29. She Knows

3.4K 433 119
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-----

Giya mencuri pandang pada Arsen yang mengemudi di sebelahnya sesekali.

Terhitung sejak tiga hari kemarin, Giya merasa ada yang beda dari Arsen. Laki-laki itu lebih banyak diam dan seolah melakukan rutinitas bersamanya sebagai formalitas.

Giya sendiri sengaja gak bertanya apa-apa pada Arsen, ia mau menunggu sampai laki-laki itu mau membuka mulut dan menjelaskan padanya.

Tapi mungkin kesabaran dan juga rasa penasaran Giya gak sekuat itu untuk bertahan. Sedari tadi sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, ia terus mencuri pandang sambil berpikir bagaimana caranya membuka obrolan.

"Arsen?"

"...."

"Arsen? Aku mau nanya," bujuk Giya yang menepuk paha Arsen.

"Kenapa, Gi?"

"We're good, right?" tanya Giya ragu.

Arsen mengangguk kecil sambil tetap fokus mengemudi. "Iya. Emang kenapa, Ya?"

"Beberapa hari ini aku kepikiran," cicit Giya.

"Kepikiran soal apa?"

"Soal kita, soal kamu," jawab Giya. "Setelah kita ketemu Tristan beberapa hari yang lalu, kamu jadi ngasih jarak sama aku."

"Jangan ngelak! Aku bisa ngerasain bedanya, Sen," sambar Giya cepat.

"Sebenernya gak mau kepikiran, tapi tetep aja aku ngerasa salah karena harus bikin kalian ketemu dan nurunin ego masing-masing karena posisi aku," cicit Giya.

Arsen memejamkan mata dan menghembuskan napas pelan. Dalam hati, ia sendiri merasa sakit hati karena Giya malah mementingkan perasaan para laki-laki brengsek seperti dirinya dan Tristan.

"Maksudnya, aku bisa lebih tegas aja, kan? Kita berdua udah janji mau bikin hubungan ini berhasil, harusnya gak susah buat aku pilih satu sisi aja."

"Kamu jangan salah paham ya, Sen? Aku bukan mentingin Tristan, aku cuma gak tega sama Tita."

"Sen? Ngomong sesuatu dong?"

Arsen menghela napas ketika melihat lampu merah menghentikan mobilnya.

Setelah rem tangan ia tarik, Arsen menatap Giya dan mengelus lembut pipi perempuan itu. "Pertama, maaf karena akhir-akhir ini aku banyak diem."

"Kedua, alasannya bukan karena salah kamu, Ya. Jangan khawatir, oke?"

Giya mengangguk. "Terus karena apa?"

Arsen tersenyum kecil sambil tetap menatap Giya. "Nanti aku ceritain abis kita makan malem, gimana?"

"Oke," lirih Giya kurang puas.

"Aku bener-bener gak bermaksud diemin kamu beberapa hari ini, Gi. Maaf ya?"

Today I Fudged UpCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang