[ Chapter 30 ] Reoccured

950 147 11
                                        

Sial! Harusnya [Y/n] sudah kembali bersama rekannya dan membawa Eren ke Liberio.

Tapi, apa yang sekarang terjadi padanya? Memangnya berapa nyawa yang dimiliki Mikasa? Sungguh, [Y/n] tidak habis pikir bagaimana Mikasa bisa selamat setelah ditimpa reruntuhan barusan.

Sekali lagi, pedang mereka berdenting nyaring. Kali ini [Y/n] benar-benar terpojok. Mikasa berhasil memancingnya ke area terbuka dan menyerangnya secara membabi buta. Perempuan berjubah sayap kebebasan itu benar-benar tidak memberikan jeda sedikitpun untuk [Y/n] membalas serangannya.

Namun seberapapun Mikasa memojokkan [Y/n], sedikitpun tidak terlihat rasa panik atau tertekan dari ekspresi yang bermarga Reiss. Memang, di awal pertarungan tadi, [Y/n] sempat kehilangan ketenangannya dan tidak bisa fokus selama pertarungannya. Sebut saja ini karena ia masih terkejut dengan sosok Mikasa yang masih bisa berdiri dan menantangnya berduel.

"Apa rencanamu?" Mikasa berucap di sela-sela serangannya. Yang tanpa sengaja meninggalkan seringai tipis di wajah lawannya.

"Entah...? Kita lihat saja." [Y/n] menjawab.

[Y/n] sedikitpun tidak gentar. Ia tidak merasa terpojok walau mengetahui bahwa kekuatan mereka berbeda jauh. Ia sadar diri, lagipula [Y/n] tahu jelas betapa kuatnya orang-orang klan Ackerman.

Dan juga, senjata utamanya bukanlah pedang atau kekuatan. Melainkan otaknya.

Yang bermarga Reiss berkali-kali mensugesti dirinya untuk tetap tenang. Ia tahu Mikasa mencoba mengecohnya agar dirinya terfokus pada pertempuran mereka, bukan medannya. Tapi mustahil, apapun yang dilakukan Mikasa untuk memancingnya, semuanya sudah terbaca.

Membawanya keluar dari bangunan dan menghajarnya di area terbuka. Syukurlah [Y/n] memiliki respon yang bagus dan cukup lincah untuk menghindari serangan-serangan itu. Namun ada beberapa serangan yang memang tidak bisa ia tangkis ataupun hindari.

Kini kemeja putih yang ia pakai mulai berubah kemerahan. Kepalanya mulai pusing, tapi [Y/n] tetap memaksakan diri untuk bertarung. Tapi sayang, rupanya keputusan itu malah membuat [Y/n] semakin terpojok. Tapi sekali lagi, [Y/n] masih memiliki rencana cadangan. Walau Mikasa berhasil memukul mundur, bukan berarti ia akan menyerah.

Tepat ketika pedang Mikasa mengayun ke lehernya, [Y/n] menatap perempuan itu lamat sembari tersenyum misterius. Entah apa yang tersembunyi dibalik [E/c] itu, namun Mikasa langsung membeku di tempat ketika manik mereka bertemu. Di mata Mikasa, tatapan itu sama seperti ketika [Y/n] berhasil memancingnya masuk ke dalam jebakan beberapa saat yang lalu. Tatapan yang seolah memang memintanya melanjutkan serangannya, namun bukan berarti yang bermarga Reiss akan diam dan menerima hantaman pedangnya.

"Oh? Astaga, lihat! Apa yang ada di atas sana?" Suara [Y/n] terdengar ceria sembari menunjuk sesuatu di atas kepala Mikasa.

Mikasa tahu, ini tentu bukan lelucon belaka. Dan ketika ia mendongak, hanya kebingungan yang kini tumbuh di benaknya. Sebuah barel kayu melayang, sepertinya dilemparkan seseorang ke arah mereka.

"Bom?" Mikasa menerka, lagipula hanya itu kemungkinan yang bisa ia pikirkan.

Ditengah kebingungannya, tanah tempat mereka berpijak mulai berdentum. Mikasa kembali membeku ketika melihat sosok titan armor yang berlari ke arah mereka. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan badannya ketika raksasa itu mengambil [Y/n] dari hadapannya.

Pertarungan mereka kini telah berakhir tepat ketika barel kayu tadi meledak. Tapi, rupanya tebakan Mikasa keliru karena barel itu tidak membawa bom didalamnya.

Tetapi yang ada di dalam sana ialah Berthold, yang kini sudah merubah dirinya menjadi sosok raksasa.

*****

Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang