34. One Hell of Week

3.7K 413 83
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----

"Ya..." lirih Arsen sambil mengetuk-ngetuk pelan pintu apartemen Giya.

"Ini udah tiga hari loh, Ya. Jangan gini, please. Aku mau lihat kamu..."

"Kamu makannya gimana? Aku belum pernah pergi dari sini lebih dari lima menit, Ya. Gimana caranya kamu beli makan?"

"Aku cuma bisa denger suara air dari wastafel dapur kamu, suara handphone kamu yang nyala karena aku telepon, dan suara kamu nangis hhh," lirih Arsen.

"How could you say that I don't love you? Kalau aku gak sayang sama kamu, aku gak akan balik sama kamu, aku mungkin udah kabur karena kamu hamil."

"Kamu juga tahu kan kalau aku seneng, Ya? Please don't doubt me."

"Kita mau nikah, Ya. Kita masih harus ambil cincin, fitting baju, lihat venue, sebaring undangan, dan bahkan kamu kan udah gak sabar mau full day perawatan. I can't do that all alone, Ya."

"Please bilang sama aku gimana keadaan kamu, Ya..."

"Giya, ngomong yuk? Jangan ditelen semuanya sendirian."

Arsen mengotak-atik handphonenya kemudian kembali menghubungi nomor Giya. Seperti biasa, ia bisa mendengar deringnya sayup-sayup, tapi kemudian telepon itu dimatikan tanpa diangkat terlebih dahulu.

"Ya, aku harus nunggu di depan pintu kamu berapa lama lagi?" Lirih Arsen yang kini merosot duduk di lantai.

"Ya... Padahal aku mau cerita kalau Mama dan Papa kamu udah gak marah. Malah sampai bilang ke aku kalau mereka juga sayang bayi kita," gumam Arsen bercerita.

Suara isakan tangis Giya lagi-lagi menjadi jawaban dari semua ucapannya sepanjang hari. Tapi Arsen tahu, kali ini Giya menangis di dekat pintu.

"Ya, buka yuk pintunya?"

"Bunda sama Ayah juga gak marah, Ya."

Arsen mengiris sakit hati mendengar tangis Giya yang semakin pilu.

"Aku gak tahu ada apa selama kamu pergi ke toilet waktu itu, Ya."

"Tapi aku gak pernah sedetikpun ngerasa gak sayang sama kamu dan bayi kita..."

"Kata siapa sih, Ya? Apa Mamanya Tania ngomong begitu sama kamu?"

Arsen mengerjapkan matanya beberapa kali dan mencoba menahan air mata. "Ya, jangan sakit karena itu."

"Aku udah pernah cobain rasanya percaya kata-kata beliau. Kamu tahu kan gimana rusaknya, Ya?"

"Semua ini terjadi karena aku, kamu, kita yang mau, Ya."

"Kamu kemarin tanya, apa Tania minta tolong sama aku juga? Aku jawab iya."

"Tapi aku tolak. Karena aku tahu, di umur aku waktu itu, sama siapapun itu, aku gak akan bisa, Ya."

Today I Fudged UpCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang