Rencanaku, Setya dan Mikha membuka studio design, ilustrasi dan animasi berjalan lancar. Kami membuka studio kecil dengan menyewa sebuah rumah di daerah Mampang Prapatan. Pelan-pelan kami bisa mendapatkan beberapa klien. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi menurut kami ini awal yang bagus untuk menambah relasi dan ekspansi.
Setya ada dibagian animasi, sedangkan aku dan Mikha di bagian design dan ilustrasi. Fokusku di bagian ilustrasi. Karena pernah menjadi freelancer dan menjual jasa saat masih kuliah dulu, setidaknya namaku tidak terlalu redup. Masih ada beberapa klien yang masih keep in touch dan kuarahkan ke studio kami.
Aku lebih sering mendapat klien di bidang fashion ilustrasi. Jadi, aku membuat ilustrasi gambar seperti membuat ilustrasi merchindise salah satu brand di bidang fashion. Lalu juga ada yang minta dibuatkan visual ilustrasi untuk branding sebuah brand kecantikan. Kami juga menjual merchindise lucu nan unik dengan dilengkapi ilustrasi menarik yang pangsanya tentu saja wanita. Seperti tote bag, book planner, washi tapes, kartu ucapan dan sekarang sedang mencoba memulai untuk menjual pakaian.
Aku tetap tinggal di rumah peninggalan Papi. Sekarang aku tinggal sendiri. Karena semenjak menikah Mami tinggal bersama Zami di daerah Lebak Bulus. Sampai sekarang aku tidak pernah mengunjungi rumah mereka. Jika Mami ingin bertemu kami akan bertemu di mall atau restaurant bersama Clover yang ikut serta.
Clover sedang lucu-lucunya. Dia sudah memasuki masa toddler sekarang. Mami terlihat sekali ingin membonding aku dengan Clover. Aku tahu ini jahat tetapi entah kenapa perasaanku tidak bisa selepas aku bermain dengan Ocean anaknya Tasya. Clover dan Ocean seumuran. Mungkin karena sejak dari bayi aku selalu membiasakan diri berkomunikasi dengan Ocean jadi aku lebih merasa dekat dengannya dibanding Clover adikku sendiri.
Mami:
Nar, sore nanti kita ketemuan bisa?
Kita ketemu di Senayan Park ya Nar.
Aku masih memikirkan apakah aku bisa bertemu dengan Mami dan Clover sore nanti. Sekarang polanya setiap weekend aku pasti diajak playdate bersama Clover. Fix aku benar-banar harus cari pacar agar ada alasan rutinitas di akhir pekan. Karena waktunya Gya sudah tidak sebebas dulu dan jangan harapkan waktunya Adit.
Karena siang ini cuacanya tidak terik aku mengayuh sepeda keluar komplek untuk mendatangi minimarket yang berada di sebrang jalan. Ada beberapa kebutuhan urgent yang harus kubeli salah satunya cemilan. Aku sudah bisa mengendarai sepeda. Suasana di Sydney membuatku berusaha berlatih sampai bisa dan sesampainya di Jakarta tentu saja aku langsung membeli sebuah sepeda lipat. Aku mempertimbangkan keadaan urgent seperti ini, masa hanya untuk ke depan komplek saja harus mengeluarkan mobil.
Sesampainya di minimarket tentu saja aku mengambil beberapa produk yang aku butuhkan. Menyusuri rak produk dan memilihnya dengan teknik yang sama seperti yang aku lakukan di Sydney. Sekarang aku merasa hidupku lebih baik karena ada hal baik yang aku bawa darisana dan kuterapkan untuk hidup disini.
"Dinar! Dinar ya?" panggil seseorang dari samping saat aku sedang mengamati harga produk.
"Oh Tante, iya Tante Lana." aku pun langsung mencium tangan Tante Lana Ibunya Adit.
"Yaampun Dinar, udah lama banget kita nggak ketemu. Tante kangen deh."
"Iya Tante, udah lama ya," aku pun bingung ingin menjawab apa, ini agak canggung.
"Kamu tinggal disini lagi? Atau nanti balik ke Sydney?"
"Udah balik sih Tante. Pulang kampung. Mau tinggal disini lagi."
"Wah, kok Tante baru tahu ya. Adit nggak ada cerita."
Aku hanya memberikan senyum tipis mendengar perkataan Tante Lana.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mom Is My Rival
ChickLitPunya ibu yang tak terlihat menua = tekanan batin. Mungkin itu rumus yang tepat untukku. Bayangkan saja di usianya yang sudah empat puluh lima tahun, Mami punya body goals perempuan milineal. Perut rata, tubuh proposional, kulit yang masih kencang d...
