"Lapor! Wall Rose telah diterobos!"
Semua mata terbelalak, namun beberapa saat kemudian beralih ke tempat dimana [Y/n] berdiri. Orang yang berdiri di samping raja kini kembali mengarahkan telunjuknya pada gadis kecil itu.
"Tangkap anak ini! Dia sudah bersekongkol untuk membuat konspirasi—"
"Tutup mulutmu! Ini bukan saatnya kau menuduhku ataupun membual tentang konspirasi!"
[Y/n] seketika meninggikan suaranya. Kali ini berbeda, maniknya seolah tersulut oleh amarah. Erwin sendiri terkejut, ia bahkan tidak tahu jika [Y/n] bisa bereaksi seperti ini.
"[Y-y/n]..."
"Diam! Biar aku saja yang bicara! Aku sudah muak dengan tingkah mereka." Tatapan nyalang itu kini ia lontarkan ke arah Erwin. Bahkan, saat ini gadis itu melepas semua formalitas dan menggunakan kata ganti "Aku" dibanding "Saya" seperti biasa.
Erwin tidak bisa berkata-kata lagi. Kemarahan gadis itu seolah membuat dirinya menjadi seseorang yang berbeda. Ini adalah kedua kalinya Erwin melihat [Y/n] 'mengamuk'. Pertama di ruangannya, dan yang kedua di ruang tahta.
Perbedaannya, waktu itu kemarahan [Y/n] dipengaruhi rasa kecewa dan kesedihannya. Namun kali ini, manik [E/c]nya menyiratkan rasa benci dan muak yang mendalam. Entah ada dendam apa dia dengan para parlemen di ruangan ini.
Tapi, biarkan saja. Ini adalah pertunjukan bagus yang tidak boleh ia lewatkan. Pertunjukan sekali seumur hidupnya.
"Dasar tidak punya otak! Diluar sana para penduduk sedang kesulitan, dan kalian... Kalian bukannya mengirimkan bala bantuan, tapi malah berdebat untuk menjatuhiku eksekusi?!"
Semua orang di ruangan itu dibuat menganga. Beberapa orang mulai bertatapan satu sama lain. Kilat keraguan mulai muncul di mata mereka.
"Benar, sekarang yang terpenting adalah nyawa penduduk sipil! Cepat evakuasi mereka ke dalam wall Sina!"
"Jangan! Jika kalian mengevakuasinya, maka populasi di dalam wall Sina akan meledak!"
"Kita tidak akan memiliki cukup pasokan makanan! Jika itu terjadi maka habislah kita!"
"Apa maksudmu?! Jadi kau lebih memilih untuk menutup mata demi kestabilan angka penduduk?! Sialan!"
"Hei, jaga bicaramu!"
Sahut-sahutan argumen terdengar begitu mengganggu. Yang tadinya mereka bersatu untuk memojokkan [Y/n] dan Erwin, kini menjadi terpecah belah. Di sisi lain, ada yang mementingkan nyawa sesama manusia. Dan di sisi lain mereka bertingkah serakah demi pasokan pangan.
"Baiklah, kalau begitu biarkan saja! Hidup kita lebih penting daripada para rakyat sipil."
"Aku juga tidak ingin kelaparan di masa yang akan datang karena kehadiran mereka."
"Benar, aku setuju. Biarkan saja mereka."
Benar-benar makhluk yang serakah. Erwin tersenyum getir mendengar keputusan yang telah diambil para parlemen 'terhormat' ini. Demi perut, nyawa ribuan umat manusia rela mereka korbankan.
"Hei, Pixis, tarik seluruh pasukanmu untuk berjaga di wall Si—"
"BRENGSEK!!"
Seruan [Y/n] membuat semua orang menganga. Bukan hanya kata yang tidak sopan, tapi sebuah tinju juga ia layangkan kepada seorang pejabat yang tadinya berdiri di samping raja.
Tentu saja ini membuat Erwin panik. Menampar salah seorang di ruangan itu sama sekali tidak ada dalam skenarionya. Pria pirang itu dengan sigap menarik [Y/n] sebelum gadis itu menghadiahkan tinjunya pada sang Raja. Jika itu terjadi, entah eksekusi seperti apa yang akan diterima oleh [Y/n].
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfikceCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)