33. Hard For Me

3.2K 406 145
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----

"

Udah, udah, gak apa-apa," lirih Giya sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.

Kakinya yang berpijak di lantai dingin kamar mandi ia hentak-hentakkan supaya tangisannya bisa segera mereda dan hatinya bisa sedikit lebih tenang.

Beberapa hari ini, semenjak bertemu orangtuanya, Giya memang merasakan perasaan sesak yang ia tahan, tapi kemudian hari ini tiba, dan respon orangtua Arsen pun gak jauh berbeda dari orangtuanya.

Sampai akhirnya hari ini Giya merasa pertahanannya perlahan-lahan melemah dan ia membiarkan dirinya menangis sendirian.

Giya ingat, terakhir ia menangis adalah saat ia dan Arsen masih berselisih paham dan Giya juga ingat kalau berbulan-bulan ini hidupnya luar biasa membahagiakan.

Tapi mungkin bahagia versinya belum tentu baik dan benar bagi orang lain.

Suara getar dari handphone mengalihkan perhatian Giya. Ia melihat nama Arsen tertera dalam notifikasinya.

Ya? Udah tidur? Cuma mau make sure kondisi kamu. Kalau udah, have a sweet dream. I love you, I really do. I love the little us too. Jangan sedih...

Giya menutup mulutnya yang mengeluarkan suara isak tangis setelah membaca pesan dari Arsen. Perasaannya campur aduk dan ia merasa buruk.

Merasa buruk karena Giya sempat merasa anaknya seharusnya hadir nanti di saat yang tepat.

"I do love you.." lirih Giya sambil mengelus perutnya.

"Maaf ya, situasinya gak menyenangkan buat kamu."

"Gak apa-apa kan? At least kita tahu ada yang sayang kita? Hmm?"

Giya akhirnya memilih untuk meraih handphonenya kembali dan mengetikkan balasan pada Arsen.

Ini mau tidur, Sen. Kamu juga cepet tidur! We love you too, Ayah.

Giya menghela napas dan menyeka air matanya untuk yang terakhir kali. Walaupun berat, Giya tahu dengan adanya Arsen ia akan bisa melewatinya dengan baik.

-----

"Kenapa mau ketemu di weekday gini, Gi?"

"Pengen nanyain sesuatu sih. Gak apa-apa kan, Tan?"

Tristan mengangguk kecil sebagai jawaban. "Boleh. Kalau bisa pasti gue jawab."

"Orangtuanya Tania itu gimana sih?"

"Emang kenapa?"

"Cuma mau tahu aja."

"Hmm... To the point aja ya? Orangtua Tania baik, makanya gue betah sahabatan sama dia dari kecil."

Today I Fudged UpCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang