"Nar, kok semalam katanya kamu mau di rumah aja. Mami sampai rumah kamu gak ada," ucapan pertama Mami setelah apa yang aku lihat semalam.
"Nar, kamu sembab banget. Kenapa sayang?" pertanyaan kedua. Bahkan untuk melihat wajah Mami saja aku tak sanggup.
Sudah jam dua siang dan aku baru keluar kamar. Kukira Mami sudah pergi keluar, ternyata masih ada di rumah.
"Kamu lagi ada masalah sama Adit dan Gya?" pertanyaan ketiga.
"Biasalah Mi, urusan anak muda." aku menghindar dan masuk lagi ke kamar. Berbicara dengan Mami sekarang bukan waktu yang tepat.
Sudah tiga film yang kutonton tetapi belum bisa juga memperbaiki moodku. Banyak pesan dari Adit, Gya dan Zami. Semuanya tidak ada yang kubalas. Biar saja, aku butuh waktu sendiri.
Dan Zami, ck! Masih berani dia menghubungiku. Itu tandanya aksi membututi semalam sukses. Kalau saja dia tahu aku sudah mengetahui kebenarannya tentu saja dia malu atau mungkin saja memang tidak punya malu.
Ada pesan dari Gya, yang mengajakku menghabiskan waktu di luar saja daripada diam di rumah. Ada pesan dari Adit yang bertanya apa yang sedang aku lakukan. Lalu pesan dari Zami yang bertanya aku sudah bangun atau belum. Untuk Zami tidak perlu aku balas bukan, karena bisa saja dia bertanya ke Mami.
Dan ada satu pesan yang sangat menarik perhatiannku dari Setya.
Setya Rahmandito:
Nar, i got it. Did u got it too?
If u fell the the same, let's meet up.
We have to celebrate.
Aku paham apa yang dimaksud Setya. Pasti dia sangat gembira sekarang. Sesaat membalas pesan dari Setya. Bell rumah berbunyi. Aku mengintip dari jendela siapa yang datang.
Mami langsung mengetuk pintu kamarku dan memberikan paperbag yang berisikan ayam goreng, kentang dan ice cream. "Dari Adit dan Gya katanya," ucap Mami.
Aku pun masuk ke kamar lagi. Tidak berniat untuk memakannya di meja makan. Pesan dari Adit pun masuk lagi.
Adit:.
Gue di suruh Gya pesan makanan buat lo. Itu kesukaan lo semua. Buat kali ini kalau lo ngerasa ayamnya kurang, lo boleh kabarin gue buat minta nambah.
Habisin ya. Lo butuh tenaga buat perang Nyuk.
Semangaaaaat 💪
Aku memang belum makan dari tadi pagi. Nafsu makanku hilang. Tapi wangi ayam goreng ini sangat mengganggu. Adit dan Gya memang tahu saja apa yang membuatku goyah. Mereka pasti tahu kalau aku tidak mau keluar kamar.
___***___
Keesokan harinya aku pun tetap pergi untuk bekerja. Karena hari ini Senin, aku bisa beralasan dengan Zami agar tidak perlu menjemput. Aksi antar jemput tidak perlu dilakukan lagi.
Seharian bekerja dengan berpura semua baik-baik saja itu sangat sulit. Aku bahkan sadar jadi sering melamun beberapa saat yang jelas aku mau hari ini semua berakhir dan jelas.
Sore hari, aku sudah mengabarkan ke Zami ingin makan disuatu tempat. Ini cara eleganku untuk berpura semuanya baik-baik aja. Jangan sampai Zami curiga dan menghindar memberi penjelasan.
Setelah harus menunggu seharian inilah waktunya. It's time!!! Dia terlihat makan seperti biasanya. Aku jengah membayangkan dia juga bersikap seperti ini dihadapan Mami. Makanan dia sudah habis. Sedangkan makananku hanya satu suap yang masuk untuk formalitas.
"Nar, kok gak dimakan? Kenapa gak enak?"
"Tiba-tiba gue gak nafsu."
"Kok bisa? Lo sakit?"
"Iya, enek." Jawabku ketus.
"Yaudah yuk, pulang aja," ajak Zami.
"Ada yang mau gue tanyain." Zami terlihat menunggu aku melanjutkan pembicaraan.
"Kemarin, lo di Hotel Mulia sama siapa?" aku terlihat seperti pasangan yang sedang cemburu. Padahal aku bertanya seperti ini juga demi hubunganku dengan Mami. Si manusia berengsek ini harus mengakui semuanya.
Zami terdiam dan menatapku lama. Dia seperti enggan memberikan jawaban.
"Jawablah," perintahku sinis.
"Sama Agitha." jawab Zami.
"Lo udah kenalan berapa lama?" tanyaku. Zami masih belum responsif. Dia masih lamban untuk menjawab.
"Hampir setahun Nar," jawabnya.
"Lo tahu kan dia Nyokap gue?" tanyaku tajam. Serius aku sangat kesal karena dia lamban dalam menjawab. Kalau saja aku tidak punya malu sudah ku dorong meja makan kami kearahnya.
"Iya, tahu."
"Dasar, berengsek!!! Maksud lo apa kayak gini?"
"Nar, gue bisa jelasin. Gue gak bermaksud buat permainkan kalian berdua."
"Halah basi!!!"
"Bisa lo tinggalin, Nyokap gue," perintahku.
"Nar, i'm so sorry. Sorry gue buat lo sakit."
"Bisa gak? Asal lo tahu. Lo gak pantes buat Nyokap gue."
"Seumur hidup, gue baru ketemu cowok sejahat dan seberengsek lo."
"Coba lo jelasin, apa tujuan lo dan alasannya gue mau dengar."
"Gue kenal nyokap lo lebih dulu sebelum kenal sama lo Nar. Gue kenal dari sepupu gue Cindy. Lo kenal Cindy kan?"
"Kami kenal karena sering Gym bareng dan sebelumnya gue gak tahu kalau lo anaknya Agitha."
"I'm interested to Agitha, tapi dia selalu menghindar. Cuma belakangan ini aja Agitha mau respon gue."
"Sampai kami mulai dekat dan Agitha cerita kalau dia punya anak yang udah dewasa. Honestly, awalnya gue gak percaya. I mean, gue tahu dia single mom tapi gak nyangka anaknya udah dewasa dan itu lo, Dinar."
"Sebelumnya gue tahu kalau kalian satu perumahan. Disitu gue gak sadar kalian satu rumah karena lo selalu gue drop di depan komplek dan Agitha yang selalu nolak kalau gue antar."
"Sampai Agitha cerita sendiri tentang anaknya dan kasih liat foto lo ke gue."
"Dan lo masih aja ngelanjutin ini semua? Dasar gila!"
"Kenapa lo masih terus coba buat keep in touch sama gue? Lo sadarkan cara lo itu busuk banget."
"Karena...gue mau kita dekat. Gue mau lo terima gue, kalau nanti gue jadi pasangan Agitha."
"Itu gak akan terjadi. Gue gak akan biarin itu terjadi. Nyokap gue gak pantas punya pasangan gak bermoral kayak lo," kataku marah.
"Apa Mami tahu kelakuan lo?"
Zami hanya menggelengkan kepala. Lihat, seberapa berengseknya dia.
"Kalau lo masih punya urat malu, stop sampai disini atau gue akan ceritain kelakuan busuk lo ke Mami."
"Nar, gue sayang sama Nyokap lo, gak semudah itu Nar buat berhenti."
"Gue gak peduli!" aku meninggalkan Zami begitu saja.
Jelas sudah semuanya. Apa alasannya dan memang dia sebusuk itu. Teganya dia melanjutkan ini semua setelah tahu hubunganku dengan Mami. Apa ada laki-laki yang seberengsek ini? jawabannya hanya ada Zami sepertinya.
Dia bahkan tidak berpikir hubunganku dengan Mami bagaimana nantinya. Dia hanya memikirkan perasaannya sendiri. Bahkan dari jawabannya dia sadar apa yang telah dia lakukan ke aku dan Mami.
Kenapa ini sangat berat. Aku harus mengatakan tentang ini semua ke Mami. Aku tidak mau Mami jatuh ke orang yang salah.
___***___
Emang Zami asdskshsnskimsl
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
Literatura KobiecaPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
