Suasana pagi itu rasanya berbeda. Walau langit yang ditatapnya masih sama, tapi tempat dimana ia menatapnya jauh berbeda dari sebelumnya.
Di atas Wall Maria, bersama seonggok bara bekas api unggun. Tembok yang sama sekali belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Ia sungguh ingat bagaimana sulitnya ketika para pasukan pengintai menginvasi wilayah demi menuju tembok ini.
Tapi, beda cerita jika itu menggunakan kekuatan titan milik pria pirang berkacamata ini. Dari yang ia tahu, namanya adalah Zeke. Si pemegang kekuatan titan buas yang menurut [Y/n] mirip seperti monyet.
Perlahan, rasa takutnya dengan sosok raksasa berangsur hilang. Ucapkanlah terima kasih kepada tiga pria yang kini tengah bersenda gurau sembari menatap rona kemerahan fajar.
"Ini, untukmu."
[Y/n] menolehkan wajahnya ke arah Rainer yang menyodorkan secangkir teh padanya. Dan jangan tanya bagaimana cara tiga lelaki ini berkutat dengan api unggun sembari menyeduh teh.
Terima kasih digumamkannya pelan sembari menyesap teh antah berantah yang dibuatkan juga entah oleh siapa. Cukup pahit, tidak heran karena memang dibuatkan tanpa gula.
"Tidak lama lagi pasukan itu akan menuju kemari. Apa yang akan kita lakukan?"
Zeke, si yang paling tua membuka obrolan. Tiga yang lain kini terdiam, menampakkan raut wajah mengerut tanda berpikir.
"Aku ada di sini. Jika itu adalah pasukan pengintai, maka bukan hal sulit bagiku untuk membaca pergerakan mereka." [Y/n] kini mengangkat suara. Penuh percaya diri.
"Bagaimana kau bisa seyakin ini?" Berthold menimpali. Yang diragukan kalimatnya hanya memasang senyum tipis dan terkesan merendahkan— entah untuk siapa.
"Semenjak bergabung dengan Pasukan Pengintai, aku banyak bekerja dengan komandan Erwin. Jika seluruh pasukan tunduk dengan perintahnya, maka ini akan menjadi hal yang mudah." Ucap [Y/n] panjang lebar.
Bukannya tidak berdasar. Seperti yang ia katakan, bekerja sama dengan Erwin sedikit-banyak membuatnya mengerti seperti apa jalan pikiran si komandan. Dan jika ekspedisi mereka nantinya berdasarkan rencana Erwin, maka [Y/n] yakin pergerakan mereka akan tertebak dengan mudah.
Meletakkan tehnya yang setengah tandas, gadis bersurai [H/c] ini berdiri. Dilayangkan pandangnya jauh mengukir cakrawala fajar.
Tepat ketika semilir angin menerbangkan rambut sepunggungnya, gadis yang diketahui bermarga Reiss ini kembali mengukir senyum. Tapi kali ini, daripada senyuman, rasanya lebih tepat jika disebut sebagai seringaian.
Satu titik menjadi fokusnya. Kilatan menggelora benar-benar tercermin dari bias manik indahnya. Manik yang dulu begitu polos menatap dunia, kini sudah terselimuti kelabu dendam amarah.
Gumam pelan ia lantunkan, membuat ketiga lelaki yang ada di sana menoleh bingung. Entah rencana apa yang kini di susun gadis itu dalam kepalanya. Tapi satu hal yang pasti, gumaman gadis itu sedari tadi hanya mengulangi sebuah kata. Kata yang juga merupakan nama distrik terluar dari tembok pertama.
"Siganshina."
*****
Sudah lama waktu berlalu semenjak hari penobatan. Di dalam kastil, tepatnya di ruangan tahta, Historia Reiss begitu suntuk duduk di singgasananya.
Mahkota kini ada di puncak surainya. Tapi tetap saja, rasanya ia masih tidak bisa melakukan apa-apa. Kekacauan yang terjadi bahkan mereda bukan karena campur tangannya.
Helaan nafas terdengar, ia begitu bosan. Juga lelah mengemban beban di pundak serta pikirannya. Digenggamnya erat sepucuk surat yang ia ketahui diberikan oleh salah satu temannya, Ymir. Surat yang entah apa tujuannya, tapi satu yang pasti, pikirannya bertambah runyam karenanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)