Setelah mendengar berita mengenai Zami dari Resika tentu saja hatiku menjadi goyah. Aku jadi terpikir perkataan Adit. Lebih baik aku meninggalkan sesuatu yang tidak pasti jika aku sendiri takut untuk meminta kejelasan.
Zami masih intens berkomunikasi denganku. Aku juga masih merespon. Hanya saja rasanya sudah tidak menggebu seperti sebelumnya. Aku tidak bisa main pergi begitu saja bukan. Harus pelan-pelan jika ingin elegan.
Sabtu pagi cuacanya sedikit mendung sebenarnya. Karena butuh refresh aku mengajak Adit untuk lari pagi. Menurut Adit ajakan ini seperti menemukan air di padang tandus. Jarang terjadi. Mami saja heran aku sudah pakai sport wear pagi-pagi begini.
Nah itu dia si Adit. Dia menungguku di pos satpam perumahan. Dasar si menyebalkan. Kami berencana lari di sekitaran perumahan atau biasanya bisa bablas masuk ke Taman Wisata Ragunan. Kalau sudah masuk sampai Ragunan alamat kami pulang naik ojek. Karena pastinya terlalu lelah jika pulang harus berlari lagi.
Jarakku semakin dekat dengan Adit. Seperti biasanya dia pasti menyapa lebih dulu.
"Lama banget Lo Nar. Keburu siang ini."
"Baru setengah enam Dit. Tukang Bubur aja baru sampe tuh." Aku menunjuk Tukang Bubur yang biasa berjualan di depan komplek yang terlihat memang baru memarkirkan motornya.
"Udah ayo, jalan dulu lah," ajak Adit. Nanti setelah berjalan biasanya kami melakukan stretching terlebih dahulu di sebuah Taman.
Adit berjalan terlebih dahulu meninggalkanku yang termenung melihat jacket hitam yang sedang digunakannya. Hatiku langsung sesak membayangkan jika Adit adalah orang yang Mami belikan jacket.
"Nar, ya ampun gue daritadi ngomong sendiri. Gue kira lo di belakang gue," teriak Adit di depanku.
Dengan langkah yang berat aku menghampirinya dan mencoba menjernihkan pikiran. Tidak mungkin Adit orangnya.
Setelah sampai di Taman kami melakukan stretching, barulah kami memulai running pagi ini. Aku yang pusing meninggalkan Adit begitu saja dan langsung memasang earphone di telinga.
Anehnya sekarang aku berlari tanpa merasa lelah. Seperti ada sesuatu yang harus ku kejar di depan. Melihat smartwatch di pergelangan tangan sudah hampir tiga kilo meter. Padahal biasanya satu kilo meter saja aku sudah berat langkah.
Aku hanya mengurangi kecepatan dengan berjalan dengan langkah yang agak lebar. Sampai suara Adit terdengar disebelahku.
"Kalau kuping di pasangin earphone gitu dua-duanya, lari sendiri aja." Protes Adit dengan suara yang kencang disampingku.
"Gue denger, gak usah teriak!" jawabku sebal.
"Ya habis, lo kalau sambil denger musik satu aja lah yang dipasang tuh earphone. Di klaksonin orang gak denger nanti."
Aku menghela nafas. Aku memang jarang sekali running sambil mendengar musik seperti ini. Karena biasanya Adit disampingku. Dia lari saja masih berceloteh jadi aku lebih memilih mendengar perkataanya daripada lagu yang berputar di Spotify. Kadang ujungnya kami jadi mengobrol sambil lari kecil. Jarang serius lah acara running ini. Sedikit lari banyak istirahatnya.
"Lo semangat banget sih Nar. Kayak lagi lomba lari. Santuy aja friend. Gak ada hadiah nya ini." Ucap Adit.
"Biar kurus," jawabku asal.
"Gak gemuk kok. Cuma sedikit berisi," katanya sambil terbahak.
"Minum dulu ayo, haus gue." Ajak Adit yang langsung menarik tanganku ke warung semi permanen yang berada didekat kami.
Kami beristirahat sambil menenggak minuman yang tadi dibeli dan sambil meluruskan kaki Aku benar-benar meyakini jika jacket yang sedang dikenakan Adit ini sama persis.
"Jacket lo baru?" tanyaku yang dari tadi sangat penasaran. Dia hanya cengengesan tidak jelas. Serius aku ingin sekali menyiramnya dengan sisa air di botol yang sedang ku genggam.
"Iya dong. Makin keren gak sih gue pakai jacket ini." jawabnya.
"Beli dimana?"
"Biasalah, hadiah dari fans ini "
Aku langsung membesarkan mata karena kaget dengan jawaban Adit. Tapi dia justru tertawa lagi karena melihat responku.
"Siapa yang kasih?"
"Lo kenapa sih Nar. Tumben kepo masalah begini. Lo mau juga jacket begini?"
"Masih on going di storenya paling, beli aja," ucapnya lagi.
"Atau minta beliin Mami dong, biasanya kan dibeliin. Biar sama kita."
Apa katanya tadi? Biar sama? Maksudnya apa? Sama-sama dibelikan Mami gitu? Aku yang kesal langsung menjabak rambut Adit sampai dia bingung kenapa responku berlebihan.
"Udah ah gue balik," kataku sambil meninggalkan Adit.
Aku terlalu takut mendengar kelanjutannya. Aku belum siap mendengar tambahan perkataan Adit nantinya. Tapi hati kecilku masih menolak ini semua. Masih ada sedikit keyakinan kalau bukan Adit orangnya.
Tapi disatu sisi juga ada kemungkinan kalau memang Adit orangnya. Terlebih Adit adalah fans Mami garis keras. Dia selalu menggoda Mami di depanku. Hanya di depanku sih. Selama ini aku selalu berpikir jika Adit menggoda Mami seperti itu hanya untuk membuatku marah. Tidak serius seperti ini.
Masa harus Adit orangnya. Buyar dong ekspektasiku tentang Papa-able seperti ayahnya Gya. Dih!!! Pokoknya aku tidak sudi memasukan nama Adit di dalam kartu keluarga Mami. Lebih baik kosong saja slot untuk kepala rumah tangga jika Adit orangnya.
___***___
Jadi siapa nih terduganya??
Kemarin ada yang sempat spill si Zami.
So, Adit atau Zami??? atau bisa jadi orang lain dengan kriteria calon bapak-able nya Dinar wkwkk?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
