[Chapter 12] The Future

1.8K 260 11
                                        

"Gadis ini bisa melihat masa depan."

Tatapan yang tadinya menyiratkan rasa tidak suka kini berubah menjadi tatapan tidak percaya. Ruangan itu seketika riuh, obrolan-obrolan kecil bercampur menjadi satu.

"Tidak mungkin! Memangnya dia peramal?!" Salah satu parlemen yang hadir melayangkan telunjuknya ke arah [Y/n]. Gadis itu tersentak, kakinya terasa gemetar ketika tatapan tajam orang itu seolah mengulitinya habis-habisan.

"Tenangkan dirimu, lakukan saja apa yang sudah kita rencanakan beberapa waktu yang lalu." Bisikan Erwin mengalir begitu tenangnya. Sebuah tepukan pelan di pundaknya menjadi pendorong untuk [Y/n] maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

"Saya bukan peramal, tapi saya memang bisa melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang." Ucapan lantang dari gadis mungil itu membuat Erwin tersenyum puas.

Dari tempatnya berdiri sekarang, Erwin cukup kesal karena tidak bisa melihat seperti apa raut wajah sang gadis. Namun setidaknya, dari nada bicaranya sudah bisa dipastikan bahwa keberanian [Y/n] mulai bangkit.

"Buktikan! Kami tidak akan percaya sebelum kami melihat buktinya!" Orang-orang di ruangan itu kembali menyela. Tentu saja kabar ini sangat mengejutkan sehingga akal mereka tidak bisa menerimanya begitu saja.

"Kekacauan hari itu, semuanya, saya sudah mengetahuinya dengan begitu jelas." Ucapan [Y/n] menggantung, seolah dirinya memberikan penekanan di sepanjang jeda yang ia berikan. Itu semua terlihat jelas dari wajah-wajah yang seolah menahan nafas mereka.

"Tidak mungkin! Kau bisa saja membual dan mengarang semua cerita ini—"

"Tidak, semua itu benar. Andai saja gadis ini tidak memberitahuku, maka kami semua tidak akan membuat kekacauan dan kalian seharusnya sudah menjadi mayat sekarang." Ucapan Erwin seolah menjadi tamparan kuat. [Y/n] sedikit menoleh, dari ekor matanya ia bisa melihat raut tegas sang komandan.

"Jika kalian tidak percaya, maka mari kita buktikan. Hari ini aku membawanya karena ia memiliki 'ramalan' yang lain."

Seisi ruangan terdiam. Lagi-lagi, semua mata tertuju ke arah gadis bersurai [H/c] tersebut.

"Kalau begitu, katakan, apa ramalan yang dibawa anak ingusan ini?!"

Seluruh ruangan seketika hening. [Y/n] sejujurnya sudah gemetar. Andaikan tidak ada Erwin disana, bisa saja dia sudah pingsan sedari tadi.

"Kerajaan.... Tidak, seluruh keparlemenan dan tahta akan mengalami kudeta dalam waktu dekat."

Ucapan gadis itu membuat semua orang bungkam. Mata mereka menatap [Y/n] dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Baru saja [Y/n] ingin menarik nafasnya, namun beberapa prajurit yang berjaga di sana langsung menodongkan senapan ke arahnya. Erwin dengan sigap menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Manik birunya menatap nyalang ke sekeliling ruangan.

"Tangkap mereka! Mereka berdua mencoba melakukan propaganda di sini!" Seseorang yang berdiri di samping Raja kini melayangkan telunjuknya ke arah dua prajurit kebebasan yang ada di ruangan itu.

"Jika kalian berani maju selangkah saja ataupun menarik pelatuk kalian, maka itu artinya kalian sudah mengibarkan bendera perang melawanku!" Ucapan Erwin begitu tegas. Seluruh mata kembali terkunci pada sosoknya.

"Baiklah, turunkan senjata kalian." Pixis yang juga ada di ruangan itu akhirnya angkat bicara. Walau atmosfer masih terasa sesak, setidaknya perintahnya cukup untuk membuat beberpa prajurit itu menurunkan senjatanya.

"Sekarang, mari kita dengarkan apa alasan gadis muda ini mengatakan hal sebesar itu di hadapan Paduka Raja."

[Y/n] yang tadinya hampir meringkuk di dalam dekapan sang Komandan kini kembali berdiri tegak. Sebelum kembali berbicara, ia harus menenangkan dirinya sendiri. Bukan hal yang lucu jika suaranya nanti terdengar bergetar di hadapan orang sebanyak ini.

Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang