21. Sepaket Luka Dan Obatnya

345 63 3
                                        

kukira kau datang untuk mengobati luka,
tapi kau malah memperbesar luka.

-arinaya shauka.

*********

Tak pernah terlintas di pikiranku kalau semua akan mengalami kisah percintaan yang seperti ini. Akhirnya aku sadar, dia datang hanya bukan untuk mengobati luka tapi malah memperbesar luka yang telah ada.

Tapi, jika mencintainya saja bikin sakit, apalagi melupakannya?

Dia layaknya, sepaket luka dan obatnya. Semoga saja ini tidak akan lama, dan jangan sampai untuk selamanya, karena tak ingin terus - terusan seperti ini.

Pagi ini Kak Adya sudah pergi ke Yogyakarta untuk menetap di sana. Akhir - akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap kedua orangtuaku. Semoga tidak akan terjadi apa - apa.

Pada saat aku berangkat sekolah, mereka memandangku dengan aneh. Ada apa ini?

"Kalian kenapa sih?"

Oh ini yang jadi cewek yang adu domba sama SMA sebelah.

Cih dasar sok baik, ternyata muka dua!

Aku menghampiri Flara yang kini sedang mengobrol dengan teman di kelas.

"Fla, ini ada apa?"

"Bentar ya ges," Flara menggandengku untuk segera duduk.

"Lo harus kuat mental!"

"Apaan?"

"Katanya lo ngibarin bendera permusuhan sama SMA sebelah, dan lo tau? Siang ini jam setengah dua mereka bakal dateng ke sini,"

"Hah? Gue gak tau - tau apa,"

"Yakin? Bukannya lo bilang sekolah kita itu benci banget sama SMA sebelah, menurut gue lo ngelakuin hal gila sih," ujar Flara.

"Gila apanya? Gue nggak tau apa - apa, Fla. Lo jangan aneh - aneh!"

"Lo gak liat grup angkatan? Semua lagi pada ngomongin lo, gue sedikit gak percaya sih. Padahal nih ya, hubungan sekolah kita sama SMA sebelah  gak pernah kayak gini, dan lo malah buat keributan,"

Aku menatap Flara heran."Punya bukti apa lo nuduh gue kayak gitu?"

"Mereka sendiri yang bilang, dan lo tau? Gara - gara lo gue sama Virgo putus,"

"Apa masalahnya sama gue, tolong percaya sama gue,"

"Sorry, gue gak bisa," Flara kemudian meninggalkanku dan kembali ke tempat awal.

Aku bertanya kepada Lingga yang baru saja memasuki kelas.

"Ngga, gue boleh nanya ke lo?"

"Silahkan,"

"Lo tau kan berita yang  tersebar padahal sama sekali gak bener itu, kenapa pada nuduhnya gue?" tanyaku kepada Lingga.

"Jelas - jelas, gue gak tau apa - apa, Ngga. Terus buktinya apa? Gue pengen tau yang sebenarnya," sambungku.

Sudut bibir Lingga terangkat, tangannya masih berada di dalam saku.

For You, Ex! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang