Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----
Giya, 27 tahun.
"Mbak Giya? Belum pulang?"
Giya yang hari ini menggunakan celana kain berwarna hitam juga blazer krem langsung menoleh dan menggeleng. "Lagi nungguin jemputan, Pak."
"Yaudah, Bapak di dalem pos ya, Mbak?"
Giya mengangguk kecil pada Pak Bahri, satpam yang jaga malam di kantornya bekerja.
Rasanya, saking seringnya Giya pulang telat salah satu satpamnya itu jadi mengenal Giya dengan baik.
Tin! Tin!
Suara klakson motor mengalihkan Giya dari lamunan, laki-laki bermata sipit mirip dirinya menatap dari atas motor.
"Pak, Giya pulang dulu ya! Semangat jaganya, Pak!"
"Iya, Mbak! Hati-hati di jalan," jawab Pak Bahri ramah.
Giya tersenyum lebar sambil mengangguk sebagai jawaban. Tanpa butuh mengeluarkan kata-kata, laki-laki yang menunggunya di atas motor langsung menyodorkan helm SNI padanya.
"Udah?"
Giya kembali menyamankan posisi duduk sebelum akhirnya menjawab. "Udah, Siy!"
Si penjemput tadi namanya Siya. Adik kandung Giya yang cuma beda setahun jarak umurnya.
Giya dengar-dengar, orangtuanya gak sengaja punya Siya di jarak sedekat itu sama Giya, jadi ketika adiknya dilahirkan, ibunya memutuskan untuk mensterilkan rahimnya supaya gak ada lagi kejadian seperti Giya dan Siya.
"Udah sebulan ini lo lembur mulu deh," protes Siya sambil berteriak mencoba menerobos udara dan telinga Giya yang kadang rada-rada.
"Iya, nih! Kantor gue lagi lumayan sibuk gara-gara beberapa bulan lalu bos kita colapse lagi, jadinya gak ada yang mimpin."