[ Chapter 34 ] Unwanted

900 119 12
                                        

Cairan merah merembes keluar dari ujung jemarinya. Menghiraukan rasa sakit yang menyiksa sarafnya, [Y/n] menggeruskan jarinya sendiri hingga sebuah garis berwarna merah gelap terlukis di permukaan dinding.

Empat garis, tapi bukan berarti dirinya sudah berada di balik jeruji selama empat hari. [Y/n] hanya menghitung berapa kali ia terbangun dari tidurnya.

Dari yang ia dengar, sebentar lagi pihak kepolisian militer akan mengadakan sebuah pengadilan untuknya. Sebuah pengadilan terbuka dengan delik aduan yang menyatakan bahwa dirinya melakukan pengkhianatan dan percobaan kudeta.

Tapi itu tidak mengusik [Y/n] sama sekali. Kedua tuduhan itu seumpamanya pedang bermata dua baginya. Gadis ini bahkan sudah bisa menebak pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang akan dilontarkan padanya.

Dan tentu saja, [Y/n] sudah menyusun rencana untuk menyelamatkan dirinya.

*****

Hanji memijat pelipisnya. Semenjak keluar dari ruang rapat, kepalanya seakan ingin meledak. Para parlemen dan petinggi kepolisian militer telah mendesaknya agar menyerahkan [Y/n] untuk segera dilakukan interogasi.

Tentu saja Hanji menolaknya. Ia tahu seperapa mengerikan interogasi yang dimaksud oleh mereka. Terlebih ini mengarah kepada [Y/n]-nya. Orang yang dituduh— atau lebih tepatnya dilimpahi— atas seluruh bencana yang terjadi akhir-akhir ini.

Sekarang, komandan baru dari pasukan pengintai itu berjalan menuju ke ruang tahta. Seperti biasa, tanpa sopan santun ataupun formalitas, Hanji memasuki ruangan itu dan mengabaikan para polisi militer yang berjaga.

"Ah, Hanji-san— apakah rapat tadi telah usai?" Historia sedikit terkejut melihat kemunculan Hanji. Yang ditanya mengangguk, tapi wajahnya terlihat menekuk kesal.

Hanji kembali menatap ke sekelilingnya, sebelum kembali memusatkan atensi pada Historia. Dengan santainya, Hanji berceletuk;
"Bisa kau suruh mereka keluar sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu."

Historia sedikit kebingungan, namun pada akhirnya ia tetap mengiyakan dan menyuruh para prajurit yang berjaga untuk keluar sementara. Dan ketika para prajurit itu telah meninggalkan ruangan, Hanji langsung terduduk di salah satu anak tangga yang menopang singgasana. Helaan nafas berat terdengar, seolah wanita berkacamata ini tengah mengemban beban yang begitu berat di kedua pundaknya.

"Jadi... apa yang akan kita bicarakan?" Historia berujar cukup pelan. Sekali lagi, sebuah helaan nafas terdengar sebelum Hanji menjawab pertanyaannya.

"Kau tahu, kan? Para parlemen kembali mendesakku untuk memindahkan [Y/n] ke penjara Istana." Jawabnya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Historia.

Sang Ratu beranjak turun, dan ikut duduk di anak tangga bersama Hanji. Matanya menatap lamat ke arah wanita yang sekarang telah resmi menjadi komandan baru dari pasukan pengintai.

"Ya, saya tahu itu. Bahkan mereka juga mendesak saya untuk membuka pengadilan publik atas kasus ini."

Historia memfokuskan atensinya kepada Hanji. Wanita berkuncir itu terlihat menaikkan kacamatanya sambil memijat pangkal hidungnya. Dari sini, Historia bisa menebak bahwa si komandan ini memiliki jam tidur yang kacau. Itu semua tergambar jelas dari lingkar hitam di bawah kedua matanya.

"Tidak bisakah kita melakukan sesuatu? Maksudku, apakah ada cara agar kita bisa membebaskan [Y/n] dari semua tuduhan itu?" Ucap Hanji sambil melirik sosok sang Ratu yang beringsut di sampingnya.

Gadis pirang itu terdiam untuk beberapa saat. "Saya tidak tahu... tapi saya sendiri sedang memikirkannya. Bagaimanapun, [Y/n] adalah anggota keluarga saya." Ujarnya kemudian.

Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang