"Tumben sudah mandi mau kemana?" Pertanyaan Mami yang kuterima saat keluar kamar.
"Mau hangout aja," jawabku santai.
"Suruh aja Adit makan siang disini dulu. Baru deh kalian pergi."
Duh, Mami pasti mengira aku pergi bersama Adit nih. Hari ini aku mau mengantar Zami. Dia mau membeli sebuah sepeda, rupanya Zami seorang bikers. Kulihat beberapa postingan diakun instagram miliknya beberapa kali dia memposting foto saat sedang road bike atau berbagi kebersamaan dengan sesama bikers.
Setelah ajakan Zami menonton film dua minggu lalu, aku merasa kami lebih dekat. Kami banyak berinteraksi sekarang. Saat dikantor atau pun diluar. Ya walaupun, lebih sering komunikasi kami terkait pekerjaan. Setidaknya ada kemajuan lah. Namanya juga usaha. Anggi yang tahu hal ini sangat mendukung bahkan menyuruhku lebih aktif bergerak. Biar ganti status kata Anggi.
"Aku gak pergi sama Adit tapi teman kuliah Mi," jelasku.
"Oh gitu."
Cepat-cepat aku mengabarkan Zami menunggu di depan komplek perumahan saja. Daripada Mami curiga. Aduh ini sebenarnya norak sih. Aku seperti anak remaja yang bersembunyi saat di jemput kekasihnya. Eh tapikan Zami bukan kekasihku ya. Ah entahlah. Pokoknya menjemput di depan komplek merupakan solusi terbaik untuk saat ini.
Setelah merasa sudah siap dan rapih seratus persen aku merelakan berjalan ke depan komplek dengan cuaca yang mulai terik.
Masuknya aku ke dalam mobil Zami tentu saja dibarengi dengan pertanyaan "Kok gak di depan rumah aja?"
"Iya, tadi antar titipan Nyokap dulu ke rumah yang di depan tuh," jawabku berbohong.
Zami membawaku ke sebuah Bike Store di daerah Kebayoran Baru. Sesampainya disana tidak banyak pengunjung yang ada. Banyak jenis sepeda yang di pajang dengan berbagai merek dan bentuk yang berbeda.
Aku tidak terlalu paham sih jenis-jenis sepeda. Tetapi yang aku tahu, setiap jenis bisa berbeda kegunaannya. Seperti salah satu sepeda yang menarik perhatianku sekarang sebuah sepeda lipat berukuran sedang. Ini seperti milik Adit hanya berbeda warna saja. Adit sering menggunakan ini jika bermain ke rumahku slash numpang makan.
"Wih mahal juga nih. Banyak duit juga si Adit." Pikirku dalam hati ketika melihat harga yang tertera. Sepeda ini seharga sebuah netbook.
Zami terlihat sibuk bertanya-tanya dengan seorang Sales Advisor dengan sebuah sepeda yang sedang ditunjukan si Sales. Aku pun melanjutkan melihat-lihat berbagai sepeda lainnya. Sampai hampir setengah jam berlalu aku pun menghampiri Zami.
"Ketemu yang dicari?" Tanyaku.
"Udah nih. Yang kayak gini," jawab Zami sambil menunjukan sebuah sepeda berwarna hitam.
Kulihat harga yang tertera untuk sepeda yang dimaksud. Muncul lah pertanyaan, "Ini seriusan harganya? Apa gak terlalu mahal cuma buat sepeda?"
"Kesini deh, coba lo lihat yang ini," perintahnya.
Aku benar-benar terkejut. Aku bertanya seperti itu karena sepeda yang dibeli Zami bisa membeli motor matic terbaru. Dan yang satu ini, yang ditunjuk oleh Zami bahkan bisa membeli sebuah mobil. Pusing aku lihat harganya.
"Angkat tangan sih gue Mas."
Dia terkekeh karena responku. "Lagian apa yang bisa buat mahal sih? Sama aja. Dikayuh juga. Rodanya juga sama-sama dua."
"Ya beda lah Dinar. Ada harga ada kualitas. Untuk yang ini pastinya lebih enteng pas dipakai. Lebih kuat juga. Ini juga sepeda buatan Eropa makanya mahal."
Oh begitu rupanya. Aku mana tahu. Ucapku tentu saja hanya dalam hati.
"Sepeda lo seharga motor baru Mas. Gak sayang?" tanyaku lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
