Pertemuanku dan Zami tidak banyak membawa perubahan. Mami masih menjaga jarak, tetapi untuk komunikasi kami mulai berjalan lancar. Hanya saja sulit untuk bisa bertemu secara langsung. Aku dan Mami berada dalam satu kota tetapi seperti merasakan hubungan jarak jauh alias ldr.
Karena tidak mau memantik api, aku membiarkan saja keadaan ini. Aku tidak mau memaksa Mami dengan harus bertemu, lalu membawa masalah pada rumah tangga mereka. Kusut. Hubungan kami sudah kusut sedari awal. Susah sekali mengurainya. Ditambah yang membawa kekusutan bukan hanya aku dan Mami saja tetapi melibatkan keluarga besar.
Hari ini aku punya satu kesempatan bertemu Mami karena salah satu kerabat kami melangsungkan pernikahan. Seperti biasa wedding orginizer Mami yang mengatur segalanya. Mami sudah dipastikan hadir beserta keluarga besarku tentunya.
Pengantin hari ini adalah kerabatku yang ada di pihak laki-laki namanya Andre. Acara pernikahan Andre dilangsungkan meriah. Banyak tamu yang memenuhi ruangan. Selain kerabat, Andre pernah satu bimbel denganku saat sekolah menengah pertama. Jadi benar-benar tidak ada alasan untukku agar tidak hadir.
"Eh Nyuk, gue ambil kambing guling dulu ya. Lo mau nggak?" tanya Adit.
"Nggak, lo aja sana." Tolakku
Adit pergi meninggalkanku begitu saja untuk ke stand kambing guling. Pertanyaannya kenapa Adit bisa ada disini, ya karena dia di undang oleh Andre. Sudah aku bilangkan kalau hidupku memang diisi oleh Adit. Jadi aku, Adit dan Andre satu bimbel saat masa sekolah dulu. Lalu pertemanan Adit dan Andre berlanjut sampai sekarang karena mereka sering bermain futsal dan badminton bersama.
"Kamu kesini minta ditemenin Adit?" Pertanyaan Tante Diana memecah atensiku yang sedang memainkan ponsel.
"Nggak Tante, Adit kan sama Andre berteman. Kebetulan aja."
Tante Odi datang dan langsung duduk disebelahku. Jadilah aku diapit oleh dua orang ini. Ini artinya gawat.
"Mana pacar kamu? Kok kamu nggak kenalin ke kami?" Ini pertanyaan Tante Odi.
"Yeeeuh mana. Aku nggak punya tuh sekarang," jawabku.
"Itu tadi? Tuh yang lagi makan kambing," tunjuk Tante Odi.
"Tante sayang, itu temanku dari kecil namanya Adit," jawabku halus.
Tidak lama Adit justru menghampiriku. Aku yang mengerti langsung berpura, "Dit kalau stand soto dimana? Pengen deh gue."
"Disana mungkin," jawab Adit sambil memberikan petunjuk.
"Ya sini dulu dong. Masa kabur sih." Semprot Tante Odi yang mengerti gerak-gerikku. Adit pun langsung memberikan salam ke Tante Diana yang sudah dikenalnya. Lalu Tante Diana mengenalkan Adit ke Tante Odi.
"Sini duduk dulu. Nggak usah takut kehabisan. Makanannya banyak kok," ajak Tante Odi.
Akhirnya aku dan Adit duduk bersama mereka. Terjebak. Kursi yang tadinya bebaris dari depan kebelakang sudah diputar Adit sehingga kami berhadapan.
"Adit sekarang jarang ya main sama Dinar. Biasanya kalian berduaan terus." Ucap Tante Diana
"Iya Tante, kami udah sama-sama agak sibuk."
"Oalah, kirain Tante pacar kamu ngelarang kamu berduaan sama Dinar."
"Hehe, lagi gak punya nih Tante. Udah lama jomblo," jawab Adit cenge-ngesan.
"Sama nih Dinar juga. Kalian berdua terlalu fokus kerja.".
"Kalau gitu, Apa sama Dinar aja ya Tante?" tanya Adit memulai canda.
"Loh, yasudah. Kenapa bingung. Kalian cocok kok. Apalagi yang perlu diraguin," kata Tante Diana.
"Apasih Tan." sahutku malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
