[Chapter 14] Disassemble

1.7K 231 15
                                        

"Hah?! Kau serius?!"

Seruan tersebut diakhiri tawa yang melengking. Seorang wanita berkacamata terlihat memegangi perut sembari berusaha mengontrol gelak tawanya sendiri.

"[Y/n] kita sudah dewasa, baguslah. Aku bangga padamu, nak!" Hanji--nama wanita itu, yang sekarang tengah menyeka air mata imajinernya secara dramatis.

Cerita kecil dari Erwin membuat Hanji memasang raut wajah puas. Di dalam kepalanya, ia bahkan sudah puluhan--atau mungkin ratusan--kali membayangkan bagaimana cadet manisnya ini hampir melayangkan kepalan tangannya pada paduka Raja.

Kedua petinggi Scouting Legion ini sekarang saling melempar candaan satu sama lain. Entah candaan atau mungkin suatu konspirasi lagi, entahlah, otak mereka berdua sama saja.

Sementara itu, di pojok sofa panjang yang ditempati Erwin, [Y/n] terlihat meringkuk. Antara menahan malu dan ingin menangis. Lonjakan ardrenalinnya terlalu tinggi sehingga otaknya bahkan bingung memproses emosi apa yang harus ia rasakan saat ini.

"Astaga, manisku, jangan seperti ini~ Kau tidak melakukan kesalahan apapun, sungguh!" Entah sejak kapan wanita berkacamata itu berada di dekat [Y/n]. Gadis kecil 'kesayangannya' itu kini ia dekap erat-erat. Surai [H/c] sang gadis ia belai dengan penuh kasih sayang.

"Kau sudah seperti ibunya saja..." Erwin yang duduk tidak jauh dari mereka berceletuk pelan sembari meminum tehnya.

"Ah! Ide bagus!"

Buyar sudah. Teh yang tadi diseruputnya dengan khidmat kini harus rela ia semburkan. Sungguh, teriakan Hanji benar-benar bisa mengguncang dunia jika saja wanita itu mau.

"Apanya yang ide bagus? Apakah ada rencana baru?" Erwin berusaha menjaga wibawanya dengan menyeka sisa teh di sudut bibirnya.

"Bukan, bukan. Mulai sekarang aku akan menjadi ibunya [Y/n]!"

Erwin hanya bisa menghela nafas. Rasanya wanita yang satu ini benar-benar seperti kehilangan seluruh akal sehatnya saat ini. Itu berarti, selain tergila-gila dengan para Titan, Hanji juga mulai terobsesi dengan sosok [Y/n].

Sang komandan memijit pelipisnya pelan. Membahasnya hanya akan memperpanjang masalah, lebih baik ia kembali ke inti pembicaraan mereka.

"Oh, ya. Kami datang kemari bukan hanya ingin memberimu kabar barusan. Peramal kecil ini juga memiliki banyak pertanyaan untukmu." Manik biru itu melirik ke arah gadis kecil yang kini masih berada dalam 'pelukan' Hanji. Yang ditatap hanya mengerjap pelan.

"Y-ya... Itu benar. Saya masih tidak mengerti mengenai beberapa hal di sini..." Ia menggantungkan kalimatmya. Kepalanya mendongak, berusaha melakukan kontak mata dengan Hanji yang entah sampai kapan akan melepaskan pelukannya.

Wanita berkacamata itu terdiam sejenak. Baginya ini baru kali pertama ketika [Y/n] menatap matanya secara langsung.

"Oh, tentu saja, manisku~ Ayo, tanyakan semua yang tidak kau mengerti." Hanji tergesa-gesa menggeser tubuh [Y/n] dari pojokan sofa dan segera duduk di sampingnya.

Sedari awal, sofa yang [Y/n] duduki hanya bisa memuat dua orang. Erwin yang tadinya duduk di sofa yang sama, mau tidak mau harus berdiri dan merelakan dua perempuan itu memonopoli tempat. Lagi pula, sofa di ruangan itu tidak hanya satu, bukan?

"Uhm.... Saya tidak tahu harus memulainya dari mana..." [Y/n] menggantungkan kalimatnya. Sungguh, otaknya sendiri bahkan tidak tahu harus menanyakan apa terlebih dahulu. Semua yang terjadi, semua itu tidak ada yang ia mengerti satupun.

Erwin, yang sekarang duduk di sofa tunggal di seberang kedua perempuan itu seolah mengerti. Dehaman pelan keluar dari mulutnya, membuat Hanji dan [Y/n] mengalihkan atensinya pada sang komandan.

Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang