Gadis mungil itu melempar ranting yang tadi ia genggam. Kini guratan abstrak terlihat di permukaan tanah yang ia pijak.
Mengelilingi goresan di atas tanah, tiga lelaki yang juga ada disana mengerutkan alisnya. Beberapa saat yang lalu, satu-satunya perempuan dalam kelompok mereka ini baru saja menjabarkan rencana apa yang ada di otaknya.
Rencana dimana mereka akan menghentikan pasukan pengintai dan menculik Eren demi merebut kembali kekuatan Founding Titan. Goresan di atas tanah itu menjadi saksi sekaligus bukti sebetapa matang dan rumitnya rencana yang dibuat oleh putri angkat dari Uri Reiss ini.
"Tapi, [Y/n], bagaimana bisa kau seyakin ini bahwa mereka akan menuju Siganshina?" Berthold adalah orang pertama yang angkat suara.
Gadis itu menghela nafas. Melihat dari tatapan ketiga pria ini, ia sudah tahu bahwa tidak hanya Berthold yang memertanyakan itu.
"Bukankah kau sudah tahu? Aku bisa melihat masa depan." Ucap [Y/n] santai, membuat yang bertanya seketika menelan ludah.
Jawaban tersebut juga cukup untuk membuat Rainer merasa bulu kuduknya ikut berdiri. Sesaat, ia mulai berpikir bahwa rumor itu bukanlah sebuah candaan belaka.
Ditengah suasana yang tegang, sebuah tawa kecil keluar dari bibir [Y/n]. Ditatapnya wajah ketiga orang yang kini seolah kehilangan ekspresinya.
"Aku bercanda, sungguh. Apa kalian benar-benar percaya bahwa aku bisa melihat masa depan?"
"Tanyakan itu pada prajurit yang memberimu gelar peramal." Sahut Rainer pelan, namun cukup untuk didengar oleh [Y/n].
Gadis itu tersenyum tipis sembari mengendikkan bahu. Dia tidak peduli dengan itu. Lagipula, dikenal sebagai seorang Peramal sepertinya bukanlah hal yang buruk.
"Baiklah, itu berarti kita sudah harus memiliki persiapan matang." Zeke, si pria berkacamata langsung mengalihkan topik. Pernyataan tersebut langsung disambut dengan anggukan oleh [Y/n].
"Benar, dan aku juga tidak memiliki waktu untuk membuat rencana cadangan. Apapun yang terjadi, rencana ini harus berhasil." Imbuh [Y/n], dan untuk kesekian kalinya membuat ketiga orang yang ada di sana menautkan alis kebingungan.
"Memangnya berapa banyak waktu yang tersisa sampai mereka melakukan ekspedisi-"
"Satu malam."
Kalimat singkat itu memotong pertanyaan yang dilontarkan Rainer.
"[Y/n], apa maksudmu?" Berthold menimpali.
"Hanya satu malam. Aku berani bertaruh bahwa mereka akan mencapai Siganshina esok hari."
Semuanya kecuali si perempuan saling bertatapan. Sungguh, sedikitpun mereka tidak terbayangkan bahwa waktu mereka sesempit ini. Ditambah fakta bahwa beberapa saat yang lalu, [Y/n] sempat menyinggung bahwa para pasukan kebebasan itu kemungkinan akan membawa senjata baru dalam ekspedisi mereka.
Bukan tanpa alasan. Menurut [Y/n], setelah pertempuran antara pasukan pengintai dengan regu khusus Kepolisian Militer, bisa saja mereka tertarik dengan manuver aneh yang dipakai olehnya. Ditambah Historia yang sekarang menjadi seorang ratu, maka akses yang dimiliki pasukan pengintai untuk mengembangkam senjata yang serupa terbuka lebar.
Mereka tidak tahu pasti senjata macam apa yang dikembangkan di dalam tembok saat ini. Tapi gadis ini yakin, bahwa senjata tersebut adalah sebuah senjata jarak jauh. Dan jika pengembangnya adalah Hanji, maka ia berani mengatakan bahwa senjata baru itu akan memiliki daya serang yang tinggi. Ini tentu menjadi peringatan tersendiri bagi keempat orang ini.
Goresan abstrak di atas tanah langsung disapu bersih dengan sol sepatu si perempuan. Manik [E/c] miliknya kini neralih menatap ketiga pria ini secara bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)