+ Happy Valentines

2.8K 218 12
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-----

Menikah dengan seorang Arsenal Danadyaksa tentu membuat Giya memahami banyak resiko yang harus ia terima.

Pernikahan mereka yang mewah dengan undangan ribuan juga membuat semua orang tahu siapa perempuan yang menjadi istri Arsen, si laki-laki yang kini menempati jabatan tinggi di perusahaan penerbitan milik keluarganya. Otomatis semua karyawan Danamedia yang mengenal Giya tahu bahwa perempuan yang dinikahi Arsen adalah seorang pegawai biasa di perusahaan.

Giya dan Arsen tahu, pasti di belakang mereka banyak yang akan bergosip mengenai hubungan mereka. Affair antara bos dan karyawan? Giya dari awal diterima karena memang orang dalam? Dan masih banyak lagi yang sejujurnya Arsen harap gak sampai ke telinga Giya.

Sayangnya dari semua pegawai Danamedia, cuma Juli dan Wira yang paham bagaimana hubungan Giya dan Arsen. Kedua perempuan itu mendapat keistimewaan mendengarkan cerita Giya dari sejak awal ia mengenal Arsen sampai mereka kembali bersama.

Karena minimnya orang yang mengerti hubungan mereka juga Giya sendiri yang merasa canggung kalau ia masih santai datang ke kantor, semenjak pernikahan mereka diumumkan Giya gak pernah lagi menginjakan kaki di gedung itu. 

Oh, tapi hari ini beda.

Giya menatap jam di handphone yang menunjukkan angka 11 lebih 45 menit dengan ragu. Di layar nampak nama Arsen tertulis besar seolah-olah menggoda Giya untuk mengikuti kata hatinya.

"Ah, telepon aja deh!" Pekik Giya pelan.

Cuma butuh menunggu dua kali nada sambung telepon itu langsung diangkat. "Kenapa, Yang?"

Giya menggigit bibirnya menahan senyum juga canggung yang menguasai.

"Lagi apa Pak Bos?"

Arsen terkekeh di sebrang telepon. "Baru minta bikinin kopi, kenapa? Bosen di rumah?"

"Hmm nggak juga sih," cicit Giya. "Sibuk gak hari ini?"

"Nggak. Perlu aku cepet pulang?"

"Gak juga," jawab Giya singkat.

"Terus mau apa? Kamu tiba-tiba craving?"

"Mungkin..." Jawab Giya pelan.

Arsen lagi-lagi terkekeh mendengar suara Giya. "Anak bayi pengen apa, Ya? Ini pertama kali kamu craving kan?"

"Iya..." Lirih Giya.

Berbanding terbalik dengan ultimatum Giya yang akan membalas Chester ketika ia hamil, sebenarnya perempuan itu menjalani kehamilan yang sangat santai. Giya gak pernah ngidam sampai rasanya ia yang kesal sendiri karena selain perutnya yang membesar gak ada keinginan-keinginan aneh yang menyertai.

"Gimana, Ya?"

"Hmm..."

Arsen menahan senyum di sebrang telepon. Laki-laki itu bisa membayangkan ekspresi ragu dan galau yang pasti sedang muncul di wajah Giya.

Today I Fudged UpCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang