33

2.5K 27 8
                                        

Keluarga Kevin tengah dipenuhi kebahagiaan. Hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru itu terasa begitu sempurna. Namun tanpa mereka sadari, sepasang mata memandang dari kejauhan dengan tatapan sinis—penuh kebencian yang tersembunyi.

Saat salah satu perawat keluar dari kamar rawat Mala, ia memindahkan bayi itu ke dalam box bayi. Dari ujung lorong, seseorang memperhatikannya sambil tersenyum tipis. Tanpa suara, orang itu berjalan mengikuti langkah sang perawat.

Dengan langkah pelan, wanita itu memasuki sebuah ruangan yang telah disiapkan sebelumnya.

Ia membuka kain hitam yang membalut kepalanya, lalu melepas kacamata gelapnya agar dapat melihat lebih jelas bayi yang berada dalam gendongan suster.

"Lucu..." ucapnya lirih sambil mengelus kedua pipi bayi itu.

Tanpa banyak bicara, perawat tersebut langsung menyerahkan bayi itu kepadanya.

"Apa semuanya sudah siap?" tanya wanita itu dingin.

"Sudah, nyonya," jawab perawat dengan gugup.

"Mayat bayi?"

"Saya sudah mendapatkan bayi yang meninggal hari ini," jelas perawat itu pelan.

Wanita itu tersenyum puas.
"Kerja bagus."

Tanpa ragu, ia membawa bayi perempuan itu keluar dari ruangan dan meninggalkan rumah sakit.

Di dalam mobil, wanita itu terus menatap bayi yang sedang terlelap damai di pelukannya.

"Akan aku pastikan ibu dan anak itu mati," bisiknya tajam sambil menyeringai.

***

Di sisi lain rumah sakit, suasana berubah menjadi lautan duka.

Tangis Kevin pecah ketika dokter menyampaikan kabar yang menghancurkan segalanya—bayinya tidak bernapas.

Sebagai seorang ayah, Kevin segera menghampiri putri kecilnya. Ia menggendong tubuh mungil itu dengan tangan gemetar, menatap penuh harap, seolah menunggu keajaiban.

Ia berharap bayi itu menangis. Sekali saja.

Namun yang ada hanya keheningan.

"Anak perempuan bapak... sudah meninggal," ucap dokter pelan.

Jleb.

Kebahagiaan yang baru saja ia rasakan sebagai seorang ayah direnggut kembali di hari yang sama.

Kevin memeluk tubuh anaknya erat, seolah takut kehilangan untuk kedua kalinya. Tangisnya tak lagi tertahan.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus memberi tahu Mala. Istrinya belum mengetahui bahwa anak mereka telah tiada.

"Istriku pasti hancur..." lirih Kevin sambil terduduk di samping box bayi.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel dari sakunya.

"Mama..." tangisnya pecah begitu panggilan tersambung.

"Iya, Vin? Ada apa? Kenapa kamu menangis?" suara Rere terdengar panik dari seberang.

"Putriku, Ma..."

"Ada apa dengan cucu Mama?!"

"Meninggal, Ma..." suara Kevin melemah sebelum akhirnya ia menutup telepon, tak sanggup berkata lebih banyak.

***

Malam mulai turun.

Sebuah mobil berhenti di tempat pembuangan sampah yang kotor dan berbau menyengat. Sopir segera membuka pintu untuk wanita itu.

Ia turun sambil menggendong bayi tersebut, lalu membenarkan maskernya karena bau busuk menusuk indera penciumannya.

Tanpa ragu, ia berjalan ke tumpukan sampah dan meletakkan bayi itu begitu saja.

Wanita itu menatapnya sekilas... lalu berbalik pergi.

"Oek... oekk..."

Tangisan bayi memecah kesunyian malam.

"Nyonya... bayinya menangis," ujar sopir ragu.

"Biarkan saja," jawab wanita itu santai.

Namun tangisan itu semakin keras ketika pintu mobil terbuka. Ia mulai gelisah, takut seseorang mendengar.

Dengan kesal, wanita itu kembali mengambil bayi tersebut.

"Menyusahkan!" gerutunya.

Anehnya, bayi itu langsung diam begitu berada dalam gendongannya.

Wanita itu mendesah panjang.
"Pak, cari panti asuhan terdekat."

"Baik, nyonya."

Sesampainya di panti asuhan, ia hanya meletakkan bayi itu di depan pintu.

"Sepertinya ini bukan hari kematianmu," bisiknya dingin. "Tapi percayalah... masa depanmu hanya berisi penderitaan."

Ia berbalik dan masuk ke mobil. Kendaraan itu melaju meninggalkan tempat tersebut.

"Tinggal menunggu rencana kedua berhasil," ucapnya santai.

Ia lalu memberi perintah ke seseorang melalui telepon, suaranya tanpa emosi.

"Aku sudah membalas penderitaanmu selama ini, Nara."

"Hallo, sewa 50 pria dan perintahkan mereka untuk memperkosa mala sampai mati, sabotase kematiannya dan jangan lupa tinggalkan jejak seolah-olah rere yang melakukannya"

***

Mata Kevin sudah sembab. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia berubah menjadi mimpi buruk.

Ia bahkan belum memberi tahu Mala bahwa bayi mereka telah dimakamkan.

Kring... kring...

Ponselnya berdering.

"Halo?"

"Maaf, Pak... kami tidak bisa menyelamatkan istri Anda. Ia mengalami pendarahan hebat—"

Tut.

Kevin mematikan telepon sepihak.

Dunia terasa runtuh.

Dari kuburan anaknya... kini ia harus menerima kenyataan bahwa istrinya juga pergi.

Ia bergegas ke rumah sakit dengan hati berdebar tak karuan.

Dan di sana—Mala terbaring tak bernyawa.

Tangis Kevin pecah. Dalam satu hari, ia kehilangan dua orang yang paling ia cintai.

Tiba-tiba bayangan masa lalu tentang perbuatannya kepada Nara muncul di benaknya.

Karma... akhirnya datang.

***

"BAGAIMANA BISA ANAKKU MENINGGAL?!" bentak Mike murka di ruangannya.

Baru semalam ia mendapat kabar bahwa Mala akan melahirkan.

"Dari penyelidikan kami... kematian anak Tuan sudah direncanakan. Bahkan ibunya juga menjadi target."

"A-APA?!"

"Iya, Tuan. Kami tahu siapa dalangnya... maaf, kami terlambat."

"SIAPA?! AKAN AKU BUNUH DIA!"

Anak buahnya menelan ludah.

"Namanya Rere, Tuan... ibu dari Kevin sendiri."

"Bagaimana mungkin...?" suara Mike bergetar antara marah dan tak percaya.

Ruangan itu dipenuhi amarah yang membara.

"BUNUH DIA! JANGAN BIARKAN WANITA TUA ITU KABUR! BUAT DIA MERASAKAN PENDERITAAN YANG SAMA!"

***

Ending  yang kalian mau dan tunggu' kann setelah lama aku rehat akhirnya login akun ini lgi wkwk ternyata banyak komen yang sumpa serapahin author ya😭

Candu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang