🍃 27 - Si Kepo

385 95 4
                                    

27 - Si Kepo

Jihan itu penurut. Ia tidak mau ribet, tidak suka berdebat dan cenderung menghindari pertikaian. Tapi dibalik itu semua ada sisi lain yang jarang diketahui orang karena pribadinya yang tertutup, Jihan tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Kamu jadi pergi ke kafe pacarnya bang Yuta?" Arkha bertanya sebelum keluar dari apartmen.

"Gak tahu, gimana nanti aja."

"Ke sananya main aja, jangan sambil bantu-bantu nanti kamu capek."

Jihan merotasikan bola mata malas mendengar penuturan Arkha. Terdengar menggelikan sekali di telinga.

Lagi pula siapa juga yang berniat pergi ke Yuwin Kafe?

Tepat setelah mobil Arkha keluar dari gedung apartmen, saat itulah Jihan berbalik mengambil tas selempangnya. Ia tidak bisa menunggu sabtu untuk menuntaskan masalah dan rasa penasarannya. Ia harus pergi hari ini juga.

***

Setelah melewati perjalanan selama hampir empat jam karena macet di ibukota, Jihan akhirnya sampai di tempat tujuan.

Tangannya menggenggam erat selembar foto yang menjadi tujuan awal kedatangannya ke tempat ini.

"Kamu serius gak mau kakak temenin, Ji?" Yuta kembali bertanya entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Iya, kak Yuta. Aku bisa pergi sendiri. Makasih ya udah dianterin."

Yuta mengusap kepala Jihan gemas. "Pake bilang makasih segala kaya sama siapa aja."

Setelah merasa siap, Jihan segera turun dari mobil.

"Kalau udah selesai, kabarin aja ya nanti kakak jemput lagi ke sini." Jihan hanya mengangguk, melambaikan tangan mengiringi mobil Yuta yang mulai bergerak menjauh dari depan rumah sakit.

Di sini lah Jihan sekarang. Kembali menginjakan kaki di ruangan serba putih dengan aroma khas obat menusuk penciuman.

"Selamat siang, dokter Kun." Ia menyapa sopan saat dilihatnya sang dokter yang masih fokus pada lembar kertas di genggaman.

"Selamat siang, Jihan. Saya pikir kamu enggak jadi datang hari ini. Silahkan duduk." Dokter Kun menyimpan kertas yang tadi diperiksanya ke dalam map biru bersama dengan kertas lainnya lalu mengalihkan fokus sepenuhnya pada Jihan.

"Apa kabar, Jihan?" tanyanya ramah.

"Lumayan baik, Dok."

"Gimana perjalanan Jakarta - Bandung, lancar?" Pertanyaan basa-basi namun bisa membuat Jihan sedikit rileks mendengarnya.

"Lancar, Dok hanya sedikit macet sebelum masuk tol aja."

"Oh iya, saya dengar kamu udah konsul sama dokter Joy tapi berhenti di pertemuan pertama." Jihan hanya mengangguk. "Kenapa? Apa ada masalah?"

"Enggak ada, Dok. Saya hanya kurang nyaman menceritakan kehidupan pribadi saya pada orang baru. Apa tidak bisa kalau saya bercerita pada dokter Kun saja?"

"Tapi, Jihan--- itu salahsatu prosedur penanganan untuk kondisimu. Dan saya bukan ahli di bidang tersebut."

"Tapi dokter yang menangani operasi saya dulu."

"Justru itu, saya hanya dokter bedah bukan psikiater, saya tidak bisa menangani kamu dalam hal psikis."

Jihan menunduk gelisah. Ia hanya terlalu sulit untuk percaya pada orang baru. Terlalu sulit untuk bercerita apa lagi mengeluhkan keadaannya. Rasanya sangat aneh saat ia harus menceritakan apa yang ia rasakan pada dokter yang menanganinya kemarin.

WGM 2 - (Bukan) Dijodohin -ft. ArkhaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang