Aku juga tidak mengerti kenapa mau-maunya aku masih meladeni Zami. Cuma ada Zami kandidat terkuat untuk memecah telur comma relationshipku. Tidak ada orang lagi. Hilang Zami, aku tidak punya gantinya. Ya Tuhan bisakah aku berharap ini yang terakhir saja. Tidak perlu ada pernikahan yang terlalu cepat. Cukup aku bisa menemukan orang yang pas untuk menjalin hubungan ke arah pernikahan nantinya. Hiks! terdengar sangat putus asa bukan dan berharap untuk satu orang. Padahal hubungan ini belum ada kepastiannya.
Seiring berjalannya waktu aku bisa mengenal karakter Zami. Dia ini supel ke semua orang, dewasa dan cukup bijaklah. Banyak pemikiranku yang "aneh" kalau kata Gya dan Adit bisa disadarkan oleh Zami. Maka dari itu, aku merasa dia cocok untuk menetralkan pemikiranku yang aneh dan absurd.
"Kenapa sih, kok gue gak pernah boleh antar jemput di depan rumah? Nyokap lo galak?"
"Hmm galak sih nggak, cuma ya malas aja nanti banyak tanya."
Zami tertawa mendengar jawanbanku. Yaampun kalau tertawa seperti ini aku takut jadi tambah baper.
"Gimana rasanya jadi anak tunggal?"
"Ya enak, gak enak sih. Enaknya tanpa jadi attention seeker gue udah kena spotlight duluan. Nggak enaknya ya sepi aja. Apalagi gue cuma berdua sama Mami." Zami sudah tahu kalau aku hanya hidup berdua dengan Mami tanpa sosok ayah disampingku.
"Keren sih Nyokap lo kalau gitu, bisa bertahan sampai lo dewasa kayak gini."
"Keren banget!!! gak ada gantinya deh pokoknya." Pujiku ke Mami.
"Menurut lo Mas, kalau nyokap gue punya pasangan di usia sekarang gimana?" duh keceplosan kenapa aku berbagi cerita sensitif seperti ini ke Zami.
"Hmmm, ya bagus dong gak masalah. Lo juga udah dewasa Nar. Gak perlu khawatir. Yang diperluin nyokap lo itu teman sampai beliau tua nanti. Kalau nanti lo punya pasangan, Nyokap lo gimana?"
"Ya ikut lah, kalau bisa." jawabku.
" Ya kalau bisa, kadang kan ada pasangan yang hatinya gak selapang itu buat terima ada mertua di rumah tangganya." jawab Zami.
Iyaps, masuk pancingan. Aku semakin penasaran dari jawaban yang ia berikan.
"Kalau lo, termasuk yang akan keberatan atau nggak?"
"Nggak sih kalau gue, menurut gue kalau terima pasangan itu ya satu paket. Pasangan dan keluarganya. Asal pasangan gue nantinya ngerti kalau dia bukan tanggung jawab keluarganya lagi, tapi tanggung jawab gue. Ya kasarnya sih ya, gue harus lebih jadi prioritas daripada keluarganya. Dia harus lebih dengerin gue daripada keluarganya. Itu kasar nya ya Nar, Ya lo ngerti lah maksud gue gimana." jawab Zami panjang lebar. Aku mendengarkannya dengan seksama dan mengerti maksud tersirat omongan Zami.
Duh kalau gini, aing tambah meleleh Mas Zami. Aing harus gimana ini.
"Sama aja sih menurut gue kalau posisinya calon pasangan gue ternyata sudah punya anak sebelumnya, ya gue juga harus terima kan."
"Beda dong, kalau anak kan memang masih tanggungan orang tuanya Mas. Kalau di posisi kayak gue kan bawa Nyokap. Nyokap gue udah pasti bisa mandiri. Tapi gue juga gak mau beliau sendiran. Asli ribet kan pemikiran gue?" aku jadi bertanya sama Zami tentang pemikiranku yang memang ribet.
"Lah kalau anaknya udah bisa mandiri juga kayak lo, dan gak mau ikut ibunya. Ya gak masalah juga. Itu pilihan masing-masing. Intinya kalau lo tanya gue keberatan atau nggak kalau ada keluarga pasangan gue yang ikut, ya jawabannya nggak. Karena gue pikir ya memang gue masih bisa nanggung. apa yang harus di pusingin."
"Lagian kalau posisinya kayak lo ya Nar. Kalian cuma berdua, menurut gue calon pasangan lo nantinya memang harus terima keadaan kalau lo bawa Nyokap. Semandiri apapun Nyokap lo. Gue sih gak tega ya kalau justru malah tinggalin nyokap calon pasangan gue nantinya, kalau posisinya kayak lo."
Aduh jantungku tolong rileks. Dan untuk bibirku yang semakin tertarik ke samping tolong lebih kalem. Jangan membuatku malu dengan senyum alay ini. Aku jadi lebih penasaran. Zami termasuk yang open minded menurutku. Orang seperti ini asik untuk di kulik. Sebelum aku bertanya lebih jauh, Zami malah mengajukan pertanyaan.
"Memang Nyokap lo ada rencana punya pasangan lagi?"
"Gak tahu sih gue. Kan gue cuma nanya aja. Karena kemungkinannya pasti ada. Karena Mami masih muda juga masih pantaslah buat punya pasangan lagi sebenernya"
"Dan lo setuju kan kalau begitu?"
"Setuju sih. Cuma kenapa baru sekarang sih gitu maksud gue."
"Ya mungkin menurut Nyokap lo, it's time. Atau baru ketemu yang cocok aja, bisa juga baru ketemu lagi yang buat beliau jadi falling in love."
"Hilih, falling in love. udah tua!!!"
"Katanya tadi masih mudaaaaa," sahut Zami. Kami pun tertawa karena ini.
"Ya gak usah falling in love lah nyebutnya, gue geli jadinya,"kataku sambil tertawa.
"Dulu emang Nyokap lo bener-bener gak punya hubungan Nar?"
"Hmm, setahu gue sih gak ada ya. Atau gue aja kali yang gak tahu. Namanya juga masih bocah. Tapi dulu kalau ada yang ngedeketin seinget gue Mami selalu menghindar. Katanya gue sama Mami aja cukup."
"Padahal dulu, gue sempet berharap punya Ayah. Kayak temen-temen gue." lanjutku.
Dulu saat masih di bangku SMA aku ingin sekali punya Ayah. Aku iri dengan Gya saat itu. Pernah saat kelas sebelas ada kegiatan camping di daerah Lembang, Bandung. Ayah nya Gya datang jauh-jauh dari Jakarta ke lokasi camping karena saat itu Gya salah makan dan mengeluh sakit perut. Padahal, guru kami masih bisa menangani Gya, kalaupun darurat lokasi camping tidak jauh dari rumah sakit.
Aku dan Adit yang menemani di samping Gya saat itu melihat sendiri bagaimana Ayahnya datang dengan wajah khawatir dan langsung memeluk Gya. Gya yang tadinya menahan kesakitan menangis di dada Ayahnya. Mungkin untuk sebagian orang menganggap adegan itu berlebihan. Tapi tidak denganku. Hatiku benar-benar tersentuh melihatnya. Aku bisa memaklumi kenapa Ayahnya rela datang jauh-jauh. Mungkin Mami juga akan melakukan hal itu. Tapi itu Mami, bukan Papi yang datang. Aku langsung membayangkan jika Papiku, masih hidup apakah akan melakukan hal yang sama? Dari sinilah aku berandai ingin punya Ayah yang baik. Tapi bertahun-tahun berlalu itu tidak terjadi.
"Jadi emangnya lo punya kriteria apa sih buat calon Nyokap lo nantinya?"
"Yang kaya" jawabku santai.
"Dih, uang banget sih lihatnya." ucap Zami sambil tertawa.
"Biarin. Parameter Bapak-able buat gue tuh beda tipis lah sama Bokapnya temen gue. Minimal bisa kasih gue uang jajan sebanyak gaji gue lah Mas. Atau nggak bisa beliin gue Pajero Sport lah."
"Kalau kayak gitu mah Nar, Calon Bokap lo harus pengusaha tambang atau batu bara."
"Emang, gak bisa dong yang pas-pasan aja. Yang ada nanti dia numpang hidup ke Nyokap gue." kataku mantap.
___***___
Iya dong, masa nanti Dinar berbagi jatah uang jajan sama Bapak Tiri nya wkwkkkk
Salam Monday Madness!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
