19. Right Here

3.3K 444 84
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----

Giya menatap handphone yang tiba-tiba berdering dan menunjukkan nama Arsen di layar. Tapi belum sempat berpikir apapun, layar itu tiba-tiba mati yang berarti telepon dari Arsen pun terputus.

Perempuan itu menatap apartemennya yang bersih dengan piring-piring yang selesai dicuci berkat Chester yang tadi membantunya. Sahabatnya itu baru aja pulang dan Giya sekarang cuma bisa duduk sambil memainkan handphone dengan asal.

Lusa, ia harus kembali ke kantor. Berarti harus siap menerima pertanyaan dari Juli dan Wira yang pasti bingung dan juga harus mempersiapkan mental kalau sampai berpapasan dengan Arsen.

Lama melamun, tiba-tiba handphone Giya kembali berdering menunjukkan nama Arsen. Kali ini, panggilan itu terus berlangsung menunggu untuk diterima.

"Halo?" Tanya Giya pelan.

"Halo, malam. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Ini dengan Giya?"

Giya tanpa sadar mengangguk. "Iya, kenapa ya? Ini handphone Arsen kan?"

"Iya, betul. Kenal dengan Arsen berarti ya?"

"Hmm," gumam Giya. "Iya, kenal."

"Oke, saya Ben, dokter pribadi keluarga Danadyaksa."

"Oh, iya..." Jawab Giya bingung.

"Mbak Giya lagi ada urusan dengan Arsen, kah?"

"Memang kenapa ya?"

"Tadi saya lihat panggilan terakhir di handphone Arsen untuk Mbak Giya, mungkin Arsen tadi mau mengabari kalau dia lagi dirawat di rumah sakit, tapi sepertinya malah ketiduran karena efek obat penurun demam."

"....."

"Kalau Mbak Giya mau datang bisa kapan saja. Arsen di ruang Deluxe, nanti saya sampaikan ke perawat jaga kalau ada penunggu yang datang."

"Oh... Sakit apa ya?" Tanya Giya pelan.

"Kelelahanan, kurang darah, dan demam. Paling rawat inap dua hari cukup."

"Bisa kirim alamat rumah sakitnya?"

"Bisa. Nanti saya kirimkan lewat nomor Arsen ya."

Setelah basa-basi sedikit, Giya akhirnya mengakhiri sambungan telepon dan kemudian menghela napas.

Giya gak mau peduli. Tapi rasanya ia gak akan bisa tidur nyenyak sebelum memastikan kondisi Arsen.

"Siy, di rumah?"

"Akhirnya kakak gue inget adeknya."

Giya tersenyum kecil. "Iya, iya, sorry kemarin ngilang. Jadi lo udah di rumah belum?"

Siya menggeleng. "Gue pulang dari Bali langsung ke studio, Gi. Ini balik kayaknya lewat tengah malem. Mau gue jemput ke apartemen lo?"

"Jangan. Jemput gue di rumah sakit aja bisa?"

Today I Fudged UpCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang