"Kamu ajalah tolongin Mami ya Nar. Kok acara sekolah anak sekarang ada-ada aja. Dulu kamu kecil, nggak ada tuh model beginian."
"Ya beda dong Mi. Dari aku kecil sampai sekarang udah ganti berapa kali Presiden coba," sahutku.
"Mami pusing, kemarin pakai acara cari kostum segala. Mending kostum yang gampang, lah ini brokoli lah dicari. Untung aja Gya mau bantuin."
"Clover baru masuk SD loh Mi. Masih panjang nih ceritanya."
"Ya iya, ini masih SD aja udah sakit kepala Mami ngikutinnya. Drama musical lah, art festival, belum lagi kemarin entreprenurial stage. Pusing Mami seriusan."
"Akhirnya, Mami beli puding online. Mami bawain deh tuh Clover jualin di sekolahnya."
Aku tertawa mendengar Mami yang misuh-misuh. "Mi, kan ada Zami. Minta bantuin lah."
"Udah sih. Cuma tahu apa sih Nar laki-laki yang ada makin kacau."
"Mami kan mau Clover sekolah di tempat itu, yaudah harus ikutin dong."
"Kalau begini, emang umur nggak bisa bohong Nar. Mami memang orang zaman dulu."
"Tante semangat dong. Aku lagi seneng-senengnya loh Aryan mau sekolah gitu."
"Ya beda dong Gy. Tante juga seneng banget dulu pas masanya Dinar. Sekarang mah suka ada-ada aja."
"Mami juga males Nar, ke sekolah Clover. Mereka sangkanya Mami, Oma nya loh. Teman sekelas Clover rata-rata keluarga muda."
Nah ini dia nih inti dari permasalahannya. Selain Mami malas karena sekolah Clover yang banyak acara, Mami juga malas dengan lingkungan wali murid. Clover dan Aryan anaknya Gya masuk dalam sekolah yang sama. Hanya saja Aryan berada di dalam kelas kindergarten.
"Akhir tahun ini aku mau liburan ke Jepang. Jadi tolong mulai dari sekarang, Tante dan Dinar di list ya mau titip apa."
"Lo kan udah tiga kali kesana. Masa Jepang lagi?" Tanyaku penasaran.
"Iya, gue mau bawa Aryan ke Hogwarts. Sekalian daftar," ucap Gya.
"Terus gimana sama kerjaan kamu? Lancar kan?" ini pertanyaan Mami untukku.
"Iya, Syukurnya baik-baik aja."
"Kamu jangan banyak begadang Nar, coba atur pola tidurnya."
"Ternyata jadi Ibu itu susah ya Mi." Aku yang terbawa suasana mendadak lesu dan melankolis.
"Dinar, sayang. Kamu pasti bisa, jangan dibawa berat Nar."
"Bayangin deh Mi, saat aku lagi sibuk buat ilustrasi Dastan acak-acak ruang kerjaku. Waktu istirahatku cuma pas Dastan tidur dan itu sekalian juga buat kerja."
"Ya kan kamu ada Suster yang bantu."
"Iya Nar, kasih aja si Mbak. Lo kerja deh."
"Tidak segampang itu wahai Suketi," sahutku ke Gya.
"Dastan nempel mulu ke gue. Mau ke kamar mandi aja gue ditangisin, pusing."
Tiga tahun lalu aku memutuskan untuk menikah dan satu tahun lalu aku memiliki Dastan. Sebenarnya waktuku hampir seratus persen dirumah, karena pekerjaanku bisa remote jadi tidak ada beda antara ada atau tidaknya Suster yang membantu merawat Dastan.
Ketika aku sudah memegang Ipad untuk menggambar, Dastan pasti menangis. Memintaku menutup Ipad dan bermain dengannya. Tasya bahkan pernah menggoda kalau aku Ibu yang sering menyumpal anaknya dengan susu. Karena hanya dengan susu Dastan bisa tertidur dan aku bisa melanjutkan aktivitas.
Apalagi sekarang Dastan baru bisa berjalan. Lengah sedikit kepalanya memar. Kalau sudah seperti itu aku sangat menyesal karena merasa gagal, Dastan terluka di rumahnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
