[ Chapter 28 ] Negotiation

1K 140 4
                                        

"Halo, lama tidak berjumpa. Masih ingat denganku?"

Suara itu membuat suasana di dalam ruang bawah tanah semakin mencekam. Eren hampir saja menahan nafasnya kala melihat sosok perempuan yang menghadang mereka ini.

"[Y-y/n]? Bagaimana mungkin—"

"Astaga! Kau ini kemana saja?! Aku sangat merindukanmu!" Pekikan Hanji terdengar ceria, kontras dengan ucapan Armin yang sebelumnya terdengar gagap. Sebutlah wanita berkacamata ini tidak bisa membaca suasana.

Hanji menyelipkan badannya melewati ketiga junior yang berdiri di hadapannya. Tepat ketika ia hampir memeluk kadet kesayangannya itu, sebuah pedang bersarung diacungkan di depan wajahnya.

"Mundur." Suara [Y/n] begitu rendah. Berikut tatapan tajamnya yang berkilat memantulkan merahnya lidah api.

Hanji yang biasanya tidak bisa dihentikan itu seketika mengangkat kedua tangannya. Kakinya perlahan melangkah mundur, seiring dengan didorongnya sarung pedang itu pada salah satu pundaknya.

"Hei, tenanglah, aku tidak mengangkat senjataku, bukan? Kami datang kemari dengan cara damai."

Sebuah dengusan keluar dari bibir [Y/n]. Walau penerangan di ruangan itu minim, bisa dilihatnya bulir keringat dingin mulai menuruni sisi wajah Hanji.

"Oh, ya? Baiklah, kalau begitu aku juga akan memilih cara damai untuk menyelesaikan ini." Kalimat itu menggantung. Memberikannya jeda yang cukup untuk mengamati ekspresi keempat prajurit itu di bawah penerangan lampu pijar.

Pada satu titik, tatapan [Y/n] menajam. Dagunya kini terangkat, sembari memasang ekspresi yang mungkin saja baru pertama kali ini dilihat oleh mereka. Entah hilang kemana senyum hangat yang tadi ia pamerkan kala menyapa Eren dan teman-temannya.

"Tapi, jika ada satu saja yang berani mengangkat senjata di depan wajahku.... Maka jangan berharap kalian bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat."

*****

"Bagaimana keadaan di Siganshina?"

Raut cemas jelas terlihat di wajahnya. Tapi pemilik kekuatan Beast Titan ini berusaha menjaga intonasinya. Tubuhnya kini dipenuhi luka akibat pertarungannya dengan salah satu prajurit kebebasan di kawasan Wall Maria beberapa saat yang lalu.

Berthold yang juga ada di sana menggeleng. Sedari tadi, ia belum mendengar ada keributan di kawasan Siganshina. Lagi pula, Rainer ataupun [Y/n], diantara mereka tidak ada satupun yang memberikan sinyal atau kabar.

Zeke sendiri berniat untuk ikut menyusul ke Siganshina. Namun untuk sekarang, niatnya akan ia urungkan sampai luka-lukanya pulih. Rupanya, pertarungannya dengan si prajurit terkuat itu jauh lebih sulit dari yang dikiranya.

Syukurlah [Y/n] dan ramalannya berhasil memprediksi itu dengan akurat. Untuk berjaga-jaga, gadis itu juga meminta Pieck untuk ikut berjaga di garis depan. Andai saja [Y/n] tidak meralat rencananya kemarin malam, bisa saja Zeke sekarang tidak akan selamat.

"Lalu, bagaimana di garis depan?" Obrolan kini dibuka oleh Berthold. Yang lebih tua menghela nafas, ia bingung kabar seperti apa yang harus ia berikan.

"Tidak gagal, tapi juga tidak bisa disebut berhasil." Jawabnya singkat sehingga menimbulkan tanda tanya besar di kepala yang lebih muda.

Zeke kembali menghela nafasnya. Hanya dengan melihat ekspresi Berthold, ia mengerti bahwa pemuda itu kebingungan dengan ucapannya barusan.

"Begini, aku berhasil menjatuhkan sebagian besar prajurit mereka. Tapi beberapa yang kuat berhasil lolos." Tuturnya sembari melilitkan perban di salah satu lengannya.

Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang