Malam terasa berlalu begitu panjang bagi [Y/n]. Dia hampir tidak bisa tidur karena bayangan menakutkan selalu datang padanya saat matanya tertutup.
Orang-orang benar, seharusnya gadis lemah sepertinya hanya perlu bersembunyi dibalik dinding dan menunggu ajal datang. Pacuan ardrenalin yang sangat kuat tidak cocok bagi mentalnya.
Pagi itu, [Y/n] mendapati dirinya terbangun dengan kantong mata yang menghitam. Sudah bisa dipastikan dia tidak nyenyak dalam tidurnya.
"Ah, manisku, kau sudah bangun?"
[Y/n] refleks memutar badannya ke samping dan mendapati seorang wanita tengah menguncir rambutnya. Entah bodoh atau apa, [Y/n] baru teringat bahwa tadi malam dia tidur di ruangan Hanji.
Dengan kikuk, dia langsung menyibak selimutnya. Ia turun dari kasur dan berdiri tegak sembari memberikan salam prajurit pada Hanji. Melihat hal itu, Hanji sedikit terkekeh.
"Istirahatlah. Aku tahu kau masih merasa lelah, kan?" Hanji menghampiri gadis itu dan membuatnya kembali duduk di kasurnya.
"Tapi, bukankah hari ini ada latihan?" [Y/n] menatap bingung. Hanji mengangguk pelan.
"Saya harus bergegas, saya tidak ingin dimarahi jika saya terlambat nanti!" [Y/n] bergumam panik dan kembali berdiri. Kali ini, ia mencoba berlari keluar ruangan Hanji, namun tidak berhasil.
Wanita berambut coklat itu berhasil menangkap pergelangan tangan [Y/n] dan kembali menariknya. Dengan satu gerakan, Hanji berhasil membuat gadis itu kembali terduduk di atas kasur.
"Kami tahu kondisimu, jadi kau tidak perlu memaksakan diri. Erwin sudah berbaik hati memberimu keringanan, jadi kuharap kau bisa bersitirahat sepanjang hari." Ucap Hanji panjang lebar, membuat gadis bersurai [H/c] itu melongo mencerna kata-katanya.
"Oh, ya, tunggu disini. Aku akan mengambilkan sarapan untukmu." Hanji beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu. [Y/n] sedari tadi hanya bisa menuruti ucapan Hanji dan menatap kosong ketika sosok wanita berkuncir itu menghilang dibalik pintu.
Hanji benar, dia memang begitu kelelahan sampai-sampai kantuk segera menyerangnya sesaat setelah dia tidak melakukan aktivitas apapun. Karenanya, ia kembali membaringkan tubuh di kasur dan memejamkan mata.
Namun, tanpa disngkanya, memori mengerikan itu kembali menyerang benaknya.
*****
Seisi markas tidak habis pikir kenapa gadis yang satu ini benar-benar hampir gila setelah kepulangan mereka dari luar dinding. Beberapa diantara mereka mulai meragukan keteguhan hati gadis itu saat dia memilih masuk kedalam Scouting Legion.
Saat jeda latihan, Eren berpisah dengan teman-temannya dengan alasan ingin mengambil sesuatu di kamarnya. Namun, ditengah perjalan ia melihat [Y/n] duduk melamun di salah satu bangku taman di dekat bangunan utama markas mereka. Tanpa pikir panjang, Eren menghampiri gadis itu.
"[Y/n], kau tidak apa-apa?" Ucap Eren pelan agar gadis itu tidak terkejut karena kedatangannya. Hanya saja, lonjakan kecil yang ditimbulkan badan gadis itu menandakan bahwa niat baik pemuda itu sia-sia.
Alih-alih menjawab, [Y/n] hanya bisa tertawa datar dan tersenyum canggung kearah Eren.
"Apakah aku membuat kalian khawatir?"
Eren mengangguk tegas dan duduk di samping gadis itu dengan menyisakan cukup banyak jarak diantara mereka. Manik emeraldnya menghujam lurus kearah kilauan [E/c] pucat si gadis. [Y/n] terlihat membuang muka menghindari tatapan Eren.
"Apakah sebaiknya aku berhenti?" Gadis itu bergumam, namun cukup untuk didengar oleh Eren.
"Maksudmu?" Pemuda itu bertanya kebingungan dan hanya dibalas senyuman kosong oleh [Y/n].
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)