Debat sengit antara anak dan sang ayah kembali terjadi di ruangan berlapis kristal ini.
Historia sedari awal tidak ingin menuruti titah sang ayah yang memaksanya menyuktikkan serum titan. Di sisi lain, Rod bersikeras agar putrinya ini kembali merebut kekuatan founding titan serta tahta kerajaan.
"Dimana rasa terima kasihmu?! Aku sudah menbiarkanmu hidup sampai sekarang. Jadi setidaknya balas budi pada ayahmu!" Teriakan itu tidak lagi membuat Historia gentar.
Jujur, ia sudah muak mendengar ancaman yang sedari tadi diulang-ulang oleh ayahnya. Merebut tahta, merebut kekuatan leluhurnya. Ia bahkan sudah hafal susunan kalimatnya.
Persetan.
"Lalu? Baiklah, aku berhutang budi untuk hal itu. Tapi tidakkah kau pernah mengurusku?!" Historia nyalang. Sorakan bergema di dalam hatinya setelah mengucapkan kalimat bantahan tadi.
Rod ternganga. Sedikitpun ia tidak menyangka akan menerima kalimat setajam itu dari mulut putrinya.
"Historia! Jaga mulutmu—"
"Kau yang jaga mulutmu!"
Ayah dan anaknya kini saling menunjuk. Amarah terlihat jelas di air wajah mereka berdua. Rod yang tidak ingin menyerah, dan Historia yang tidak mau kalah. Benar kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Terima kasih sudah menelantarkanku. Kau bilang aku sampah, bukan? Lalu kenapa kau memungutku kembali?!" Sarkasme gadis itu benar-benar menusuk tepat di ulu hati.
"Oh, benar... Ayahku ini seorang penakut." Kali ini nada bicara Historia sedikit mengejek. Rod yang mendengarnya langsung menatap bengis sang putri.
Kekerasan dalam rumah tangga: ketika ayah mencekik sang anak sambil mempelototi matanya. Jujur, Historia hampir tidak bisa bernafas. Tapi sekali lagi, ia tak mudah menyerah.
"Padahal k-kau sendiri bisa menjadi raja bukan? L-lalu... Ukh—"
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu?"
Historia terbatuk. Nafasnya hampir habis. Tanpa cermin pun, ia tahu bahwa wajahnya kini sudah mulai memucat pasi.
"Kenapa tidak kau saja... yang berubah m-menjadi... titan?"
Bruk.
Pria tadi dengan tidak sopannya menghempaskan tubuh Historia ke atas dinginnya lantai kristal. Gadis kecil itu sesekali terbatuk di sela-sela tarikan nafasnya.
"Historia! Jangan berbicara seenaknya!" Ancam Rod lagi.
"Hei, hei, gadis kecil ini benar. Dan tindakanmu barusan.... Ck... Ck... Ck..." Kenny dengan tubuh bersimbah darah masuk seenaknya ke tengah perdebatan sengit itu.
Rupanya sebelum kemari, Kenny terlibat pertempuran dengan para prajurit kebebasan itu. Tidak heran sekarang kemeja putihnya separuh berganti warna menjadi merah gelap.
Pria jakung ini membantu Historia berdiri sembari menarik gadis muda itu ke balik badannya. Tatapan matanya yang sesaat tertuju pada Historia seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi beda cerita kala manik kelam itu bertemu dengan sosok Rod Reiss yang berdiri sembari menatapnya Kenny murka. Agak menyebalkan sebenarnya, tapi Kenny berusaha menjaga ekspresinya tetap datar.
"Kau! Sekarang apa yang kau inginkan?!" Teriak Rod murka. Kenny dengan santainya melempar tawa datar.
"Uri saja memerlakukan [Y/n] jauh lebih baik dari ini. Dan, kau? Beginikah sikapmu pada darah dagingmu sendiri?"
"Jangan menceramahiku! Seharusnya kau sadar posisimu!"
Kenny mengusap wajahnya, meninggalkan jejak kemerahan yang terbawa oleh jemari. Ia tidak mengelak, ia sadar kini dirinya yang hanya sebagai tukang jagal berbicara dengan raja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)