Entah sudah berapa lama gadis itu terkurung di dalam ruangan tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali meringsut di tepi kasur sambil memeluk kedua lututnya.
Sebegitu tidak begunakah dirinya sehingga Erwin tega menjualnya ke tempat seperti ini?
Ya, tidak salah lagi, [Y/n] sudah yakin bahwa dirinya telah dijual ke tempat pelacuran oleh Commandernya sendiri.
Ah, rasanya gadis itu ingin mati saja. Tapi sejenak, ia kembali ingat apa yang membuatnya berada di dunia ini. Membuatnya terpaksa menjalani kehidupan kejam yang sangat tidak cocok untuk gadis kecil sepertinya.
Ia teringat akan tugas yang diemban di pundaknya.
Cklek.
Suara kunci dibuka tiba-tiba menyentakkannya. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran-gambaran laknat tentang hidup yang akan ditempuhnya beberapa saat setelah ini.
Membayangkan itu saja sudah cukup untuk membuat gadis itu ingin mengeluarkan seluruh sarapannya sekarang. Itu terlalu menjijikan, dia tidak sanggup mendapati dirinya yang kehilangan seluruh harga diri.
Ditutupnya kedua matanya rapat, tangannya menutup telinga dengan erat dan badannya merapat ke pojok tembok. Ia tidak berani melihat siapa yang akan masuk kedalam ruangannya. Ia tidak berani menerima kenyataan yang ada dihadapan matanya.
Walaupun telinganya sudah ditutup rapat, entah bagaimana caranya ia tetap bisa mendengarkan suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Suara kunci pintu, dan suara langkah berat yang perlahan mendekat padanya.
Badan [Y/n] mendadak bergetar hebat. Hawa dingin yang menusuk terasa membekukan kakinya, dan tak terasa air mata kembali lolos dari pelupuk matanya.
"Per.. gi..." Cicitnya pelan diiringi isakan yang perlahan semakin menjadi jadi.
Tap.
Langkah itu terdengar berhenti didepannya. Entahlah, pastinya tidak jauh dari tempat [Y/n] berada.
"Kumohon, pergilah!" Kali ini suara [Y/n] terdengar lebih nyaring.
"Oh, beberapa hari yang lalu kau membohongiku. Dan sekarang sudah berani mengusirku? Hebat sekali!" Suara baritone yang terdengar mengejek itu membuat [Y/n] terkejut bukan kepalang. Perlahan diturunkannya kedua tangannya dan membuka mata yang tadi tertutup rapat.
"C- Captain?!" Bisik [Y/n] dengan mata membulat sempurna menatap sosok dihadapannya.
'Captain menyelamatkanku! Dia pasti akan mengajakku kabur setelah ini!' Setidaknya itulah yang ada di pikiran [Y/n]. Gadis itu tersenyum bahagia sembari beranjak dan berniat memeluk Captain berwajah teflon yang mendadak datang bagaikan pahlawan kesiangan itu. Persetan, yang penting [Y/n] bisa pergi dari sana.
Ketika jarak mereka sudah begitu dekat, tiba-tiba saja Levi menatapnya tajam.
"Kenapa kau terlihat begitu senang? Kau pikir untuk apa aku ke tempat ini, huh?!"
Deg.
[Y/n] merasakan tubuhnya membeku, diiringi dengan jantungnya yang berdetak begitu lambat. Benar juga, tidak mungkin Levi datang menyelamatkan gadis tidak berguna sepertinya yang bahkan memiliki kesan pertama yang begitu buruk.
Manik [E/c] itu mendadak membulat sempurna ketika otaknya menangkap sebuah kemungkinan yang gila.
'Apakah Captain akan menjadi pelanggan pertamaku?'
Ah, apa yang ia pikirkan? Ini tidak mungkin!
[Y/n] berusaha menghilangkan pikiran-pikiran liar itu, namun sia-sia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)