🍃 22 - Istri Seorang Arkhana

480 107 35
                                    

22 - Istri Seorang Arkhana


Hal pertama yang akan mereka lakukan di hari pertama menikah adalah pindahan. Ini pertama kalinya Arkha masuk ke kamar kost Jihan untuk mengambil barang-barang gadis itu yang sebenarnya tidak begitu banyak, dimasukan ke mobilnya juga muat tanpa perlu menyewa jasa angkut barang.

Arkha mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamar ini sangat kecil, bahkan tidak ada setengahnya dari kamar si bungsu di rumah kakek, tapi kenapa Jihan nyaman sekali tinggal di sini? Begitulah kira-kira isi pikiran Arkha saat ini.

Lalu pandangannya beralih pada tumpukan barang di pojok kamar. Sebuah koper, satu buah ransel dan satu buah kardus yang entah isinya apa.

"Cuma segini barangnya?" tanya Arkha seraya berjalan menghampiri Jihan yang malah rebahan di atas kasur.

"Iya." Gadis itu menjawab tanpa membuka mata.

"Kamu masih ngantuk?"

"Enggak."

"Tapi kayanya iya."

Jihan membuka mata, menoleh pada Arkha yang kini tengah menatapnya. "Aku cuman menikmati waktu terakhirku di sini. Nanti sore 'kan udah pindah, gak bisa tidur lagi di sini."

Arkha manggut-manggut, mendudukan diri di tepian ranjang. "Bisa kok kalau kamu mau."

"Maksudnya?"

"Ya bisa kalau kamu masih mau nginep di sini nanti malam, tapi harus sama aku."

"Mana bisa, kasurnya 'kan cuma muat satu orang, Arkha."

"Dempetan aja," jawab Arkha enteng.

"Dikira ikan asin dempetan."

"Aku gak pernah lihat ikan asin dempetan tuh."

Delikan malas menjadi jawaban. "Makanya ke pasar!"

"Kalau bisa ke supermarket kenapa harus ke pasar?" sahut Arkha semakin menyebalkan.

"Kalau bisa dapat yang lebih enak dan murah kenapa harus nyari yang mahal?" balas Jihan tak ingin kalah. Arkha sampai terperangah mendegar jawaban itu. Tidak biasanya Jihan membalas ucapannya, tapi lihatlah sekarang, sepertinya gadis itu sudah bisa diajak berdebat.

"Wah, aku kayanya bakal kaya mendadak deh nikah sama kamu. Sikap hemat kamu benar-benar luar biasa." Kalimat sarkas yang membuat Jihan berdecak sebal.

"Gak usah ngeledek ya! Kamu udah kaya dari lahir pake sok bilang mendadak kaya."

Kekehan geli terdengar pelan. "Iya sih, kalau aku gak kaya mana mau kamu nikah sama aku."

Jihan yang tengah menatap langit-langit kamar perlahan melirik Arkha yang juga tengah mendongak.

"Gitu banget ngomongnya," ujarnya lirih namun masih terdengar jelas di telinga Arkha. Belum sempat Arkha bertanya, Jihan sudah lebih dulu bangkit dari kasur.

"Mau ke mana?"

"Nyiapin minum, lupa kamu gak disuguhi minum."

"Kan aku bukan tamu."

"Kan kamu suami aku."

Arkha melipat bibir menahan senyum yang siap mengembang setiap mendengar kata suami dari bibir Jihan. Ah, lemah sekali. Kenapa begini saja dirinya sudah bahagia?

"Maaf ya gak ada makanan, aku gak nyetok snack karena sibuk nyiapin buat pernikahan kita kemarin, gak mungkin juga aku pindahan sambil bawa banyak cemilan ke rumah kamu. Makanya aku gak beli lagi walaupun stok di kost tinggal dikit."

WGM 2 - (Bukan) Dijodohin -ft. ArkhaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang