Dan aku, entahlah aku ingin terbahak menertawakan Arya tetapi juga ada rasa sebal dihatiku. Aku sudah berdandan dan menggunakan kebaya cantik pun pesonaku kalah dengan Mami.

"Gue kalau jadi Arya gak bakal mau muncul lagi sih," bisik Danu kepadaku.

"Jubah menghilang dibutuhin Arya saat ini," kataku ke Danu dan kami tergelak bersama.

___***___

Kasihan gak sih kalo gini ke si Dinar?? Pasti ego nya terusik lah ya hahaha.

Next bakalan update di lapaknya Buma dan Sharma yaaaa. Terima kasih yang udah mau baca


My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang