ini chapter masih arin - zean ygy.
btw, ada yang kangen Arin-Lingga?
happy reading🤗
**********
"Zean, kenapa lo berubah?" tanya Arin.
"Karena, lo."
Jantung Arin berdesir hebat ketika mendengar hal tersebut. Apa benar Zean jadi seperti karenanya?
"Ze, please.., Lo jangan gini." Arin menjadi tidak enak.
Zean menunduk.
"Gue minta maaf soal semuanya, tapi kayaknya seribu maaf gak bakal lo terima." Zean menggenggam kedua tangan Arin.
"Ze..."
"Gue sadar, cuma lo tempat gue untuk pulang, cuma lo yang--"
Arin langsung melepas genggaman itu.
"Semuanya udah terlambat, Ze. Seharusnya lo dateng waktu gue belum buka hati ke Lingga. Kenapa sekarang?"
Zean mengusap wajahnya,"I know, tapi pertemuan kita waktu itu rasanya belum puas. Ada banyak hal yang harus di selesaikan."
"Soal apa?"
"Semuanya."
"Termasuk?"
Zean menarik napasnya,"Perasaan lo."
Arin langsung tertawa kecil."Gue udah nggak ada perasaan apa-apa sama lo."
Entah mengapa, dalam lubuk hati terdalam sana Arin menolak untuk mengatakan hal itu.
Zean mengangguk. Dia paham sekarang, kehadirannya saat itu adalah salah besar, dia saat menyesal kala mengingat sebuah kesempatan pada waktu itu yang telah ia sia-siakan. Memberi harapan kepada Arin, lalu mengecewakannya.
"Lo benci sama gue?" tanya Zean tiba-tiba.
"Kayaknya gak bisa, karena lo adalah cowok pertama yang bikin gue jatuh cinta," jawab Arin dalam hati.
"Benci,"
"Banget?"
"Apa sih, jangan di bahas."
"Oke,"
Hening sesaat.
"Ze, wajah lo masih sakit nggak?" tanya Arin.
"Sedikit,"
"Maaf ya, ini semua gara-gara gue. Gue ke bawah dulu."
Tangan Arin langsung di tahan oleh Zean. "Gak usah."
"Tapi--"
"Mau gue cium lagi?"
Sial, di saat seperti ini membuat Arin ingin menghilang saja. Dia menjadi malu ketika mengingat kejadian tadi.
"Gak usah di bahas."
"Hm."
Mereka berdua masih bersender di dinding kamar Arin dengan posisi duduk. Banyak yang mereka bicarakan hingga larut malam.
"Kalo di inget-inget, awal pertemuan kita lucu ya," celetuk Zean.
Sedari tadi obrolan mereka hanya bernostalgia pada saat SMP, awal mula bertemu, dan akhirnya berteman dengan baik hingga berpacaran.
"Lo inget aib gue mulu sih," kesal Arin kepada Zean karena ingat dengan kejadian yang memalukan itu.
"Makanya, kalo apa-apa liat kebelakang. Jangan asal gandeng tangan orang, HAHAHA." tawa itu pecah seketika membuat Arin ikut tertawa malu.
Memang pada saat SMP dulu, Arin pernah salah menggandeng tangan orang ketika ada karnaval di balaikota, mana yang di pegang orang gila lagi.
Arin kemudian menatap Zean dengan serius.
"Lo harus gini terus ya, Ze. Jangan pernah berubah, gue nggak mau lo jadi nggak baik karena gue. Please, mulai sekarang buang kebiasaan itu okay? Jangan merokok lagi,"
"Gue akan coba,"
Arin memberikan dua jempolnya ke arah Zean.
"Rin,"
"Apa?"
"Gue pengen kita berteman kayak dulu lagi. Sebagai dua orang teman lama yang pernah memiliki perasaan yang sama," tutur Zean.
Mata Arin langsung mendelik."Lo baca buku diary gue ya?"
"Maaf gue lancang, tapi makasih udah mendeskripsikan sosok gue sebaik itu."
"Sialan lo,"
Zean tersenyum mengejek."Ayolah katanya dulu mau jadi sahabat selamanya tak terpisahkan,"
"Tapi lo yang bikin kita seasing ini,"
"Kan sekarang enggak,"
"Dih." cibir Arin.
"Kita harus berdamai dengan perasaan sendiri juga masalalu."
"Berteman, tanpa melibatkan perasaan? Itu menarik, Ze."
*********
Sesudah sarapan pagi, Zean pamit kepada kedua orangtua Arin bergegas pulang.
"Hati - hati di jalan, nak. Tante, masuk dulu."
"Om juga, hati-hati."
"Terima kasih, Om, Tante, Kak."
Adya hanya tersenyum kemudian ikut masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka di halaman rumah.
"Gimana tidurnya, tan? Nyenyak?"
"Sana pulang," usir Arin.
"Mau gue kelonin lagi, gak?" goda Zean.
"Najis, sana pulang."
"Jangan kangen, tan."
"Dih, apaan. Gak bakal lah,"
Zean terkekeh,"Makasih udah rawat gue."
"Iyaa,"
Zean mengepalkan satu tangannya di depan Arin.
"Apaan?"
"Tos dulu,"
Arin tersenyum kecil, bertos ria dengan beberapa gerakan yang masih ia ingat.
"Gue balik ya,"
"Iya, sana."
"Bye, teman."
Arin melambaikan tangannya ke arah Zean yang sudah menjauh.
Dia tersenyum tipis, ternyata berdamai dengan perasaan sendiri dan masa lalu membuatnya setenang ini ya?
Melupakan masa lalu yang buruk, dan memulai masa depan dengan angin sejuk.
Berdamai dengan masa lalu mengajarkanku untuk mengikhlaskan semua yang telah lalu, menata kehidupan yang baru, di bawah langit biru untuk memeluk segala rindu yang pernah menghilang dari kalbu.
*********
alur"nya acak-acakan banget, sorry.
btw, aku gabisa bikin kata-kata. maaf kalo belepotan😭🤧
kalian lebih milih arin sm siapa?
Zean atau Lingga?
ayoo komen.
jgn lupa vote+ share ya!! see u beib😍🖤
btw follow ig: shauka.arnn16, oke?
KAMU SEDANG MEMBACA
For You, Ex! [END]
Teen Fiction[SEBAGIAN PART DI PRIVATE, FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA] JUDUL AWAL : Dear, Mantan! -Dari ku, untukmu- Maaf. Maaf untuk belum bisa melupakan perasaan ini. Maaf hingga kini aku masih mengharapkanmu kembali walau itu sangat mustahil terjadi...
![For You, Ex! [END]](https://img.wattpad.com/cover/264872686-64-k255641.jpg)