Ia terbangun di tempat yang sama. Gurun pasir dengan langit gelap laksana hanya ada malam di tempat tersebut.
Dan tentu saja, si perempuan pembuat istana pasir juga ada di sana.
"Sudah berapa lama kau terjebak di sini?"
"Dua ribu tahun...."
"Oh...."
[Y/n] mengakhiri sepihak obrolan singkat mereka. Di sebelahnya, Ymir Fritz mengais-ngais pasir dengan tatapan kosong.
"Berapa lama lagi kau akan terjebak di tempat ini?" Lagi-lagi [Y/n] bertanya asal.
Kini jeda kesunyian terasa begitu pekat. Hanya suara semilir angin dan desir pasir. Hingga pada suatu titik, dimana [Y/n] sudah menyerah menunggu jawaban dari si pembuat istana pasir.
"Oh, dan jangan campuri kehidupanku lagi."
Kalimat tadi seketika membuat Ymir terdiam. Tangannya yang tadi sibuk menempa pasir kini tertangkup di pangkuannya. "Kenapa?" Tanya perempuan itu.
[Y/n] menghela nafasnya sembari berdiri. Matanya tertuju ke arah pilar cahaya yang berdiri begitu megahnya. "Karena aku bukan keturunanmu. Bahkan Uri Reiss bukanlah ayahku, seharusnya kau sudah tahu tentang hal itu."
Entah karena tempatnya yang begitu sunyi sehingga [Y/n] bisa mendengar suara Ymir yang beranjak dari timpuhnya. [Y/n] bahkan bisa merasakan ketika perempuan bergaun lusuh itu berdiri di belakangnya.
"Tapi, darahku yang mengalir di dalam nadi mu."
[Y/n] tergelak, ia hampir tidak mempercayai apa yang kini didengarnya. "Aku hanyalah anak antah berantah yang ditelantarkan di hari berdo'a. Bagaimana mungkin aku memiliki darah yang sama denganmu?" Ucapnya, masih dengan intonasi yang tegas. Kini [Y/n] memutar tubuhnya, menghadap sosok perempuan yang setengah wajahnya tertutup bayangan rambutnya.
"Marga hanya dibawa oleh anak laki-laki. Tapi darah tidak memandang siapa pemiliknya."
Kini gadis itu tersadar. Keturunan [Y/n] tidak hanya orang-orang dengan marga Reiss ataupun Fritz seperti yang diketahuinya selama ini. Para anak perempuan yang beranjak dewasa, lalu menikah, maka perempuan tersebut akan merubah marganya.
Lengan dingin si pembuat istana pasir kini menyentuh pundaknya. [Y/n] tersentak, dan kembali membeku tatkala maniknya bertemu dengan kilau yang selama ini tersembunyi oleh bayangan. Entah ini adalah sebuah keajaiban atau Ymir memang bisa membagi kenangannya kepada orang-orang yang memiliki darahnya. Sekarang, [Y/n] bisa melihat dengan jelas kilas balik entah berapa ribu tahun sebelum kelahirannya.
Dan ketika [Y/n] melihat tiga anak perempuan dipaksa melahap jasad seorang wanita, perutnya mendadak mual.
"Hentikan! Aku tidak ingin melihat apapun! Berhenti menggangguku dan biarkan aku hidup dengan tenang!" Akhirnya [Y/n] menjerit kencang. Kepalanya seakan hampir pecah, namun perempuan di hadapannya ini seolah tidak mendengarkannya.
Hingga pada akhirnya, [Y/n] kembali melihat peristiwa tersebut. Dimana seorang perempuan diburu di tengah hutan. Ia tahu persis, karena sebelumnya, [Y/n] sendiri yang mengalaminya.
Jika sebelumnya ia yang berlari di dalam tubuh itu, kini [Y/n] menyaksikan dengan matanya bagaimana tubuh ringkih itu tergopoh kesana-kemari menghindari hujan anak panah. [Y/n] tidak mengerti apa yang diinginkan Ymir dengan memperlihatkan semua ini kepadanya.
Namun satu yang ia yakini. Sekarang, butiran pasir telah berubah menjadi ujung rerumputan yang menggelitik kakinya. Tidak salah lagi, ia telah kembali ke hutan tersebut. Hutan dimana Ymir (atau dirinya?) tenggelam di sebuah mata air di celah pohon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]
FanfictionCover by: @gincerman Terjebak didalam cinta segitiga? Itu sudah biasa. Bagaimana jika terjebak dalam cinta Persegi? Antara Aku, Kamu, Dia, dan Dirinya. SLOW UPDATE! ~~~~~ All Characters belongs to: Isayama Hajime-Sensei. And this fanfiction is min...
![Triangle Love? No, This Is Square! [Levi x Reader x Eren x Erwin]](https://img.wattpad.com/cover/88473467-64-k926428.jpg)