Epilog 3 - Arsya
Jika minggu lalu Arkha yang datang ke Bandung untuk kembali memohon restu pada Brian hingga kembali mendapat pukulan di wajah, hari ini gantian, Jihan yang datang ke mansion keluarga Derren untuk kembali bertemu kakek Jay.
Entah karena sudah mendapat cicit dari cucu sulungnya atau karena tak tega membuat Arkha terus menduda, pada akhirnya kakek harus kembali merestui si cucu kedua kembali menikah dengan mantan istrinya.
Ia bahkan merekomendasikan dokter spesialis untuk Jihan agar Jihan bisa ikut promil setelah menikah nanti. Tentunya tanpa paksaan.
Kakek Jay sudah tidak mengharapkan cicit dari Arkha, ia tidak mau mengambil resiko dan membahayakan keselamatan cucu menantunya nanti. Tapi karena Jihan juga menginginkan keturunan untuk Arkha, jadilah ia mengijinkan dengan syarat harus dengan pantauan dokter.
"Terimakasih, Kek. Maaf dulu pernah bikin kakek kecewa." Jihan menunduk dalam. Ia merasa bersalah karena pernah membohongi kakek Jay yang sudah banyak menolong keluarganya.
"Tidak apa, salah kakek juga karena menawarkan pernikahan itu dengan iming-iming uang dan perusahaan."
Keduanya kembali diam. Angin sore berhembus pelan menerbangkan helaian rambut Jihan.
"Kakek juga minta maaf karena sempat memisahkan kalian. Semua itu kakek lakukan semata-mata untuk kebaikan kita bersama."
Jihan mengangguk paham. "Aku ngerti kok, Kek."
"Kakek titip Arkha padamu ya? Dia itu dari kecil memang paling bandel dan paling banyak akal, tapi dia juga yang paling kesepian. Melihat dia yang menolak banyak gadis hanya demi satu perempuan yang sudah menjadi mantan istri, kakek sadar memang hanya kamu yang dia mau."
Kakek Jay menepuk pundak Jihan pelan. "Dia bahkan rela dipukuli ayahmu agar bisa mendapatkan restu untuk menikahimu lagi." Ia tertawa pelan, merasa lucu mengingat betapa gigihnya perjuangan Arkha kemarin.
Obrolan keduanya berakhir saat Arkha datang dengan segelas jus semangka lalu duduk di samping Jihan. Matanya menatap lurus kolam renang di depan sana, tapi kakek Jay tahu niat Arkha memang datang untuk mengakhiri obrolan mereka.
"Kakek masuk dulu. Kalian tinggalah di sini lebih lama biar kita bisa makan malam bersama nanti."
"Gak bisa." Arkha menjawab. "Aku udah janji mau bawa Jihan dinner malam ini."
Jihan menyikut Arkha pelan seraya berbisik. "Kita bisa dinner lain kali, Kha."
"Gak bisa sayang. Yang harusnya dijadwal ulang itu makan malam bareng kakek bukan makan malam bareng aku."
Jihan mengerjap kaget mendengar ucapan Arkha. Di sana masih ada kakek Jay tapi Arkha seolah sengaja ingin membuatnya malu dengan kembali memanggilnya sayang.
"Minum dulu jusnya sayang, aku sengaja bikin sendiri buat kamu, nih."
Dengan senyum kaku Jihan menerima gelas tersebut lalu menatap ragu pada kakek. Malu sekali rasanya dipanggil sayang di depan calon mertuanya.
"Baiklah kalau kalian tidak bisa ikut makan malam kali ini, kita bisa makan malam bersama lain kali. Kakek ke dalam dulu."
Setelah kakek masuk ke dalam rumah, Jihan segera menyimpan gelasnya di meja lalu menggeplak lengan Arkha gemas.
"Kamu sengaja ya mau bikin aku malu di depan kakek?!"
Tapi yang mendapat pukulan malah tertawa. "Iya, soalnya wajah kamu gampang merah kalau lagi malu. Kamu jadi tambah cantik."

KAMU SEDANG MEMBACA
WGM 2 - (Bukan) Dijodohin -ft. Arkha
RomanceSelamat datang di We Got Married seri 2! WGM berisi tentang tiga lelaki dewasa yang enggan menjalin hubungan serius. Komitmen tentang berumah tangga adalah omong kosong belaka. Tak ada satupun dari mereka yang tertarik dengan itu. Tapi bagaimana ji...