Siganshina kini menjadi medan pertempuran sengit. Ditambah dengan hadirnya dua sosok raksasa; Titan Kolosal dan Raksasa Berzirah di antara mereka.
Tembakan demi tembakan kini melesat, menghujani Rainer dengan misil yang sedikit demi sedikit membuat zirahnya mulai retak. Entah sudah berapa kali bunyi ledakan berdentum di distrik tersebut.
Dari kesimpulan yang Rainer ambil, senjata sejenis bazoka mini ini adalah senjata yang akhir-akhir ini dikembangkan oleh para pasukan kebebasan. Hal ini sejalan dengan prediksi [Y/n] yang menyebutkan bahwa senjata terbaru mereka adalah senjata dengan radius jarak jauh. Baguslah Rainer sudah menyiasati ini sebelumnya hingga masih bisa berdiri hingga saat ini.
Trang!
Satu lagi pedang yang patah ketika menghantam zirahnya. Saat ini tidak hanya Mikasa yang menyerangnya, tapi ada beberapa prajurit lain disana. Entah ia harus bersyukur atau tidak bahwa [Y/n] dibawa oleh Levi pergi dari sana. Sisi baiknya, gadis itu tidak harus ikut bertarung bersamanya. Tapi sisi buruknya, yang membawanya bukanlah orang yang berdiri di sisi mereka.
Ya, benar, ia bisa mengurus [Y/n] setelah ini. Yang harus dia lakukan saat ini adalah merebut Eren dan kembali menemui Zeke. Setelah ini barulah mereka akan mencari keberadaan gadis itu.
Blar!
Suara ledakan terdengar nyaring. Senjata baru itu rupanya memiliki daya serang lebih tinggi dari yang dibayangkannya. Ledakan tadi sukses mengenai tendon kakinya, membuat Rainer kehilangan kendali atas tubuh raksasanya. Tidak cukup sampai disana, kini misil itu mulai menghujan tubuhnya secara membabi buta.
Sungguh, pertarungan ini terasa berat sebelah. Rainer tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, tapi bukan berarti dia akan menyerah. [Y/n] menaruh harapan kepadanya, belum lagi janjinya untuk tetap kembali apapun yang akan terjadi.
Rainer membulatkan tekadnya. Kali ini, dirinya tidak boleh mengingkari janjinya lagi. Menang atau kalah, ia harus kembali bersama mereka.
*****
Entah sudah yang keberapa kalinya [Y/n] tersungkur, tapi bukan berarti ia tidak bisa bangkit lagi. Dengan kaki yang gemetar dan penglihatan yang mulai memburam, gadis itu kembali berdiri dan melayangkan tinjunya ke arah si manusia terkuat.
Tidak ada kalimat lain yang bisa menggambarkan tindakannya saat ini selain "Usaha yang sia-sia". Salahkan saja Levi yang selalu melontarkan kalimat provokatif padanya. Namun alih-alih melawan ataupun menangkis serangan [Y/n], pria undercut ini malah membiarkan tubuhnya menjadi samsak tinju.
"Aku tahu kau sedang menghinaku!" Teriak [Y/n] dengan suara yang parau. Baginya, tindakan Levi saat ini seolah-olah ingin menunjukkan bahwa serangan yang dilancarkan [Y/n] bukanlah apa-apa. Manik obsidian itu seolah berkata 'Seranganmu sangat lemah, aku bahkan tidak perlu menghindarinya.'
Tidak ada jawaban, Levi masih menatapnya datar tanpa menggeser posisi tubuhnya. Hingga akhirnya sebuah tamparan kembali melayang ke arah wajahnya.
Kali ini, Levi memutuskan untuk menangkap pergelangan tangannya. Alih-alih membalas serangannya, Levi lebih memilih untuk melepaskan jubahnya dan menyampirkan itu di bahu [Y/n].
"Tidak ada yang melarangmu untuk mengamuk sekarang. Lakukan sesuka hatimu." Suara itu berintonasi datar. Siapa lagi yang mengucapkannya jika bukan si korporal muda?
Bukannya apa, ia hanya tidak ingin bocah aneh ini mengamuk lagi ketika nanti ia membawanya kepada Erwin. Lebih baik dirinya yang menerima ledakan amarah dari [Y/n] daripada gadis ini mengucapkan hal yang tidak-tidak dihadapan orang yang sekarat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)