"Film yang bagus, bukan?"
Eren hampir saja berteriak ssesaat setelah terbangun dari mimpi buruknya. Detak jantungnya terasa berpacu cepat, berikut bulir-bulir dingin yang mulai menuruni pelipisnya. Pemuda itu merasakan kepalanya begitu berat.
"Eren? Ada apa?" Armin ikut terbangun karena mendengar tarikan nafas berat milik Eren.
Pemuda brunette itu menggeleng sebagai tanggapan. "Hanya mimpi buruk." Jawabnya singkat.
Mengabaikan teman sekamarnya itu, Eren perlahan bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu. Sebelum si pirang kembali menanyakan sesuatu, Eren sudah terlebih dahulu memutar badan sembari mengucapkan sesuatu yang membuat Armin diam membeku.
"Aku ingin keluar sebentar, jangan ikuti aku."
*****
Asrama para prajurit terasa begitu sunyi ketika malam tiba. Tentu saja itu karena para penghuninya telah terlelap sambil meringkup erat di bawah selimut mereka.
Begitu juga dengan Eren— tadinya, sebelum mimpi buruk tiba-tiba muncul merusak bunga tidurnya. Dengan langkah yang perlahan, pemuda itu menyusuri koridor dalam kesunyian. Namun tidak dengan isi kepalanya, begitu berisik sehingga sang empunya hampir gila karenanya.
Untuk semua itu, ucapkan terima kasih pada gadis yang kini masih meringkup di sel bawah tanah. Semenjak dua hari lalu, ketika Eren menemui gadis itu, mimpi buruk ini selalu datang padanya.
Namun, itu semua tidak seperti mimpi pada umumnya. Ini sama persis seperti apa yang terjadi padanya di hari itu. Hari dimana ia mencium punggung tangan Historia, dan mendadak ingatan para pendahulu pemilik kekuatan titan bermunculan di otaknya.
Bedanya, yang ia lihat ketika [Y/n] melakukan kontak padanya terasa sangat asing. Sangat mengerikan. Dimana ia melihat daratan yang sama sekali tidak diketahuinya dari ketinggian. Berikut orang-orang yang berteriak histeris di bawah kakinya.
Dan tentu saja, semua itu membuat Eren tidak bisa tidur dengan tenang.
Koridor yang suram kini telah berganti hamparan rumput yang luas. Tentu saja Eren tahu dimana tempat ini; lapangan kosong tempat mereka rutin berlatih.
Abai dengan udara dingin yang menghembusnya, pemuda itu berjalan di sekitar sana. Ia mencoba menjernihkan pikirannya. Agar sekembalinya ke kamar, ia bisa tertidur pulas hingga fajar menyapa.
Bersenandung, bergumam, hingga berbicara sendiri telah dilakukannya. Eren sudah seperti orang gila, terlebih ketika ia berbicara pada hembusan angin walau ia tahu tidak akan menerima tanggapan apapun.
Lidahnya begitu lancar ketika ia bercerita kesana kemari. Mulai dari ketidak sukaannya pada roti gandum yang ia santap setiap sarapan hingga bagaimana Eren selalu mengeluh ketika diberikan tugas membersihkan ventilasi asrama. Ia bercerita seolah-olah angin yang berhembus ke arahnya adalah sosok manusia yang dengan patuh mendengarkan curahan hatinya.
Hingga pada akhirnya, mulutnya tak sengaja menyebutkan nama [Y/n] dan terdiam seketika.
"Ah, dia selalu saja seperti itu— maksudku, dia selalu bersikap sok pemberani." Eren lanjut berbicara sendiri.
Kini di dalam kepalanya mendadak dipenuhi oleh gadis itu. Sosok kecil dan rapuh— setidaknya bagi Eren— yang akhir-akhir ini bersikap angkuh. Bahkan dari yang didengarnya, [Y/n] sampai mendesak Historia untuk mengadakan pengadilan bangsawan atas kasusnya.
Sebagai orang yang pernah diboyong ke pengadilan, Eren tentu tahu seberapa menakutkan ruangan itu. Ia bahkan masih ingat bagaimana Levi memukuli dan menendang wajahnya hingga babak belur. Dan sungguh, ia tidak ingin jika hal demikian juga terjadi pada rekan satu angkatannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)