14. Pengakuan si Buaya

6.1K 566 10
                                        

"Geli woy, denger lo di panggil Mas begitu." Gya langsung menyemprot Adit. 'BM' ku tercapai. Kami sedang menyantap buah Durian bersama. Adit menyusul kesini setelah dikabari kalau kami mau menyantap Durian dahulu sebelum pulang.

"Dia yang manggil, gue gak minta dipanggil gitu kok." ujar Adit.

"Ketemu bocah dari mana sih lo Nyuk?" tanyaku ke Adit.

"Dari Ibu, biasalah campur tangan emak-emak," jawab Adit sambil mencomot satu potong Durian dan langsung disantap nya.

"Anak tetangga?" tanya Gya Penasaran.

"Bukan, Namanya Anneta anaknya temen sekolahnya Ibu. Bener sih Nyuk, masih bocah." Jawab Adit ke arahku.

"Kok lo tumben mau-mauan di comblangin gitu?" tanya Gya.

"Kasihan sumpil!!!! Kalo tuh anak end-up sama lo," kataku menyerang Adit. Padahal dia saja belum jawab pertanyaan Gya.

"Gini ya, para Adit Ladies. Gue ada alasannya kenapa mau ngikutin apa mau Ibu. Sesungguhnya harus dicoba dulu untuk di tolak. Tuh catet." Jelas Adit kepadaku dan Gya. Susah memang kalau berhadapan dengan Buaya.

"Sekarang lo bisa ngomong gini. Kalau lo yang sampe kepincut duluan sama tuh cewek, lo harus beliin gue Duren sebanyak itu." Aku menunjuk tumpukan Durian yang disusun oleh si penjual.

"Yaampuuuuun Dinar!!! Nanti yang ada diabetes lo, kalau sebanyak itu." seloroh Adit heboh.

"Alesan. Bilang aja gak mau keluar duit." kataku mencibirnya.

"Gue beliin sama yang itu sekalian kalau gue yang kepincut duluan." Adit menunjuk tumpukan Durian disebelahnya.

"Bener ya!!! Gue catet nih." Ucap Gya ke Adit.

"Iya, lo berdua boleh ingetin gue nanti kalau bener kejadiaan. Karena, kalau benar kejadian anggap aja itu syukuran berarti gue ketemu jodoh lebih cepet dari perkiraan."

"Dan, bye Dinar. Gue nikah duluan." Tambah Adit yang langsung terbahak dengan ucapannya sendiri. Aneh kan, dia sering seperti ini. Tertawa atas ucapannya sendiri.

"Lo bilang gak mau nikah cepet-cepet. Buaya kali kayak lo, gak mungkin nikah cepet," kataku tak mau kalah.

"Ya lihat aja nanti gimana. Lo bakalan ajak main anak gue Nar. Karena gue duluan yang bakalan laku." Ucap Adit kepadaku.

"Ih, najis. Sok ganteng lo. Belum tentu lo laku duluan. Catet!!!" aku jadi sebal mendengarnya.

"Eh, udah kalian berantem gitu di lihatin orang," kata Gya menengahi kami.

Aku tahu, Adit bukan tipe laki-laki yang akan menikah dalam waktu dekat. Dia ini masih manja. Maklum anak terakhir. Apalagi, dia masih senang bermain kesana - kemari. Pernikahan bukanlah prioritasnya untuk sekarang. Gawat kalau menikah dalam waktu dekat. Kasihan istrinya nanti.

Apalagi seingatku, Adit itu berprinsip settle dulu baru menikah. Dia beranggapan kalau pasangannya nanti tidak perlu ikut susah harus ikut membayar cicilan rumah, keperluan rumah tangga dan uang susu anak. Makanya, Adit rajin menabung sejak dini.

"Ini semua gara-gara Ibu tahu kalau gue udah putus sama si Sasha. Padahal mah gue santuy aja. Diluaran masih banyak yang mau sama gue. Iya gak Nar? Tanya Adit sambil mencolek lenganku yang langsung ku hadiahi dengan pukulan di lengannya.

"Udah ya, gue gak mau muntah disini Dit. Coba tolong serius ceritanya." Perintah Gya.

"Intinya, Ibu bilang mau kenalin aja. Yaudah gue coba ajalah. Kalau gue langsung tolak juga gak ada alesannya."

"Kalau anak orang terlanjur baper gimana?" tanyaku.

"Pacarin lah. Susah banget."

Aku ingin mengelus dada mendengarnya. Berbicara dengan Adit itu bisa bikin emosi tapi juga bisa meningkatkan mood.

"Terus cewek yang kemarin gimana?" Tanya Gya.

"Oh yang itu. Masih jalan sih. Gue mah yang potensial ajalah gue jadiin. Anneta masih terlalu dini." Selorohnya.

"Tapi kalau Ibu lo mau nya Anneta gimana? Tapi dia bukan tipe lo banget kan?" tanyaku.

Sepenilaianku yang terlalu cepat, Anneta ini bukan kriterianya Adit. Sederetan mantan kekasihnya biasanya bukan wanita yang kalem dan tersipu-sipu seperti itu. Biasanya Adit suka dengan wanita yang ekstrovert. Kalau dari looknya paling tidak seperti selebgramlah.

"Yaudah ya gue sikat aja. Tapi Anneta harus nunggu gue selesai S-2 terus paling nggak cicilan rumah udah setengahnya lah."

"Buseeet lama dong. Lo aja belum mulai kuliah. Belum lagi nunggu cicilan sampe lima puluh persen. Anneta yang dini bisa tua dijalan nunggunya." Adit dan Gya terbahak mendengar perkataanku.

"Kok jadi cewek sih yang nunggu?" tanya Gya geregetan.

"Loh kenapa emangnya? Suka gini nih. Kalian para Adit Ladies pemikirannya jangan sempit dong. Jangan double standart. Kalau pasangannya punya cita-cita ya support. Apa melulu harus laki-laki yang nunggu?"

"Ini Durian kok keren sih! Bisa bikin lo waras seketika," sahutku menimpali pernyataanya.

"Contoh nih Dinar, masih nunggu kepastian. Udah Nar, tinggalin dari sekarang sebelum lo nangis bombay, jangan buang waktu sama orang yang gak pasti." perintah Adit. Sekarang Adit mulai mengubah topik obrolan kami. Ironis pernyataan seperti itu di keluarkan oleh Buaya kali macam Adit.

"Nanti aja Dit, gue masih agak penasaran."

"Coba sini gue lihat dong Nar, mana sih orangnya sampe bikin lo batu kayak gini," pinta Adit.

Aku memberikan akun instagram milik Zami. Dengan ancaman ke Adit, jangan sampai tertekan memberikan love. Sebelumnya aku hanya pernah menunjukan satu foto Zami dari profil picture akun WA.

"Gimana Gy?? Oke kan?"

"Gue gak perlu ragu sih Nar. Lo jarang puji cowok kalau nggak benar-benar itu cowok punya tampang ganteng."

"Jangan lihat dari gantengnya doang dong," sahut Adit masih sambil scroll up halaman sosmed Zami serius. Sedangkan aku masih sibuk menghabiskan daging Durian yang sedang ku nikmati.

"Ya apalagi yang mau gue pertimbangin. Secara diatas kertas dia juga oke. Ini potensial. Kalau gue kenalin dia ke Mami bisa-bisa langsung disuruh ngelamar."

"Feeling gue udah lepasin aja. Gak usah lo berharaplah daripada nangis bombay."

"Inget kan, gimana dua mantan terakhir lo Nar? Lo gak ikutin apa omongan gue, beneran nangis bombay deh."

Iya, Adit bilang dua mantan terakhirku. Padahal dua mantan itu maksudnya semua. Aku hanya dua kali berpacaran dan benar saja disaat hubungannya tidak kondusif aku selalu mencoba pertahankan dan ujungnya benar, nangis bombay.

Apa Zami akan jadi laki-laki ketiga yang akan membuatku nangis bombay lagi???

___***___

Untuk part ke depan sedikit mulai ketahuan siapa sih calon bapaknya Dinar.

Kemarin ada yang sempat comment kalau si Zami orangnya 😂😂😂

Jadi kita tunggu aja ya, Zami atau pria lainnya 😂

Thanks for reading.

My Mom Is My RivalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang