"Kita tidak akan bisa menangkapnya."
Sejak tadi, kalimat itu selalu terngiang di kepala sang Commander. Keributan telah usai, dan sekarang pria itu telah dibawa— atau lebih tepatnya di tawan, oleh sekelompok Polisi Militer. Erwin dituduh sebagai dalang dibalik semua kejadian ini dan dituntut untuk memberikan klarifikasi kepada sang Raja.
Dengan kegagalan tersebut, terpatahlanlah sudah rumor yang mengatakan bahwa [Y/n] adalah seorang peramal yang ramalannya tidak pernah meleset. Sekaligus kalahnya gadis itu dengan taruhan yang mereka buat.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya, pria itu merasa tidak senang saat memenangkan taruhan. Alih-alih merasa senang, ia malah memikirkan tentang gadis itu. Dia mengakui, bahwa dia mengkhawatirkan keadaan cadet kecil tersebut.
'Bagaimana jika trauma [Y/n] mendadak kembali? Bagaimana jika sekarang dia merasa tertekan?'
Entah kenapa pria itu sekarang diliputi rasa bersalah. Jangan tanya kenapa, karena dia sendiri juga tidak tahu kenapa. Setelah lelah berperang dengan dirinya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk mengistirahatkan diri. Diredupkannya sebuah lampu minyak yang sedari tadi menerangi ruangannya dan bergegas kembali ke atas tempat tidurnya.
Begitulah pria itu menghabiskan malamnya. Malam yang begitu panjang, disertai dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.
*****
Pagi yang cerah, tapi suasana di markas Scouting legion tidak secerah cuaca pagi itu. Tampak disana semua orang memasang wajah lesu. Walaupun begitu, aktivitas mereka tidak terhambat. Semua itu terbukti dengan tetap diadakannya latihan rutin oleh para senior mereka pagi itu.
Matahari beranjak naik, diiringi dengan bel yang dibunyikan. Pertanda selesainya latihan pada hari itu. Kala itu, jam menunjukkan pukul 11 pagi.
Semua cadet yang tadinya berbaris dibawah terik matahari, kini perlahan membubarkan diri. Tentu saja untuk kembali ke dalam ruangan dan mengistirahatkan diri setelah latihan yang mereka lalui.
Tapi, ada satu prajurit yang sedari tadi bergeming di barisannya. Tidak peduli teman-temannya telah berhamburan, ia tetap berdiri di sana. Menunduk, dibawah teriknya mentari yang menerpa helaian [H/c] miliknya. Sontak, pemandangan itu mengundang rasa penasaran dari seorang pemuda bersurai brunette.
"[Y/n]?" Pria itu sesekali melambaikan tangan di depan wajah gadis itu. Namun tidak sedikitpun ia bergeming, bahkan, matanya tidak berkedip sama sekali.
Mikasa, gadis yang sedari tadi mengikuti Eren sekaligus teman sekamar [Y/n] ikut memanggil nama gadis itu. Namun sama saja, [Y/n] tidak merespon sama sekali. Dengan perlahan, gadis berambut hitam itu menepuk pelan pundak [Y/n].
"[Y/n], kau kenap—" ucapan Mikasa seketika terhenti ketika tubuh mungil itu mendadak tumbang ke arahnya. Dengan cepat, kedua tangannya berusaha menangkap gadis itu. Namun pergerakan Eren yang ada di sampingnya lebih cepat sehingga kini tubuh mungil [y/n] berada dalam dekapan pemuda tersebut.
"Suhu tubuhnya..." sejenak tedengar getar kecemasan dalam nada suara Eren. Ya, ia yakin, [Y/n] sekarang dalam kondisi yang tidak baik.
"Kita harus cepat membawanya masuk!" Eren terlihat cemas. Ekspresi wajahnya begitu khawatir tiap kali ia menatap wajah pucat [Y/n]. Gadis berambut hitam pekat itu mengangguk menuruti ucapan Eren.
Namun, sesuatu menghentikan pemuda itu. Dirasakannya sesuatu yang hangat mengalir membasahi seragamnya. Dengan gerakan waswas, Eren perlahan menundukkan kepalanya untuk mengecek. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kemejanya telah berlumuran darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)