40 - Pulang
Kondisi apartmen Arkha masih sama seperti pertama kali Jihan menginjakan kaki di sana. Bersih dan rapi.
Langkahnya ia bawa semakin dalam memasuki ruangan besar tersebut. Terdapat banyak barang di ruang tamu membuat Jihan mengigit bibir bawahnya gugup.
"Lapar belum, Ji?" Pertanyaan Arkha membuyarkan lamunannya.
Jihan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mau makan apa?" tanya Arkha lagi. Jihan terdiam sejenak sebelum balik bertanya.
"Kamu sendiri mau apa?"
"Aku sih lagi mau ayam goreng mentega kayanya enak deh."
"Ya udah." Jihan sudah berniat pergi ke dapur untuk mulai masak, tapi tangan Arkha menahannya.
"Aku aja yang masak," cegah Arkha.
"Hng?"
"Aku aja yang masak," ulangnya. "Kamu belum pernah coba masakanku 'kan?"
Melihat keraguan di wajah Jihan, Arkha terkekeh. Ia mendekat, mengacak rambut Jihan gemas. "Aku juga bisa masak, Jihan, Tenang aja. Mending sekarang kamu mandi dulu sana biar seger, aku mau nyiapin bahannya dulu." Ia menyimpan tasnya di sofa lalu pergi ke dapur untuk mulai memasak. Selama mereka menikah memang selalu Jihan yang mendapat tugas memasak. Tentu saja gadis itu belum pernah mencoba masakannya. Sangat wajar kalau Jihan meragukan kemampuannya.
Sedangkan di ruang tengah, Jihan malah mematung dibuatnya. Tangannya terulur menyentuh dada.
Enggak! Jangan lagi, tolong jangan menggila lagi.
Setelah beberapa minggu terakhir berdetak secara normal, kini jantungnya kembali berdebar tak karuan hanya karena sebuah usapan di kepala. Sebesar itu pengaruh Arkha terhadap jantungnya.
Jihan tidak munafik, ada perasaan meletup-letup di antara debaran hebat jantungnya yang membuat pipinya terasa hangat.
Sadar, Jihan sadar! Kita cuman kontrak!
Ia terus mengingatkan diri.
"Ji? Kok masih di sini?" Arkha kembali dengan celemek coklat sudah melekat menutupi tubuh bagian depannya.
Ah, pas sekali di tubuh tegapnya.
"Kamu perlu sesuatu?" tanyanya lagi.
Jihan gelagapan. Ia bingung harus bereaksi seperti apa saat mendapatkan perhatian-perhatian itu dari Arkha. Ini bukan sesuatu yang baru bagi Jihan, andai saja malam itu mereka tidak bertengkar semua perhatian ini akan terasa menyenangkan. Andai saja dua bulan yang lalu mereka tidak berpisah, keadaan mereka tidak akan secanggung ini.
"Arkha, kamu yakin mau masak?" Kalimat itu lah yang akhirnya keluar dari mulut Jihan.
"Iya."
"Aku bisa kok masak dulu sebelum mandi."
"Gak usah. Kamu mandi dulu--- atau istirahat dulu aja sana di kamar."
Tak enak menolak niat baik Arkha, Jihan pun menurut, masuk ke kamarnya untuk sekedar mandi dan istirahat, walau bagaimanapun perjalanan Garut-Jakarta cukup melelahkan.
***
Jihan terdiam di depan meja. Makanan di hadapannya bukan hanya nasi dan ayam mentega seperti yang Arkha janjikan tadi, ini lebih terlihat seperti orang syukuran, terlalu banyak, Jihan yakin mereka tidak akan sanggup menghabiskan semuanya.
"Kamu masak semua ini?" Bukan tanpa alasan Jihan bertanya demikian, setelah mandi tadi ia malah ketiduran dan baru bangun beberapa menit lalu. Salahkan saja Arkhana yang tidak membangunkannya tadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
WGM 2 - (Bukan) Dijodohin -ft. Arkha
Lãng mạnSelamat datang di We Got Married seri 2! WGM berisi tentang tiga lelaki dewasa yang enggan menjalin hubungan serius. Komitmen tentang berumah tangga adalah omong kosong belaka. Tak ada satupun dari mereka yang tertarik dengan itu. Tapi bagaimana ji...